
Melda Riani
Lebih dari satu abad membantu masyarakat Indonesia menyelesaikan masalah tanpa masalah, PT Pegadaian (Persero) nyaris tak disangka akan membuat transformasi besar-besaran. Dengan gadai sebagai core business, PT Pegadaian sebelumnya seperti susah bergerak dari sekadar melapangkan kebutuhan ibu-ibu saat akan memasuki tahun ajaran baru, ramadhan atau saat kebutuhan mendesak di mana tak ada lagi tempat ‘mengadu’.
Bahkan, meski produk tabungan emas, cicilan emas dan sejumlah produk lain di luar core business sudah lama diluncurkan, tapi Pegadaian tetaplah lekat dengan ‘gadai’ dan orang-orang yang kepepet uang. Sehingga, jangankan anak-anak muda kaum milenial, bapak-bapak dan sebagian kaum ibu masih ‘malu-malu’ masuk ke Pegadaian. Bisa dilihat, kantor pegadaian hanya ramai di saat-saat tertentu.
Namun itu dulu. Kini, di usianya yang ke 118 tahun, PT Pegadaian (Persero) telah melakukan transformasi yang sangat mengagumkan jika tak dibilang menakjubkan. HUT ke 118 menandai ‘Era Baru The Gade’, era tranformasi perusahaan yang berdiri sejak 1 April 1901 itu.
Transformasi dilakukan dari konvensional kepada digitalisasi dan sejalan juga dengan inovasi-inovasi menarik lainnya. Tentu saja dengan memanfaatkan gaya hidup serba digital serta meraup konsumen dari para generasi milenial.
Salah satu ide cerdasnya adalah dengan membuat gerai-gerai kopi yang dinamakan ‘The Gade Coffee and Gold’. