Perempuan Ulet di Balik Upaya Pelestarian Batik Tanah Liek
  • Home
  • Artikel
  • Perempuan Ulet di Balik Upaya Pelestarian Batik Tanah Liek

Perempuan Ulet di Balik Upaya Pelestarian Batik Tanah Liek

Hj Wirda Hanim pemilik Rumah Batik Tanah Liek bersama Peneliti UNAND Toti Sri Mulyati. (fdc)

Batik Tanah Liek, diperkirakan sudah dikenal sejak abad ke 16 pada saat saudagar Cina datang ke Nusantara termasuk ke Pulau Perca untuk berniaga. Kerajaan Minangkabau dengan pusat kerajaan di Pagaruyung juga tak luput dari pangsa pasar perniagaan pada masa itu.

Meskipun dalam pencorakan terlihat sama dengan batik yang lain, namun ada keunikan dalam proses pembuatan Batik Tanah Liek. Diwarnai dengan bahan pewarna alami yang diracik dari getah tumbuhan. Disebut Batik Tanah Liek karena pencelupan warna dasar memang menggunakan tanah liat (tanah liek, red).

Membatik adalah sebuah seni, tidak sekedar memproduksi selembar kain sebagai bahan pakaian. Dalam konteks ini, yang dimaksud adalah membatik manual tanpa menggunakan mesin pencetak atau stempel. Hanya tangan-tangan terampil pemilik jiwa seni tinggi yang bisa menghasilkan sebuah karya batik yang bernilai.

Seni membatik sebetulnya berasal dari tanah Jawa, bukan dari Sumatera Barat. Namun, khusus untuk Batik Tanah Liek, memang dikembangkan di Sumatera Barat. Bisa jadi, pengenalan seni membatik ke Sumatera Barat ada kaitannya dengan perjalanan dan keterkaitan sejarah di Nusantara.

Perkembangan Batik Tanah Liek mulai meredup seiring perjalanan waktu. Kebutuhan bahan pakaian mulai banyak didominasi oleh bahan pabrik tekstil yang semakin menguasai pasar. Kalaupun ada produk bermotif batik, sebagian besar adalah produk batik yang dicetak atau distempel.

Kelebihannya, batik stempel atau cetak ini bisa diproduksi lebih banyak dengan biaya lebih murah serta waktu produksi yang lebih singkat. Sementara untuk batik tulis membutuhkan waktu lebih lama dalam pengerjaannya karena dikerjakan secara manual.

Batik Tanah Liek sebagai salah satu jenis yang dibuat dengan cara manual. Motif dan corak batik dilukis dengan canting oleh pengrajin batik. Untuk selembar kain batik, bisa menghabiskan waktu dua sampai tiga hari.

Berbicara kain batik, bukan sekedar selembar bahan pakaian. Bagi pecinta seni, membatik adalah sebuah karya seni. Sebagai sebuah karya seni, batik harus dilestarikan.

Hj Wirda Hanim

Adalah seorang pengusaha dan aktifis budaya di Sumatera Barat, Hajjah Wirda Hanim dan seorang peneliti Universitas Andalas Toti Sri Mulyati. Dua orang perempuan ulet ini mengkhawatirkan seni membatik terutama Batik Tanah Liek akan semakin hilang ditelan zaman.

Hajjah Wirda Hanim, perempuan pengusaha asal Batusangkar yang memiliki sebuah rumah batik di kawasan Sawahan, Padang Timur Kota Padang. Rumah batik tersebut tidak sekedar butik atau galeri tetapi sekaligus menjadi rumah produksi batik.

Berawal dari ketertarikan, dikuatkan kekhawatiran, Hajjah Wirda Hanim mencoba membangkitkan kembali seni membatik tanah liek. Ketertarikan kepada corak batik tanah liek yang unik karena diwarnai dengan bahan-bahan alami sementara kekhawatirannya adalah disebabkan semakin sedikit pengrajin batik di Ranah Minang.

Pada usia menjelang senjanya, perempuan pengusaha dan aktivis budaya ini mencoba membangkitkan kembali seni membatik tanah liek yang telah dikenal sejak abad ke 16 itu. Baginya, Batik Tanah Liek bukan sekedar motif bahan pakaian tetapi adalah sebuah karya seni yang harus dilestarikan.

