
PAYAKUMBUH – Forum Kota Sehat dan Bersih (Fortasih) Kota Sawahlunto berkomitmen mewujudkan predikat Kota Sehat Swasti Saba Wistara 2019. Keseriusan menuju Kota Sehat itu, Fortasih Kota Sawahlunto bertandang ke Fortasih Kota Payakumbuh untuk sharing informasi terkait indikator dan penilaian kota sehat, Kamis (31/1).
Kota Payakumbuh sendiri sudah 5 kali berturut turut meraih predikat kota Sehat Swasti Saba Wistara. “Kami ingin tahu kiat kiat dari forum sehat Kota Payakumbuh bisa mewujudkan kota sehat yang sekaligus diberi penghargaan lima tahun berturut-turut,” ujar Wakil Ketua Fortasih Sawahlunto, Firman Benardo.
Pihaknya telah melakukan komitmen bersama OPD dengan harapan lebih giat dalam merealisasikan program serta menggiatkan tatanan yang telah digariskan dalam predikat kota sehat. Namun diakuinya, upaya yang dilakukan belum optimal sehingga diupayakan melakukan sharing informasi dengan forum kota sehat Kota Payakumbuh yang nyata-nyata telah meraih predikat kota sehat lima tahun berturut turut.
Dari kunjungan itu, kunci keberhasilan Fortasih Payakumbuh sangat tergantung kerja keras OPD. Kalau hanya Fortasih saja tanpa didukung sepenuhnya OPD, maka keinginan meraih predikat Kota Sehat tinggal sebatas mimpi, ujarnya didampingi sekretaris, Andriska.
Kepala Bappeda Kota Payakumbuh Ifon Satria Chan dalam pertemuan mengungkapkan, inti dari kota sehat sendiri adalah mengubah perilaku masyarakat menuju perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Pemerintah dan masyarakat secara bersama menciptakan lingkungan yang nyaman, damai dan sehat barulah tercipta kota sehat.
“Perlu proses berkesinambungan dengan komitmen kuat bersama dengan dinas lainnya termasuk komitmen kuat dari kepala daerah melakukan penekanan untuk menegakkan regulasi,” ujarnya.
Sementara, Sekretaris Forum Kota Sehat Payakumbuh, Yanrizal Jufri mengatakan, bagi kota yang dalam penilaian predikat wistara pertama harus memenuhi akses sanitasi dan stop buang air besar sembarangan 60 persen dengan lima tatanan minimal. “Kota sehat sama halnya dengan kondisi sehat, dengan indikator penilaian tertinggi adalah perilaku masyarakat (40 persen), lingkungan (30 persen), peranan kesehatan (20 persen) dan faktor keturunan atau genetik (10 persen). Tidak sekedar mengejar prestise penghargaan saja, tapi bagaimana lingkungan yang ada benar benar nyaman dan sehat untuk dihuni oleh masyarakat maupun disinggahi oleh wisatawan,” terangnya. (tumpak)






