PADANG – Pergerakan harga di Sumatera Barat pada bulan Oktober 2015 kembali mengalami deflasi melanjutkan bulan sebelumnya. Deflasi Indeks Harga Komoditas (IHK) Sumbar pada bulan Oktober 2015 tercatat sebesar -0,44 persen (month to month/ mtm), dengan tekanan lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar -0,51 persen (mtm).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Sumatera Barat Puji Atmoko, Jumat (6/11) menginformasikan, secara tahunan, inflasi Sumbar tercatat mereda dari 6,25 persen (year on year/ yoy) pada September 2015 menjadi 4,64 persen (yoy) pada Oktober 2015. Angka deflasi Sumbar bulan Oktober tersebut jauh berada dibawah deflasi nasional sebesar -0,08 persen (mtm).
Berdasarkan kota sampel inflasinya, deflasi Kota Padang sebesar -0,44 persen (mtm) dan di Kota Bukittinggi terjadi deflasi sebesar -0,40 persen (mtm). Melimpahnya beberapa komoditas bahan pangan masih menjadi faktor penyebab utama deflasi. Kelompok volatile food pada bulan Oktober 2015 mengalami deflasi yang cukup signifikan sebesar -2,22 persen (mtm). Daging ayam ras juga menunjukkan penurunan harga seiring dengan meningkatnya pasokan dari peternak.
“Pergerakan harga dari kelompok ini terutama disebabkan oleh penurunan harga komoditas cabai merah karena masuknya masa panen di beberapa daerah penghasil seperti Jawa dan Sumatera Utara,” kata Puji.
Selain kelompok volatile food, penurunan harga Elpiji 12 kg dan beberapa jenis BBM (solar dan pertalite) juga menjadi faktor penyebab terjadinya deflasi di Sumbar dari kelompok administered price.
Kendati inflasi tahun 2015 diprakirakan sangat rendah, namun tantangan pengendalian inflasi pada tahun 2016 tidaklah ringan dan perlu dimitigasi sejak dini, mengingat pola inflasi Sumbar yang sangat volatile. Setelah pada tahun 2014 Sumbar mengalami inflasi yang sangat tinggi, diprakirakan inflasi hingga akhir tahun 2015 sangat rendah dan dimungkinkan terjadi deflasi bila dalam 2 bulan terakhir inflasi bulanan Sumbar relatif rendah dan stabil.
Dalam 2 bulan terakhir, beberapa risiko tetap perlu diwaspadai terutama bersumber dari akselerasi transmisi pelemahan rupiah terhadap kenaikan harga-harga barang industri, serta dampak el nino yang intensitasnya cukup tinggi di beberapa daerah sentra produksi di Jawa yang masih berpotensi mengancam ketersediaan pasokan bahan pangan strategis yang dipasok dari daerah tersebut.
Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Barat perlu menjaga ketersediaan pasokan bahan pangan demi menjaga stabilitas harga. Rapat tingkat tinggi (high level meeting) TPID Provinsi Sumatera Barat menjadi salah satu upaya mengoordinasikan langkah-langkah strategis seluruh anggota TPID dalam mengantisipasi risiko laju inflasi yang masih akan terjadi menjelang berakhirnya tahun 2015.
TPID Provinsi Sumatera Barat juga mendorong agar segera diimplementasikannya penanda)tanganan MoU kerjasama antara TPID Kota Padang sebagai daerah konsumen dan kota sampel inflasi di Sumatera Barat, dengan TPID Kabupaten Solok sebagai daerah surplus komoditas beras, cabai merah dan bawang merah.
“Selain itu, koordinasi dengan pihak distributor maupun pedagang juga perlu dilakukan demi menjaga kestabilan harga dan pasokan sejumlah komoditas pangan strategis,” tutupnya. (feb)






