
AGAM – Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat mengembangkan tanaman tembakau rendah nikotin. Varietas yang dikembangkan adalah Rodong Teleng.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Agam Yulnasri usai acara sosialisasi program tersebut, Rabu (1/6) di aula Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (Dipertahornak) Agam. Program yang dibiayai dengan dana bagi hasil cukai tembakau itu dimaksudkan untuk meningkatkan penghasilan petani di Agam, khususnya petani tembakau.
Kelompok Tani (Keltan) penerima bantuan program adalah Keltan Gobah Sakato, Pauah Saiyo, Jorong PGRM, Nagari Gadut, Kecamagtan Tilatang Kamang, Jaya Bersama, Solok Baruah, Salo, Kecamatan Baso; Dhalia, Koto Halalang, Lambah, Ampek Angkek; Aua Sarumpun, dan Pauah Saiyo, Sungai Pua, Nagari Sungai Pua, Palembayan; dan Keltan Karya Tani, Kampuang Tabu, Sipinang, Palembayan.
Menurut Yulnasri, varietas Rodong Teleng lebih tahan terhadap serangan hama. Di samping itu, varietas tersebut cocok dengan kondisi lahan petani tempat pengembangan tembakau tersebut. Kondisi demikian dinilai mampu meningkatkan penghasilan petani di kawasan pengembangan.
“Bantuan hanya berupa stimulan diharapkan petani mencari tambahan biaya untuk pengembangan tanaman tembakau tersebut, sehingga mampu mendapatkan luas kebun tembakau ideal,” ujarnya.
Dikatakannya, petani peserta program hanya dibantu per kelompok berupa bibit tembakau 20.000 batang, pupuk SP-36 180 kg, pupuk ZA 250 kg, urea 180 kg, pupik organik 2.500 kg, dan pestisida 6 kg. Di samping itu juga dibantu upah pematangan lahan Rp40.000/orang, setiap kelompok beranggotakan 20 orang.
“Masalah utama petani tembakau adalah pemasaran. Selama ini pemasaran dikuasai tengkulak. Ke depan kami akan mencarikan jalan keluar, sehingga petani tembakau tidak lagi dikuasai tengkulak dari luar daerah yang sangat merugikan itu,” ungkapnya.
Ditambahkannya, petani tembakau yang tergabung dalam kelompok penerima bantuan program akan diajak studi banding ke pabrik rokok besar yang ada di Indonesia. Namun, pabrik rokok tujuan studi banding belum ditetapkan.
Yulnasri menegaskan, sasaran program pembangunan pihak Dishutbun Agam saat ini adalah meningkatkan penghasilan petani, bukan hanya meningkatkan produksi. Peningkatan produksi bagaimana pun hebatnya, kalau penghasilan petani tidak meningkat, tidak ada artinya.
“Makanya, kami selalu berupaya melaksanakan program yang menguntungkan petani, seperti pengembangan kopi arabika, tebu dengan segenap inovasi produknya, kakao, kulit manis, dan kini tembakau rendah nikotin,” pungkasnya. (fajar)






