
JAKARTA – Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito meminta semua pemerintah daerah mengantisipasi perkembangan peta zonasi risiko menjelang libur lebaran Idul Fitri. Perkembangan mingguan per 25 April 2021, mencatatkan jumlah daerah zona merah atau risiko tinggi dan zona oranye atau risiko sedang bertambah. Sementara zona kuning atau risiko rendah menurun.
“Seharusnya zona merah dan zona oranye ini selalu diupayakan agar jumlahnya dapat turun,” kata Wiku dalam siaran pers yang diteruskan oleh Humas BNPB Rabu, (28/4/2021).
Perkembangan minggu ini menurut Wiku, zona merah meningkat dari 6 menjadi 19 kabupaten/kota. Zona oranye bertambah dari 322 menjadi 340 kabupaten/ kota dan zona kuning menurun dari 177 menjadi 146 kabupaten/ kota. Pada zona hijau tidak ada kasus baru tetap 8 kabupaten/ kota serta tidak terdampak tetap 1 kabupaten/ kota.
Wiku memaparkan, peningkatan zona merah dikarena ada 14 kabupaten/ kota yang berpindah dari zona oranye. Kabupaten/ kota tersebut tersebar di provinsi Aceh, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bali dan Kalimantan Selatan.
Pada zona oranye dikontribusikan karena ada 53 kabupaten/ kota yang berpindah dari zona kuning. Antara lain di Sumatera Utara, Aceh dan Sulawesi Tenggara.
Untuk itu, Wiku meminta seluruh gubernur dan bupati/ walikota agar segera melakukan pembentukan dan mengoptimalkan posko Covid-19 dalam mengantisipasi tradisi mudik. Jika ada kendala, ia meminta agar daerah berkoordinasi dengan pemerintah pusat terutama terkait dasar hukum dan anggaran.
“Tanpa adanya posko, sulit untuk daerah mengantisipasi potensi lonjakan kasus dalam periode Idul Fitri,” pungkasnya. (*)






