0
PADANG – Meskipun tidak berlatar belakang politik, Budiman, SSi, MA, MH akhirnya memantapkan diri berkecimpung ke kancah politik untuk perjuangan umat. Jalur politik merupakan satu pilihan untuk berjuang di negara demokrasi.
Motivasi perjuangannya di jalur politik mulai tumbuh ketika jutaan umat Islam menggelar aksi ke Jakarta atau dikenal dengan gerakan 212 mendemo Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahja Purnama atau Ahok. Umat Islam mendemo Ahok karena kasus penistaan agama pada saat pemilihan gubernur DKI pada 2016 lalu.
“Berangkat dari semangat ini, akhirnya saya sadar, salah satu jalur yang bisa memperjuangkan umat adalah melalui jalur politik sehingga akhirnya saya memutuskan masuk ke kancah politik,” kata Budiman dalam perbincangan dengan sejumlah wartawan di kediamannya, Jumat (11/4/2019) sore.
Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengaku mendapat pelajaran yang banyak dari pengalamannya menjadi bagian dari gerakan 212. Pada dasarnya, dia melihat suara-suara masyarakat belum sepenuhnya didengar dan diakomodir oleh para pemangku kepentingan karena wakilnya di legislatif kurang respon.
“Ini salah satu motivasi saya akhirnya memilih masuk ke jalur politik, untuk lebih keras menyuarakan aspirasi masyarakat, memperjuangkan kepentingan umat,” ujarnya.
Budiman mengakui, Gerakan 212 telah mengubah sudut pandangnya terhadap politik. Tanpa perjuangan di parlemen, aspirasi umat tidak akan terakomodir dengan baik.
Dia menceritakan, keinginan untuk terjun ke dunia politik tidak dengan serta merta. Keputusan itu diambil setelah melakukan diskusi panjang dengan sesama alumni ITB dari seluruh Indonesia. Sebetulnya, grup alumni ITB secara resmi tidak ingin berkecimpung di dunia politik.
“Namun secara person, alumni ITB yang tertarik ke politik akhirnya bergabung dalam satu grup terpisah dan mulai berdiskusi,” paparnya.
Melalui diskusi-diskusi tersebut, singkat kata, Budiman akhirnya memantapkan diri masuk ke kancah politik. Setelah mempertimbangkan beberapa partai berbasis Islam, pilihannya jatuh ke Partai Bulan Bintang (PBB) untuk mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sumatera Barat dari Daerah Pemilihan 1 (Kota Padang).
Dia menggarisbawahi, meskipun untuk pemilihan presiden dan wakil presiden (Pilpres) tahun 2019, Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra memberikan dukungan kepada pasangan calon nomor urut 01, namun hal itu tidak mengikat kepada kader. Bahkan dia sendiri mengaku sebagai bagian dari Badan Pemenangan Daerah pasangan calon nomor urut 02 daerah Sumatera Barat.
“Perbedaan pilihan untuk pilpres ini juga sudah didiskusikan dengan Ketum dan tidak ada masalah karena PBB sebetulnya bukan parpol pengusung,” bebernya.
Meskipun sadar sebagai orang baru di dunia politik, namun Budiman memiliki segudang pengalaman sebagai modal kalau terpilih menjadi wakil rakyat. Sekian lama berkecimpung dalam dunia bisnis membuat dia matang. Selain itu, dia juga memiliki latar belakang pendidikan S2 Keagamaan dan Hukum.
Sedikit menyinggung trik berkampanye, Budiman menegaskan tidak pernah menyampaikan kepada konstituen untuk memilihnya. Dia hanya memberikan pandangan dan masyarakatlah yang akan mempertimbangkan.
“Tegas saya katakan, maju sebagai calon anggota legislatif adalah keinginan untuk berbuat lebih banyak lagi kepada umat,” tutupnya. (fdc)






