
BUKITTINGGI – Pedagang sebuah toko pakaian di Pasar Atas Bukittinggi, Sumatera Barat masih sempat ragu ketika pelanggan membayar belanjaan dengan menggunakan uang Rupiah desain baru Tahun Emisi (TE) 2016. Namun, setelah tahu siapa orang yang berbelanja di tokonya, barulah pedagang pakaian itu yakin bahwa uang yang digunakan adalah uang asli dan sudah berlaku.
Transaksi jual beli menggunakan uang Rupiah baru TE 2016 ini terjadi di Toko Erin Bordir, Pasar Atas Bukittinggi, Minggu (25/12) siang. Beberapa orang laki-laki memasuki toko tersebut dan mulai memilih beberapa lembar baju koko.
Setelah memilih dan memastikan pakaian yang pas ukuran dan warnanya, rombongan bapak-bapak tersebut mulai menawar. Harga disepakati, bapak-bapak yang pertama masuk ke toko merogoh uang yang tersusun rapi dari dalam saku. Ketika disodorkan, penjaga toko sedikit ragu menerima.
“Uang asli nggak, Pak? Laku nggak, Pak?,” demikian kira-kira ungkapan keraguan dari penjaga toko.
Setelah mengetahui siapa orang yang berbelanja ke tokonya penjaga toko tersebut langsung yakin bahwa uang yang diberikan untuk membayar adalah uang asli.
Rombongan bapak-bapak yang berbelanja tersebut adalah Deputi Gubernur Bank Indonesia Hendar bersama Kepala Regional BI wilayah I dan Wilayah III serta Kepala Perwakilan BI Wilayah Sumatera Barat Puji Atmoko. Aksi berbelanja tersebut dilakukan oleh Hendar adalah dalam rangka sosialisasi uang Rupiah TE 2016 yang baru saja diluncurkan pada 19 Desember 2016 lalu.
“Melalui berbelanja ini, kami ingin masyarakat segera mengenali uang Rupiah yang baru saja diluncurkan pengeluaran dan pengedarannya,” kata Hendar terkait kegiatan tersebut.
Dengan total belanja sebesar Rp500 ribu, Hendar dan rombongan membayarkan dengan 4 lembar uang kertas nominal Rp100 ribu, 1 lembar uang kertas pecahan Rp50 ribu, 1 lembar uang kertas pecahan Rp20 ribu, 4 lembar uang pecahan Rp10 ribu, 1 lembar uang pecahan Rp5 ribu, 2 lembar uang pecahan Rp2 ribu serta 1 lembar uang pecahan Rp1.000,-. Semua lembaran uang tersebut adalah uang Rupiah desain baru TE 2016 yang baru saja diresmikan peredarannya oleh Presiden RI Joko Widodo, pekan lalu.
Hendar menjelaskan, sosialisasi itu dilakukan secara serentak oleh Bank Indonesia melalui kantor perwakilannya di seluruh Indonesia. Pencetakan uang baru yang merupakan tugas Bank Indonesia sebagai amanat UU nomor 7 tahun 2011 menurut Hendar adalah dalam rangka menyediakan uang yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dalam jumlah dan pecahan yang cukup serta menjaga agar uang yang beredar di masyarakat tetap dalam kondisi layak edar.
“Unsur penting dalam pencetakan uang adalah keseragaman, unsur pengamanan dan unsur pemenuhan hak-hak disabilitas,” tegasnya.
Bank Indonesia, lanjutnya, akan melakukan pencetakan uang TE 2016 secara bertahap. Sementara itu, uang yang sudah beredar dari tahun emisi sebelumnya masih tetap berlaku, sampai ditetapkan untuk ditarik dari peredaran. Seluruh Kantor Perwakilan BI menyediakan uang Rupiah TE 2016 meskipun belum banyak.
“Secara bertahap, uang yang sudah beredar sebelumnya akan digantikan oleh uang terbaru. Ini untuk pengamanan sebab kalau satu desain uang terlalu lama beredar di masyarakat, akan semakin mudah untuk ditiru,” jelasnya.
Dia menambahkan, uang yang sudah dinyatakan tidak layak edar karena rusak akan ditarik dan dimusnahkan. Kemudian akan diganti dengan uang baru sesuai jumlah uang yang dimusnahkan sehingga uang yang beredar di masyarakat tetap dalam keadaan baik dan jumlah yang cukup.
Melalui sosialisasi itu, Hendar juga berpesan kepada masyarakat untuk memperlakukan uang Rupiah dengan baik. Masyarakat diminta jangan melipat, mencoret, meremas dan men-staples uang sehingga menjadi rusak serta menjaga agar uang tidak basah sehingga menjadi lusuh. (feb)






