PADANG – Manusia sebagai mahkluk yang tidak bisa hidup sendiri sangat memerlukan aktifitas berkomunikasi. Aktifitas tersebut tampak dari kecenderungan manusia untuk berkelompok, becakap-cakap, bersurat-suratan, menulis buku dan lain sebagainya. Selain bertutur dengan menggunakan bahasa, tulisan juga merupakan salah satu cara manusia berkomunikasi, maka kegiatan membaca menjadi penting untuk diperhatikan secara serius.
Demikianlah benang merah yang dapat ditarik dari kegiatan Diskusi dan Bincang Buku Puisi Syair dalam Sekam : Sebuah Catatan Muhammad Ibrahim Ilyas, Sabtu (11/2) Malam di Parewa Coffee. Kegiatan yang digelar Komunitas Mahasiswa Seni (Komsi) Peran Universitas Bung Hatta tersebut menghadirkan pakar Bahasa Indonesia dari Universitas Andalas, Ivan Adilla dan pakar bahasa dari Universitas Bung Hatta, Rio Rinaldy,
Ivan Adilla menyatakan, melalui telaah buku puisi ‘Syair dalam Sekam’, sebuah bahasa dapat memberikan kepuasan tersendiri jika pesannya dapat tersampaikan. Dikatakannya, peristiwa sastra, dalam hal puisi, juga termasuk kepada peristiwa berbahasa, namun dengan cara yang khas.
“Di dalam peristiwa sastra, pembaca atau pendengar menemukan kepuasan jika ia menyadari bahwa ia telah dapat merasakan dan memahami pikiran dan perasaan sastrawan,” terangnya.
Pengalaman yang dialami dalam kesadaran seorang pembaca, tidaklah sama dengan pengalaman yang terjadi di dalam kesadaran seorang yang menulis. Hal tersebut dikarenakan watak dan latar belakang setiap orang berbeda, sehingga akan memberikan jawaban atas kenyataan dan kehidupan yang berlainan pula.
“Dalam peristiwa sastra, pengalaman itu dapat diungkap melalui bahasa. Yang dimaksud peristiwa sastra itu sendiri ialah kegiatan menciptakan dan menikmati karya sastra. Tanpa ada bahasa tidaklah ada yang disebut peristiwa sastra,” imbuhnya.
Dikatakan Ivan, seperti kebutuhan yang lain, kebutuhan akan sebuah komunikasi, dalam hal ini melalui bahasa tertulis, dapat menimbulkan kepuasan tersendiri jika terpenuhi. Sehingga menjadi penting untuk menggiatkan kegiatan membaca supaya tercipta komunikasi yang baik.
Hal senada juga diutarakan Rio Rinaldy. Menurutnya, sebagai salah satu cara bertutur tidak langsung, bahasa tertulis tidak hanya memberikan kepuasan experiental (pengalaman). Bahasa yang dituliskan juga memiliki unsur-unsur seni (estetika) yang sangat kaya.
“Adanya nilai-nilai seni bukan saja menjadi persyaratan yang membedakan antara karya sastra dan yang bukan sastra. Namun justru dengan adanya estetika, seorang penulis dapat mengukapkan perasaannya sejelas-jelasnya dan sedalam-dalamnya,” ujarnya.
Dia menambahkan, membaca karya sastra dapat memberikan penghayatan terhadap apa yang manusia ketahui. Membaca karya sastra dapat membantu sesorang untuk lebih berbudaya.
“Pengetahuan yang kita peroleh pada umumnya bersifat penalaran, tetapi pengetahuan tersebut dapat hidup dalam karya sastra,” imbuhnya. (depitriadi/r)







