Distribusi Komoditas Pangan Lancar, Sumbar Deflasi -1,15 Persen di Januari 2026
  • Home
  • Berita
  • Distribusi Komoditas Pangan Lancar, Sumbar Deflasi -1,15 Persen di Januari 2026

Distribusi Komoditas Pangan Lancar, Sumbar Deflasi -1,15 Persen di Januari 2026

Image
Ilustrasi (Bank Indonesia)

PADANG- Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Sumatera Barat pada Januari 2026 mengalami deflasi -1,15 persen month to month (mtm). Deflasi tersebut lebih dalam dari wilayah lain yang sama-sama terdampak bencana seperti Aceh dan Sumatera Utara, bahkan terdalam secara nasional.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat Andy Setyo Biwado menjelaskan, deflasi tersebut didukung oleh semakin membaiknya pasokan ditopang oleh respon aktif pemerintah untuk mengakselerasi recovery dampak bencana.

“Di antaranya melalui perbaikan sarana transportasi/ distribusi serta kebijakan diskon tarif PDAM,” kata Andy melalui siaran pers yang diterima Senin (3/2/2026).

Andy menerangkan, lebih spesifik menurut kelompok komoditas pangan bergejolak atau volatile foods, deflasi didorong oleh penurunan harga komoditas hortikultura terutama cabai merah dan bawang merah.

“Penurunan Harga terjadi seiring normalisasi pasokan dari sentra produksi lokal serta masuknya pasokan dari Sumatera Utara dan Jawa,” terangnya.

Deflasi lebih dalam tertahan oleh berlanjutnya inflasi pada beberapa komoditas pangan seperti beras dan tomat. Hal itu dipengaruhi oleh faktor musiman serta terdampaknya sebagian lahan pertanian akibat bencana.

Sementara itu, kebijakan Pemerintah Kota Padang memberikan diskon 50 persen tarif PDAM memberikan sumbangan deflasi -0,12 persen. Sejalan itu, jalur transportasi yang berangsur normal membawa dampak penurunan tarif angkutan antar kota 17,22 persen (mtm) memberikan andil deflasi -0,05 persen.

Sedangkan di sisi lain menurut Andy, tekanan inflasi pada Januari 2026 terutama bersumber dari kenaikan harga emas perhiasan. Hal itu sejalan dengan tren kenaikan harga emas global di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

“Emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi terbesar secara bulanan dengan andil 0.13 persen diikuti oleh tomat, beras, ikan nila, dan ikan asin teri,” bebernya.

Secara spasial, seluruh kota dan kabupaten IHK di Sumatera Barat mengalami deflasi. Deflasi terdalam adalah di Kabupaten Pasaman Barat yang mencatatkan deflasi -1,84 persen (mtm). Kemudian Kota Padang mengalami deflasi -1,02 persen, Kabupaten Dharmasraya -0.92 persen, dan Kota Bukittinggi -0.73 persen (mtm).

Meski demikian, Andy menyebutkan, secara tahunan Provinsi Sumatera Barat pada Januari 2026 masih mengalami inflasi sebesar 3,92 persen year on year (yoy), di atas sasaran nasional. Hal itu dipengaruhi oleh faktor low-base effect terutama akibat penerapan diskon tarif listrik pada Januari dan Februari 2025.

Selain itu, inflasi tahunan didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan, kenaikan harga mobil sebagai dampak pemberlakuan opsen pajak dan bea balik nama kendaraan bermotor. Juga dipengaruhi oleh depresiasi nilai tukar Rupiah.

“Di sisi lain, harga komoditas pangan strategis seperti beras dan cabai rawit masih relatif tinggi meskipun telah menunjukkan tren perbaikan dibandingkan akhir 2025,” ujar Andy Setyo. F

Berita Terkait

Leave a Reply