Bahan Pangan di Sumbar Mulai Sumbang Inflasi
  • Home
  • Berita
  • Bahan Pangan di Sumbar Mulai Sumbang Inflasi

Bahan Pangan di Sumbar Mulai Sumbang Inflasi

diagram (ilustrasi)
diagram (ilustrasi)

PADANG – Pergerakan harga-harga di Sumatera Barat pada Agustus 2017 mulai diwarnai kenaikan harga bahan pangan bergejolak (volatile food) dan kelompok inti (core). Bahan pangan bergejolak mengalami inflasi sebesar 0,57 persen (month to month/mtm) sementara bulan sebelumnya masih deflasi sebesar 1,65 persen (mtm).

Wakil Ketua Tim Koordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Barat Endy Dwi Tjahjono, Selasa (5/9) menyebutkan, kenaikan harga pada kelompok volatile food antara lain disumbang oleh cabai merah, daging ayam ras, kangkung dan telur ayam ras.

“Cabai merah menyumbang inflasi sebesar 0,15 persen, daging ayam ras 0,04 persen serta kangkung dan teur ayam ras masing-masing 0,01 persen (mtm),” kata Endy.

Kenaikan harga pada kelompok ini, menurutnya disebabkan oleh meningkatnya harga cabai lokal dan cabai asal pulau Jawa di Kota Padang dan Bukittinggi, seiring dengan berkurangnya hasil panen di sentra produksi.

“Sementara kenaikan harga daging ayam ras dan telur ayam ras disinyalir berasal dari kenaikan harga di tingkat distributor yang memanfaatkan momen menjelang hari raya Idul Adha,” ujarnya.

Kenaikan harga lebih lanjut kelompok volatile food sedikit tertahan dengan turunnya harga jengkol dan bayam dengan andil deflasi masing-masing sebesar 0,07 persen (mtm) dan 0,02 persen (mtm) serta pepaya, tomat sayur dan petai dengan andil deflasi masing-masing sebesar 0,01 persen (mtm).

Pada kelompok inti, inflasi Agustus 2017 tercatat sebesar 0,37 persen (mtm) dengan laju yang lebih rendah dibandingkan Juli 2017 sebesar 0,67 persen (mtm). Kenaikan harga pada kelompok ini disumbang oleh kenaikan tarif pulsa ponsel dengan andil inflasi sebesar 0,05 persen (mtm) serta kenaikan harga garam, sekolah dasar, emas perhiasan dan tarif gunting rambut pria dengan andil masing-masing sebesar 0,02 persen (mtm).

Kenaikan tarif pulsa ponsel dilakukan oleh salah satu provider pada tarif panggilan per menit sedangkan inflasi pada Sekolah Dasar (SD) terjadi pada SD swasta yaitu kenaikan uang pangkal dan SPP. Kenaikan harga emas perhiasan merupakan dampak tren kenaikan harga emas global.

“Kenaikan harga kelompok inti lebih lanjut, tertahan dengan penurunan harga baju anak stelan dengan andil deflasi 0,02 persen (mtm) serta rekreasi dan televisi berwarna dengan andil deflasi masing-masing 0,01% (mtm),” lanjutnya.

Bertolak belakang dengan dua kelompok tersebut, kelompok barang yang diatur pemerintah (administered price) mengalami deflasi bulanan secara signifikan sebesar 2,35 persen (mtm) dari sebelumnya inflasi cukup tinggi sebesar 2,25 persen (mtm). Deflasi kelompok administered price disumbang oleh turunnya harga tiket pesawat dan tarif angkutan antar kota dengan andil deflasi masing-masing sebesar 0,54 persen (mtm) dan 0,01 persen (mtm).

“Turunnya harga tiket pesawat sebagai dampak normalisasi harga karena turunnya permintaan seiring berakhirnya arus balik pasca lebaran idul fitri,” katanya.

Berakhirnya arus balik juga berdampak pada penurunan tarif angkutan antar kota khususnya yang berasal dari Kota Padang. Penurunan harga lanjutan kelompok ini tertahan dengan kenaikan harga rokok kretek filter dengan andil inflasi sebesar 0,01 persen (mtm).

Endy memprakirakan, tekanan inflasi ke depan cukup rendah. Sumber tekanan inflasi diprakirakan masih berasal dari kelompok bahan pangan bergejolak khususnya cabai merah seiring dengan terbatasnya hasil panen dari sentra produksi disertai risiko gangguan cuaca.

Prakiraan cuaca BMKG menunjukkan curah hujan pada September 2017 cenderung tinggi di sepanjang wilayah barat Sumatera Barat dengan sifat hujan berkisar pada tingkat normal hingga di atas normal. Prakiraan cuaca tersebut akan menimbulkan risiko khususnya pada komoditas pangan yaitu terganggunya proses penjemuran gabah sehingga berpotensi terganggunya pasokan beras, terganggunya panen cabai merah akibat kebusukan dan hama serta terganggunya kegiatan nelayan dalam menangkap ikan di laut.

Sementara itu, curah hujan di wilayah Jawa diprakirakan berada pada tingkat rendah namun dengan sifat hujan berkisar normal hingga di atas normal. Dengan demikian, kondisi cuaca di Jawa tersebut diprakirakan tidak akan menimbulkan risiko yang tinggi pada panen produksi hasil pertanian.

Pada kelompok barang yang diatur pemerintah, tekanan inflasi diprakirakan rendah dan kemungkinan berasal dari penyesuaian harga Bahan Bakar Khusus mengikuti tren harga minyak dunia. Pada kelompok inti, tekanan inflasi diprakirakan rendah dan masih bersumber dari harga emas perhiasan seiring tren kenaikan harga emas dunia. (feb/*)

Berita Terkait

Leave a Reply