Hajjah Wirda menceritakan sejarah singkat Batik Tanah Liek. Menurutnya, seni membatik itu diperkirakan sudah mulai dikenal sejak abad ke 16 dibawa saudagar dari Cina yang datang untuk berdagang ke wilayah Kerajaan Minangkabau.

Perkiraan itu didukung oleh bukti-bukti motif Batik Tanah Liek pada awalnya banyak bercorak khas Cina seperti corak kuda laut, burung hong dan sebagainya. Wirda mengakui bahwa seni membatik sebetulnya tidak murni menjadi karya seni budaya Minangkabau. Pada perkembangannya, corak Batik Tanah Liek mulai memasukkan unsur corak Minangkabau seperti kelok paku, carano, susun siriah, tari piring dan sebagainya.

“Seni membatik tidak murni berasal dari Minangkabau namun untuk Batik Tanah Liek memang dikembangkan di Ranah Minang,” ujarnya.

Pengusaha batik berusia 66 tahun ini mulai mengkhawatirkan Batik Tanah Liek yang semakin hilang seiring semakin berkurangnya pengrajin yang menguasai seni membatik. Tahun 1994, dia mulai mencoba untuk menghidupkan kembali Batik Tanah Liek, di tengah serbuan produk-produk tekstil yang semakin gencar.

Berangkat dari kekhawatiran Batik Tanah Liek akan pudar seiring perkembangan zaman, Hajjah Wirda menjadikan galerinya sekaligus sebagai tempat produksi. Batik Tanah Liek diproduksi dengan cara tradisional untuk mempertahankan keaslian dan kualitas karya seni yang dihasilkan. Seluruh proses pembuatan Batik Tanah Liek dilakukan secara manual dengan peralatan tradisional.

Mulai dari pewarnaan dasar, hingga corak dan motif diukir langsung oleh pengrajin menggunakan canting. Bahan pewarna yang digunakan untuk membentuk corak pun berasal dari bahan-bahan alami dengan bahan dasar adalah tanah liat.

“Pewarnanya alami, dengan warna dasar adalah tanah liat sehingga dinamakan Batik Tanah Liek (tanah liat, red). Proses pembuatan batik tanah liek seluruhnya dilakukan secara manual oleh para pengrajin,” terangnya.

Dulu bahan tanah liat yang digunakan untuk pewarnaan dasar batik tanah liek diambil dari lokasi rumah batiknya sekarang. Sekarang ini tanah liat diambil dari beberapa tempat yang memiliki kualitas pewarnaan yang baik. Karena memang tidak murni sebagai karya seni lokal, peralatan membatik pun didatangkan dari pulau Jawa.

“Baik canting, kompor dan wadah memanaskan zat pewarna dipesan dari Jogja karena memang peralatan membatik hanya diproduksi di Jawa,” katanya.

Karena dikerjakan secara manual atau buatan tangan (hand made), selembar Batik Tanah Liek paling cepat bisa selesai dalam waktu tiga hari. Corak Batik Tanah Liek dilukis dengan canting, tidak distempel atau dicetak.

“Untuk satu lembar batik tanah liek bisa diselesaikan paling cepat tiga hari karena semua diproses tanpa mesin. Corak batik dilukis dengan canting tak ada yang distempel apa lagi di-print,” terangnya.

Tak heran, harga selembar batik tanah liek bisa mencapai dua setengah jutaan rupiah. Bahan dasar kain yang berkualitas tinggi dan “mahal” nya karya seni yang tertumpah di lembaran kain sangat sepadan dengan harga yang dibanderol.

Meski sudah memproduksi sendiri Batik Tanah Liek, Hajjah Wirda masih mengkhawatirkan hilangnya generasi pembatik. Seni membatik bukan sekedar mewarnai selembar kain namun menuntut jiwa seni yang tinggi. Baginya, seni Batik Tanah Liek merupakan sebuah karya seni, bukan sekedar selembar kain untuk bahan pakaian.

Kekhawatiran itu terjawab, ketika peneliti dari Universitas Andalas, Toti Sri Mulyati tertarik untuk “menyambung” generasi pengrajin batik. Menurut Toti, membatik memang bukan seni budaya Minang namun Batik Tanah Liek dikembangkan di Sumatera Barat.

“Dari hasil penelitian kami, tidak banyak yang memiliki kemampuan membatik di Sumatera Barat. Karena memang pada dasarnya seni membatik ini berasal dari tanah Jawa,” ujarnya.

Pemikiran meregenerasi pengrajin Batik Tanah Liek adalah dalam rangka melestarikan budaya lokal. Batik Tanah Liek merupakan salah satu kekayaan seni budaya lokal yang harus dilestarikan.

Batik tanah liek membutuhkan regenerasi. Berangkat dari kekhawatiran seni Batik Tanah Liek akan pupus, Toti kemudian menggagas pelatihan seni membatik di Rumah Batik Wirda Hanim. Bekerjasama dengan Hajjah Wirda, Toti membiayai pelatihan tersebut dari sisa dana penelitiannya.

Bertempat di Rumah Batik Wirda Hanim, sebanyak 20 orang dilatih seni membatik. Sebagian besar peserta pelatihan adalah perempuan dan berasal dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Menurut Toti, pelatihan ini tidak mengikat bahwa peserta nantinya akan menjadi karyawan di Rumah Batik Tanah Liek Wirda Hanim.

“Tujuan pertama adalah bagaimana menumbuhkembangkan ilmu membatik kepada lebih banyak orang. Setelah menguasai, mereka bebas berkreasi sendiri atau kalau mau menjadi pembatik di sini juga diberi kesempatan,” ujarnya.

Aktifitas pelatihan membatik di Rumah Batik Hajjah Wirda Hanim. (fdc)

Bagi yang ingin membuka usaha sendiri, nantinya juga akan dirangkul untuk bekerjasama dalam pemasaran. Artinya, pembinaan terhadap usaha batik yang dilakukan oleh peserta jika ingin mandiri tetap akan dilakukan sehingga seni membatik bisa tumbuh dan mendatangkan sumber ekonomi.

Seiring mengadakan pelatihan, Toti juga memprakarsai gelaran Pemilihan Putera – Puteri Batik Minang. Gelaran ini ditujukan untuk membangkitkan kembali gairah generasi muda dalam mencintai batik sebagai sebuah karya seni dan budaya.

“Gelaran ini merupakan rangkaian dari kegiatan pelatihan dengan tujuan membangkitkan kecintaan generasi muda kepada seni budaya batik,” terangnya.

Rolita, salah seorang peserta pelatihan membatik yang diadakan oleh Toti Sri Mulyati di Rumah Batik Hajjah Wirda mengungkapkan manfaat yang diperolehnya. Pelatihan tersebut meningkatkan wawasan dan pemahamannya terhadap seni membatik.

“Sebelumnya kami memang sudah mengembangkan seni membatik juga namun setelah mendapatkan pelatihan pemahaman saya semakin bertambah,” kata Rolita.

Pemahamannya terhadap membatik yang sebelumnya hanya sebagai sebuah usaha menjadi berkembang. Ternyata membatik tidak sekedar usaha tetapi lebih luas lagi yaitu menciptakan karya seni.

Selepas mengikuti pelatihan, Rolita bersama anggota kelompoknya, Kelompok Membatik KUD Cantiang Bunian di Jorong Koto Baru Nagari Batu Basa Kecamatan Pariangan semakin terpacu semangat. Bahkan, dalam waktu dekat segera akan meluncurkan produk batik perdananya di Padang.

“Meningkatnya pemahaman membatik ini membuat saya bersama kelompok semakin terpacu. Dalam berproduksi karena batik bukan sekedar usaha tetapi juga adalah menciptakan karya seni,” ujarnya.

Rolita menyebut beberapa corak dan motif batik yang dikembangkan kelompoknya antara lain Bintang Takabua, Si Jambai Anyia, Upiah Kalangai dan sebagainya. Sedikitnya ada 30 jenis motf dan hasil karya tersebut akan dipamerkan pada saat launching produknya.

Batik tanah liek, tidak sekedar selembar kain tetapi adalah sebuah karya seni. Seni membatik membutuhkan kesabaran dan keuletan dan hanya orang-orang berjiwa seni tinggi yang mampu menorehkan corak batik yang memukau. Hajjah Wirda dan Toti Sri Mulyati berkomitmen kuat untuk meregenerasi pengrajin batik sehingga seni Batik Tanah Liek terus hidup dan lestari sebagai sebuah karya seni bernilai tinggi. (*)

Febry D Chaniago (Pebrius Dwinus)

Wartawan Madya 9749

Berita Terkait

Leave a Reply