
PADANG – Triwulan II tahun 2020, ekonomi Sumatera Barat kontraksi pada level -4,91 persen (year on year/ yoy). Menurun dibandingkan triwulan I yang tumbuh pada level 3,90 persen.
Hal itu disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia wilayah Sumatera Barat Wahyu Purnama A melalui siaran pers yang diterima wartawan, Senin (21/9/2020). Menurut Wahyu, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat tercatat masih lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar -5,92 persen (yoy). Namun berada di bawah pertumbuhan ekonomi Sumatera yang juga kontraksi sebesar -3,01 persen (yoy).
“Kontraksi ekonomi Sumatera Barat terutama sebagai dampak dari pandemi Covid-19,” kata Wahyu.
Wahyu menerangkan, berdasarkan pengeluaran, pendorong kontraksi utamanya berasal dari konsumsi rumah tangga, net ekspor dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB). Sementara dari sisi lapangan usaha, kontraksi terutama berasal dari tiga sektor penopang utama ekonomi Sumatera Barat.
“Yaitu transportasi dan pergudangan (-2937 persen, yoy), sektor perdagangan besar – eceran (-3,32 persen, yoy) dan sektor konstruksi (-5,21 persen, yoy),” ujarnya.
Triwulan III Diprakirakan Membaik
Meski demikian, Wahyu memprakirakan pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat akan relatif membaik di triwulan III 2020. Pertumbuhan ekonomi terbatas dari sisi pengeluaran dipengaruhi oleh penerapan kebijakan adaptasi kebiasaan baru. “Diperkirakan akan mendorong konsumsi rumah tangga dan PMTB,” terangnya.
Sementara dari sisi lapangan usaha, perbaikan kinerja perekonomian terutama disebabkan oleh prakiraan perbaikan kinerja lapangan usaha transportasi dan pergudangan serta perdagangan besar dan eceran. “Perbaikan harga komoditas utama CPO dan karet di pasar global juga diprakirakan ikut mendorong lapangan usaha industri pengolahan,” lanjutnya.
Dia juga mengungkapkan peningkatan realisasi beanja dan pendapatan provinsi pada triwulan II meningkat, dibanding realisasi triwulan II 2019. Hal itu disebabkan penyesuaian anggaran yang dilakukan selama pandemi Covid-19. Secara persentase, realisasi anggaran triwulan II 2020 mencapai 53,55 persen atau sekitar Rp3,4 triliun. Lebih tinggi dibanding triwulan II 2019 yang hanya 48,41 persen.
Realisasi belanja triwulan II 2020 mencapai 44,45 persen atau senilai Rp2,95 triliun. Lebih tinggi dari tahun 2019 yang sebesar 31,38 persen. Sejalan dengan provinsi, realisasi pendapatan dan belanja pemerintah kabupaten dan kota juga mengalami peningkatan. (Febry/*)






