
MENTAWAI – Masih banyak kaum perempuan di Mentawai yang belum memahami tentang kesehatan, khususnya reproduksi. Karena, rahim membesar belum tentu selalu hamil. Perlu segera mengatasinya dengan melakukan konsultasi dengan petugas kesehatan terdekat.
Baru-baru ini ditemukan satu kasus pasien dari Siberut Selatan, warga Dusun Salappa Desa Muntei yang mengalami pendarahan pada hamil 4 atau 5 bulan. Selama ini, pasien tidak pernah menstruasi dan perut semakin membesar. Setelah dilakukan pemeriksaan di puskesmas terdekat, tidak diperoleh rabaan bentuk janin dan denyut jantung janin.
Dokter Chandra Kurniawan, Spesialis Kebidanan dan Kandungan RSUD Mentawai, Selasa (13/3) mengatakan, kondisi seperti itu perlu diwaspadai akan terjadinya tumor atau kanker rahim. Pada kasus di atas, setelah dilakukan pemeriksaan USG, nampak rahim yang membesar dan sebelumnya dikira hamil. Namun, ternyata rahim membesar karena ada tumor dan tidak ditemukan gambaran janin maupun prduk kehamilan lainnya. Dari pemeriksaan, dokter Chandra mencurigai bahwa tumor yang berada di rahim pasien adalah tumor ganas. Namun, untuk lebih memastikannya harus diperiksa di laboratorium atau pemeriksaan Istopatologi untuk melihat sel-selnya.
Sebenarnya, kata dokter Chandra, ketika dilakukan pemeriksaan di lokasi terdekat, seharusnya perawat jeli melihat pertumbuhan rahim yang tidak sesuai dengan teorinya. Juga perlu diketahui kapan terakhir menstruasi datang, sehingga umur kehamilan bisa pasti. Sayangnya, masih banyak perempuan hamil, terutama di Mentawai, yang tidak ingat kapan menstruasi terakhirnya datang, sehingga sulit untuk menentukan umur kehamilan sesuai atau tidaknya.
Adapun tumor rahim, memiliki gejala pembesaran rahim, gangguan menstruasi atau menstruasi terus-menerus. Artinya, ada gejala-gejala tambahan yang biasanya diawali pembesaran hamil normal atau ada kelainan.
Diakuinya, selama bertugas di Mentawai, pengetahuan kesehatan reproduksi kaum perempuan masih minim. Hal itu sangat perlu edukasi lebih banyak. Selain itu, kelemahan kaum perempuan di Mentawai, kata dokter Chandra, banyak yang tidak bisa membuat keputusan sendiri. Artinya, ketika sakit mengalami pendarahan harus meminta pendapat suami mau dibawa kemana. Sementara, suami juga tidak bisa membuat keputusan sendiri, karena terikat dengan keluarga besarnya.
Menurutnya, tumor rahim rentan terjadi bagi wanita berumur 40 tahun ke atas. Hormon estrogen yang sangat berlebihan yang akan mengakibatkan adanya tumor di rahim.
Faktor risiko lainnya adalah perempuan yang tidak mempunyai anak. Diawali dengan menstruasinya yang terganggu dan perut semakin membesar serta terjadi pendarahan.
Perempuan yang rawan terkena tumor adalah berusia 40 tahun ke atas, karena hormonnya sudah cukup terpapar dari rentang kehidupan wanita. Biasanya banyak tumor di rahim muncul pada usia di pertengahan 30-40 tahun dan tumor /kanker di leher rahim rawan di usia 30 tahun.
“Semoga kejadian ini bisa mengingatkan kaum wanita Mentawai yang merasa hamil untuk lebih sadar memeriksakan kehamilannya dengan lebih baik,” tukasnya. (ers)






