
PADANG – Sulitnya akses permodalan bagi UKM khususnya pelaku usaha ekonomi kreatif, di daerah sangat disadari oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Karena itu, Bekraf melalui Deputi Akses Permodalan merasa perlu menggelar pelatihan permodalan perencanaan bisnis serta pengelolaan keuangan terkait akses perbankan.
“ Bekraf menyadari Usaha Kecil Menengah (UKM) Kreatif membutuhkan pengetahuan terkait sumber pembiayaan perbankan dan cara mengakses pembiayaan tersebut untuk mengembangkan usaha mereka,” ungkap Deputi Akses Non Perbankan Bekraf, Syaifullah melalui Kasubdit Perbankan Konvensional Dedy Ardiansyah, saat pembukaan pelatihan, Rabu (6/3)di Hotel Axana Padang ..
Menurut Syaifullah, permodalan dan tata kelola keuangan dalam dunia usaha sangat mempengaruhi pelaku ekonomi kreatif. Diharapkan dengan pelatihan pengelolaan keuangan ini, dapat mendorong suksesnya pengembangan usaha para pelaku ekonomi kreatif.
“Permodalan dan tata kelola keuangan usaha mempengaruhi usaha pelaku ekonomi kreatif. Kegiatan pelatihan ini adalah merupakan sebuah upaya Bekraf demi memenuhi kebutuhan permodalan mereka dalam mengembangkan usaha sekaligus membantu mereka scaling up,” ucapnya.
Sesuai dengan tugas dan fungsinya, Deputi Akses Permodalan ini menyediakan fasilitas untuk pelaku ekonomi kreatif dari enam belas subsektor dalam mendapatkan akses pada sumber atau pemilik modal. Para pelaku ekonomi kreatif bisa mendapatkan akses permodalan dalam berbagai macam bentuk hibah, modal ventura, atau pinjaman dari bank. Di Padang , Bekraf mempertemukan pelaku ekonomi kreatif dengan perbankan konvensional untuk memenuhi kebutuhan permodalan dalam mengembangkan usaha. . Selama sehari, pelaku ekonomi kreatif Padang belajar memahami prinsip pembiayaan dan persyaratan yang perlu dipenuhi untuk mengakses pembiayaan perbankan. Pelaku ekonomi kreatif Padang diharapkan dapat mengajukan proposal pembiayaan ke perbankan untuk mengembangkan usaha.
Dalam pelatihan ini, tampil sebagai pembicara, Ahmad Gozali, penulis buku “Habiskan Saja Gajimu”, Dalam paparannya, Ahmad memberikan trik sederhana untuk mengelola keuangan bagi usaha kecil. Setiap usaha perlu pencatatan keuangan. “Pergerakan usaha itu perlu dicatat agar pemilik usaha bisa menggunakan catatan itu sebagai dasar menetapkan strategi usaha. Bisnis tanpa akuntansi layaknya seorang pengemudi tanpa arah,” ujarnya
Selain itu, yang menurut Ahmad tak kalah penting adalah memisahkan keuangan usaha dan pribadi. Hal ini untuk menghindari permasalahan keuangan yang banyak dihadapi pelaku ekonomi kreatif yaitu penggunaan uang usaha untuk kepentingan pribadi. “Bila mengambil uang bisnis untuk kepentingan pribadi, diluar kesepakatan,itu namanya korupsi,” tukasnya.
Selain Ahmad Gazali, dalam kelas pengelolaan keuangan usaha, Bekraf juga mempertemukan pelaku usaha kreatif dengan pihak perbankan yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI). Sebagai pemateri adalah Kustariningrum, Kepala Bagian Bisnis Program dan Kemitraan Kanwil BRI Sumbar. Untuk menginspirasi pelaku usaha , Bekraf menampilkan Nilamsari, owner Kebab Turki Baba rafi.
Kegiatan yang dibuka oleh Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM Sumbar, Yusrizal Chan ini digelar sehari penuh diikuti oleh lebih kurang 100 pelaku usaha kreatif di Padang.
Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) merupakan lembaga pemerintah non kementerian yang bertanggungjawab di bidang ekonomi kreatif. Bekraf mempunyai tugas membantu Presiden dalam merumuskan, menetapkan, mengoordinasikan, dan sinkronisasi kebijakan ekonomi kreatif di bidang aplikasi dan game developer, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film animasi dan video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, dan televisi dan radio. (nit)






