PADANG- Mengaku terus mengalami kerugian, puluhan peternak yang tergabung dalam Asosiasi Peternakan Ayam Closed House Daerah (APCHADA) mengadukan nasib ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sumatera Barat, Selasa (21/11/2023). Peternak ayam sistem kandang tertutup tersebut mengaku telah merugi selama beberapa kali musim panen dan menduga faktor penyebabnya adalah bibit ayam Day Old Chicken (DOC) dan pakan yang diberikan salah satu perusahaan pemasok.
Ketua APCHADA Sumatera Barat Marlis dalam pertemuan dengar pendapat (hearing) dengan Komisi II DPRD terkait kedatangan mereka meminta agar DPRD bisa menjembatani persoalan yang dihadapi peternak dengan pihak perusahaan pemasok bibit ayam DOC dan pakan. Selain itu, juga ingin menyampaikan beberapa harapan lainnya berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi peternak.
“Persoalan kerugian yang dialami peternak ayam sistem kandang tertutup ini setidaknya sudah terjadi untuk empat periode (empat musim) panen. Banyak peternak yang mengalami kerugian,” ungkap Marlis.
Marlis mengaku, untuk menyikapi permasalahan yang dihadapi peternak, APCHADA yang memiliki 120 anggota sudah melakukan upaya untuk memperjuangkannya. Namun dia menyayangkan sikap perusahaan pemasok tersebut yang tidak mau berkomunikasi dengan APCHADA. “Padahal organisasi ini resmi, pembentukan dan keberadaannya diatur dalam pemerintah serta ada peraturan gubernur yang menaunginya yaitu Pergub nomor 40 tahun 2015,” paparnya.
Bahkan, lanjut Marlis, ada peternak yang urung bergabung ke dalam APCHADA karena ditenggarai ada tekanan dari pihak perusahaan. Untuk itu, dalam kedatangan tersebut Marlis menyampaikan beberapa harapan untuk disikapi oleh DPRD Provinsi Sumatera Barat.
Harapan tersebut antara lain DPRD Sumatera Barat bisa memfasilitasi pertemuan dengan perusahaan pemasok inti. Kemudian, pemerintah daerah diharapkan membentuk lembaga koordinasi dan melakukan sosialisasi Pergub nomor 40 tahun 2015. Marlis juga menyampaikan harapan agar pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap kualitas pakan ayam dan bibit ayam DOC.
Harapan selanjutnya adalah melakukan verifikasi terhadap kandang secara profesional, jika dirasa tidak layak hendaknya dihentikan operasionalnya. Pihaknya juga meminta untuk menghentikan pembangunan kandang baru untuk mencegah terjadinya kelebihan populasi.
“Kami juga meminta untuk menghentikan operasional kandang milik perusahaan inti karena setahu kami perusahaan inti tidak diperbolehkan memiliki kandang sendiri,” katanya.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumatera Barat Sukarli dalam pertemuan tersebut mengaku telah menindaklanjuti keluhan APCHADA yang sebelumnya juga telah disampaikan ke pihaknya. Dia menerangkan, telah melakukan uji labor terhadap pakan ternak dari perusahaan dimaksud, dengan mengambil sampel pakan lama dan pakan yang baru. “Dari hasil uji labor dari Balai Pengujian Mutu di Bekasi menyatakan pakan tersebut memenuhi SNI,” kata Sukarli.
Namun demikian, lanjutnya, pihaknya akan terus berupaya untuk mencari solusi terhadap masalah tersebut. Dalam waktu dekat akan masuk musim panen dan akan dilakukan uji ternak.
Sementara, untuk penghentian pembuatan kandang baru menurut Sukarli kewenangannya berada di dinas terkait perizinan di pemerintah kabupaten dan kota. Untuk tingkat produksi ayam pedaging, Sukarli mengaku Sumatera Barat surplus namun sebagian hasil panen didistribusikan juga untuk daerah lain.
Ketua Komisi II DPRD Provinsi Sumatera Barat Mochklasin yang menerima kedatangan para peternak ayam broiler sistem kandang tertutup tersebut, berjanji akan menindaklanjuti persoalan itu. Pihaknya akan berupaya menjembatani pertemuan untuk mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi peternak.
“Kami juga akan mengadakan rapat kerja dengan dinas terkait untuk mendalami persoalan ini secara lebih detail, kami menyampaikan apresiasi kepada APCHADA yang telah merangkul para peternak serta dan menyampaikan informasi ke DPRD sehingga diketahui ada persoalan yang dihadapi peternak,” tandasnya. F






