Belakangan ini sering kita mendengar kata persepsi baik yang terlontar secara langsung maupun tidak, atau yang kita ucapkan maupun yang orang lain ucapkan. Kata persepsi ini sering muncul beriringan dengan adanya sebuah perbedaan pendapat yang dilakukan di tengah-tengah masyarakat.
Persepsi ini sebenarnya tanpa kita sadari merupakan sebuah kata yang sering kita implementasikan dalam kehidupan sehari hari, tapi belum tentu semua orang yang menyebutnya dan mengimplementasikannya itu mengerti makna sesungguhnya terkait kata sederhana persepsi ini.
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), persepsi merupakan tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu, atau proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya. Pengertian persepsi menurut Psikologi yang dikemukakan oleh William James terbentuk atas dasar data-data yang kita peroleh dari lingkungan yang diserap oleh indera kita, serta sebagian lainnya diperoleh dari pengolahan ingatan (memory) kita (diolah kembali berdasarkan pengalaman yang kita miliki) (Isbandi Rukminto Adi, 1994).
Dapat kita simpulkan bahwa persepsi ini merupakan sebuah pemberian makna dari apa yang kita terima dari pancaindra kita. Orang cendrung berpikir tentang persepsi sebagai sebuah proses yang pasif, padahal kita melihat, mengecap, membau, mendengar, dan merasakan merupakan sebuah proses yang aktif.
Dalam menafsirkan suatu informasi yang didapat setiap orang pasti memiliki persepsinya masing masing. Dalam melihat sebuah gambar yang sama akan menghasilkan persepsi atau makna yang berbeda karena setiap orang pasti memiliki cara dari sudut mana dia memandang gambar tersebut.
Sebagai contoh lain, disaat kita berjalan di suatu tempat persis didepan kita ada seseorang yang membelakangi kita dengan rambut panjang, pakai celana panjang dan baju panjang, kita bisa menafsirkan orang tersebut sebagai perempuan, tetapi akan lain halnya dengan orang yang melihat nya dari sudut pandang berbeda, seperti orang melihatnya dari depan bisa jadi orang itu mempersepsikan bahwa orang tersebut adalah laki-laki.
Dalam kaitannya sebagai sarana pemersatu bangsa, persepsi ini memiliki peran yang sangat penting. Seiring berkembangnya zaman seiring itu jugalah berkembangnya pola pemikiran manusia. Berkembangnya industri 4.0 (four poin zero) sangat membawa dampak yang besar bagi kehidupan terutama di negara kita Indonesia, salah satu perkembangan yang membawa dampak besar adalah semakin canggihnya teknologi terutama gadget.
Dengan berkembangnya sistem informasi akan mempermudah kita dalam mendapatkan informasi, namun seiring itu jugalah berkembangnya oknum yang akan membuat perpecahan di tengah-tengah bangsa ini. Sekarang dibangsa kita banyak informasi yang tidak sesuai dengan fakta yang sering disebut dikalangan masyarakat sebagai berita Hoax.
Perkembangan zaman ini akan mempengaruhi kita untuk memberikan persepsi secara baik, terutama berita yang marak di bangsa kita ini yang rentan memberikan informasi yang berbau perpecahan dan tidak jelas. Masyarakat yang menerima informasi ini pastinya akan memiliki persepsi yang berbeda tentang informasi tersebut, ada yang bisa mempersepsikannya secara baik, dan ada yang mempersepsikannya ke arah yang negatif. Seharusnya kita dikalangan masyarakat terutama kaum intelektual bisa mencari kebenaran sebuah informasi sebelum kita memberikan persepsi yang diterima oleh publik. Terkadang orang sering memberikan persepsi karna kebisaan dia sebelumnya dan pengaruh lingkungan.
Sebagai contoh, informasi yang marak berkembang akhir akhir ini adalah tentang teroris, teroris ini katanya identik dengan orang yang berjenggot dan orang berjenggot itu identik dengan umat islam kalau di bangsa kita ini, jadi dengan berkembangnya informasi maka masyarakat yang tidak bisa mencerna dengan baik dia akan memberikan persepsi yang serupa, bahwasannya orang yang berjenggot adalah teroris. Informasi seperti inilah yang akan mengakibatkan perpecahan di dalam bangsa kita ini.
Sebagai contohnya lagi, negara kita terlihat sangat sensitif belakangan ini dengan informasi yang didalamnya ada unsur perbedaan terutama perbedaan agama, seperti kasusnya Ahok yang sangat menggemparkan publik beberapa tahu lalu, yang didalamnya ada terseret nama Buni Yani, jadi disini timbullah berbagai persepsi, dimana masyarakat mempersepsikan itu sesuai dengan keinginan nya ada yang bilang itu positif dan ada yang bilang itu negatif.
Richards J. Heuer, Jr (2008) dalam buku Psikologi Intelijen menjelaskan salah satu prinsip yang fundamental mengenai persepsi adalah kita cenderung merasakan apa yang kita harap rasakan. Ini berkaitan dengan contoh diatas, kebanyakan orang memberikan persepsi sesuai dengan kebutuhan dan keuntungan bagidirinya sendiri jka itu berkaitan dengan informasi. Setiap orang bisa menerima berita yang sama, tapi setiap orang tidak bisa memberikan persepsi yang samaterhadap berita tersebut.
Jadi dalam hal ini marilah kita berhati hati dan teliti terlebih dahulu dalam memberikan persepsi terutama memberikan persepsi terhadap informasi yang kita terima dari media sosial. Biasakan lah memberikan persepsi yang baik terhadap hal hal yang akan dirasa membuat perpecahan dibangsa kita ini, jangan langsung gegabah dalam memberikan persepsi yang buruk, karna terlalu sering dan terlalu banyak yang memberikan persepsi negatif disitulah akan timbulnya perpecahan yang akan menghantui bangsa kita ini.
Membuat persepsi yang berbeda itu sangat mudah, tetapi menyatukan prsepsi itu sangat sulit. Ibarat pepatah walaupun kepala yang sama itam, tetapi pemikiran berbeda beda. Jadi persepsi sebagai sarana pemersatu bangsa, marilah kita fungsikan kata ini sebaik baiknya, marilah kita lebih bisa teliti dalam memberikan persepsi terhadap apa yang diterima oleh panca indra kita.
Jika kita menerima sebuah informasi atau berita, lihat lah informasi tersebut dari berbagai sudut pandang, karna jika kita hanya melihat dari satu sudut pandang itu akan mengurangi informasi dan kebenaran berita tersebut. Jika sering terjadi persamaan persepsi maka akan semakin mudah kita dalam menyatukan bangsa ini. Jadikanlah persepsi ini sebuah proses yang aktif jangan sebagai proses yang pasif dimana kita hanya menerimanya tanpa mencari tahu terlebih dahulu.
Penulis : ILHAM ASYRAF SUHENDRI
JURUSAN : PSIKOLOGI ISLAM
UIN IMAM BONJOL PADANG
SEMESTER III
Tulisan ini dibuat terkait dengan adanya penugasan pada mata kuliah Psikologi Kognitif untuk membuat artikel dan mempubliskannya di redaksi atau website yang berkaitan.
Penulis menyatakan, artikel tersebut merupakan hasil karya penulis sendiri bukan contekan dari karya orang lain. Semua isi artikel tersebut merupakan tanggung jawab penulis.






