PADANG – Cabai merah kembali menjadi komoditas utama penyumbang inflasi di Sumatera Barat pada September 2016. Meningkatnya permintaan selama Idul Adha disertai gangguan pasokan menjadi pemicu inflasi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Sumatera Barat selaku Wakil Ketua Tim Koordinasi/ Tim Ahli pada Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) menyebutkan, lanju inflasi Sumatera Barat pada September 2016 berada di atas laju inflasi nasional. Dengan laju inflasi sebesar 0,64 persen (month to month/ mtm), Sumatera Barat berada pada posisi keempat dengan laju inflasi tertinggi secara nasional setelah Sumatera Utara, NAD dan RIAU. Meskipun demikian, inflasi pada September sudah turun dari inflasi pada Agustus 2016 yang sebesar 0,78 persen (mtm).
“Secara tahunan dan tahun berjalan, laju inflasi Sumatera Barat telah mencapai level cukup tinggi masing-masing 5,10 persen (year on year/ yoy) dan 3,17 persen (year to date/ ytd),” kata Puji Atmoko, Selasa (4/10).
Secara spasial, inflasi Sumatera Barat menurutnya disumbang oleh inflasi Kota Padang dan Bukittinggi. Kota Padang mencatatkan inflasi sebesar 0,58 persen (mtm) dan Kota Bukittinggi sebesar 1,11 persen (mtm). Inflasi tersebut menjadikan Kota Padang sebagai kota dengan laju inflasi tertinggi ke 15 dan Bukittinggi pada posisi ke 5 secara nasional.
Puji menerangkan, inflasi kelompok bahan pangan bergejolak tercatat sebesar 1,90 persen (mtm), meningkat dibandingkan dengan bulan Agustus 2016 yang hanya sebesar 1,75 persen (mtm). Kenaikan harga bahan pangan bergejolak disebabkan oleh meningkatnya permintaan masyarakat sebagai dampak momen Hari Raya Idul Adha dan terganggunya pasokan bahan pangan strategis yang berasal dari sentra produksi di luar Sumbar.
“Cabai merah kembali menjadi komoditas utama penyumbang inflasi di Sumbar. Tingginya curah hujan menjadi penyebab sejumlah sentra produksi cabai merah khususnya di Jawa mengalami gagal panen, sehingga mengakibatkan pasokan komoditas strategis tersebut menjadi berkurang,” jelasnya.
Sementara itu, kelompok barang yang diatur pemerintah (administered prices) mencatatkan inflasi sebesar 0,40 persen (mtm), meningkat signifikan dibandingkan bulan Agustus 2016 yang mengalami deflasi sebesar 0,59 persen (mtm). Kenaikan harga pada kelompok ini disumbang oleh kenaikan harga rokok baik rokok kretek, rokok kretek filter maupun rokok putih. Kelangkaan gas elpiji yang sempat terjadi di bulan September 2016, menambah tekanan inflasi pada kelompok ini.
Sedangkan inflasi kelompok inti tercatat hanya sebesar 0,07 persen (mtm), menurun signifikan dibandingkan bulan Agustus 2016 yang mencapai 0,96 persen (mtm). Kenaikan harga pada kelompok ini disumbang oleh kenaikan harga teri dan kontrak rumah. Gangguan cuaca menyebabkan nelayan sulit melaut sehingga pasokan teri menjadi berkurang. Sementara itu, kenaikan harga kontrak rumah merupakan dampak meningkatnya jumlah mahasiswa baru dari luar Padang seiring dengan dimulainya tahun ajaran baru.
Selanjutnya, tekanan inflasi ke depan diprakirakan masih akan meningkat, terutama disumbang oleh kelompok bahan pangan bergejolak. Tekanan inflasi ke depan diprakirakan berasal dari kenaikan harga bahan pangan seiring dengan prakiraan cuaca BMKG terkait tingkat curah hujan pada level menengah hingga tinggi, baik di wilayah Sumbar maupun di Jawa.
“Dengan demikian akan berpotensi terhadap tingkat keberhasilan panen komoditas pangan strategis, termasuk masa tanam padi dan proses penjemuran gabah,” lanjutnya.
Dari sisi kelompok barang yang diatur pemerintah (administered price), terdapat kemungkinan pedagang untuk menaikkan harga rokok eceran sebagai dampak dari pemerintah yang telah menaikkan tarif cukai rokok. Sementara itu, tekanan dari kelompok inti diprakirakan sedikit meningkat seiring dengan perbaikan daya beli masyarakat.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan beras di masyarakat, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumbar melalui BULOG Sumbar mengintensifkan pelaksanaan operasi pasar beras. Selama bulan September 2016, BULOG Sumbar telah melaksanakan operasi pasar beras sebanyak 533 ton yang tersebar di beberapa pasar di Kota Padang antara lain Pasar Raya, Pasar Siteba, Pasar Alai, Pasar Lubuk Buaya, dan Pasar Bandar Buat serta beberapa kios binaan BULOG.
Operasi pasar ini direncanakan masih akan terus dilanjutkan dalam rangka menstabilkan harga beras, sebagai salah satu komoditas penyumbang inflasi di Sumbar. TPID Provinsi Sumatera Barat selalu berupaya mengendalikan inflasi pada tingkat yang rendah dan stabil. Selain melalui penguatan koordinasi dengan berbagai pihak, TPID Sumbar turut melaksanakan kegiatan yang dapat memperkaya kemampuan analisis tim teknis TPID yang salah satunya dilakukan melalui kegiatan technical assistance bagi seluruh TPID se-Provinsi Sumbar.
Kegiatan yang telah digelar pada tanggal 6 September 2016 tersebut merupakan program kerja rutin tahunan TPID Provinsi Sumbar, yang bertujuan untuk meningkatkan inovasi dan mempertajam analisa dalam upaya mengendalikan inflasi di Sumbar. Beberapa topik yang dibahas dalam kegiatan tersebut antara lain perhitungan neraca pangan, sharing kisah sukses TPID Kota Padang dan early warning system inflasi yang diharapkan dapat diimplementasikan oleh masing-masing TPID untuk memetakan komoditas yang memiliki risiko inflasi tinggi. (feb/*)






