AGAM – Pemerintah Kabupaten Agam melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) setempat berupaya meningkatkan produksi gula merah atau saka daerah itu. Berbagai langkah yang dilakukan di antaranya memperluas lahan tebu dan menanam bibit unggul.
Di samping itu, petani diarahkan untuk menggunakan alat produksi mesin. Kalau biasanya petani tebu menggunakan tenaga hewan ternak untuk mengilang tebu, kini sudah menggunakan mesin. Dengan demikian, produksi bisa lebih cepat, banyak dan bersih.
Menurut Kepala Dishutbun Agam, Ir. Yulnasri, MM kepada padangmedia.com, Senin (2/5), di Kabupaten Agam terdapat empat kecamatan penghasil saka. Yakni, Kecamatan Canduang, Ampek Koto, Matur, dan Palembayan.
Yulnasri berharap, dengan adanya pengembangan tanaman tebu, produksi saka dan gula semut akan meningkat, sehingga mampu memenuhi permintaan ekspor.
Kabid Perkebunan Dishutbun Agam, Armelia menambahkan, produksi saka di Kabupaten Agam saat ini mencapai 571 ton per tiga bulan. Produksi terbesar terdapat di Kecamatan Canduang, sekitar 300 ton/3 bulan.
Sementara itu, Camat Canduang, Indra Dt. Baradai Ameh mengatakan, saka diproduksi petani tebu di Nagari Bukik Batabuah dan Lasi. Bukik Batabuah memproduksi saka sekitar 240 ton/3 bulan dan Lasi 60 ton/3 bulan.
“Jorong Gobah merupakan penghasil saka terbesar di Nagari Bukik Batabuah. Sedangkan Jorong Pasanehan penghasil saka utama di Nagari Lasi,” ujar Dt. Baradai Ameh.
Saat ini, menurut Indra, petani tebu di kecamatan itu sedang meningkatkan produksi gula semut. Karena ada tantangan dari pihak ketiga yang mengaku bisa membantu pemasaran gula semut. (fajar)






