
Saat ini, Indonesia dihadang permasalahan yang sangat serius. Penyebaran berita hoax meresahkan kehidupan serta ketentraman di lingkungan masyarakat. Hal tersebut berawal dari persepsi-persepsi negatif yang menjadi bahan berita dan konsumsi masyarakat yang ditelan secara mentah-mentah. Tentunya hal ini menuai polemik yang sulit diselesaikan. Apalagi fenomena hoax tersebut didorong oleh perkembangan teknologi era 4.0 yang semakin pesat.
Menurut Wagner dan Hollenbeck, persepsi adalah suatu proses yang ditempuh individu-individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna kepada lingkungan mereka. Sedangkan menurut Slameto (2010:102), persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia, melalui persepsi manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Hubungan ini dilakukan lewat inderanya, yaitu indera penglihat, pendengar, peraba, perasa dan pencium.
Persepsi merupakan suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dari individu atau kelompok sosial karena setiap saat dan selama 24 jam setiap harinya otak manusia selalu bekerja untuk berfikir dan mengelola informasi. Karena otak manusia setiap hari memiliki sudut pandang atau persepsi yang berbeda terhadap suatu masalah atau fenomena dalam kehidupanya.
Menurut kamus lengkap psikologi, persepsi adalah:
a. Proses mengetahui dan mengenali objek dan kejadian objektif dengan bantuan indera.
b. Kesadaran dari proses-proses organis.
c. Titchener atau suatu kelompok penginderaan dengan penambahan arti-arti yang berasal dari pengalaman dimasa lalu.
d. Variabel yang menghalangi atau ikut campur tangan, berasal dari kemampuan organisasi untuk melakukan pembedaan diantara perangsang-perangsang.
e. Kesadaran intuitif mengenai kebenaran langsung atau keyakinan yang serta merta mengenai sesuatu (Chaplin, 2005).
Teori-teori perseptual dalam psikologi, seperti:
a. Persepsi konstruktif
Teori persepsi konstruktif disusun berdasarkan anggapan bahwa selama persepsi, kita membentuk dan menguji hipotesis-hipotesis yang berhubungan dengan persepsi berdasarkan indera dan apa yang kita ketahui. Dengan demikian, persepsi adalah sebuah efek kombinasi dan informasi yang diterima sistem sensorik, pengalaman dan pengetahuan yang kita pelajari tentang dunia, serta yang kita dapatkan dari pengalaman.
b. Persepsi langsung
Teori persepsi langsung menyatakan bahwa informasi dalam stimulasi adalah elemen penting dalam persepsi karena lingkungan telah mengandung cukup informasi yang dapat digunakan untuk interpretasi (Solso et.al., 2007: 122). James Gibson dan James Cutting menyatakan bahwa persepsi langsung mengasumsikan bahwa keanekaragaman lapisan-lapisan optik sama kayanya dengan keanekaragaman dalam dunia ini.
Setiap kita melihat suatu objek maupun mendengar suatu informasi atau disebut stimulasi, pastilah timbul sebuah persepi, positif maupun negatif. Persepsi positif akan melahirkan sebuah kebaikan sedangkan persepsi negatif akan melahirkan sebuah prasangka yang tidak baik, contohnya secara emosional, orang yang memiliki persepsi negatif pada suatu hal akan selalu memikirkan hal-hal yang negatif juga, dan fikirannya selalu tidak tenang.
Sebagai individu yang baik, harusnya kita selalu menyeleksi sebuah kebenaran terhadap sesuatu sebelum membentuk sebuah persepsi. Kemudian kita harus menjalin silaturahmi, karena silaturahmi dapat mengurangi persepsi negatif kita, memanjangkan umur kita, dan juga membuka jalan rezeki kita. Langkah selanjutnya adalah bagaimana kita mengontrol dan mengingatkan diri kita sendiri, karena sejatinyaseseorang dapat merubah dirinya menjadi lebih baik itu dimulai dari dirinya sendiri.
Di dalam agama pun dijelaskan bahwasanya kita harus memiliki persepsi positif terhadap semua orang, dan persepsi positif ini jugalah yang akan membentuk serta membuat kerukunan di dalam masyarakat. Dan seharusnya, kita sebagai individu yang baik harus selalu menerapkan persepsi positif di dalam kehidupan untuk membentuk kehidupan bahagia sebagai individu dan membentuk kerukunan berbangsa dan bernegara.
Nama Penulis : Dinai Sapitri
Jurusan : Psikologi Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang
BP : 18
Artikel ini ditulis dalam rangka penugasan mata kuliah psikologi kognitif dan diterbitkan di media massa.
*Seluruh tulisan ini adalah tanggung jawab penulis






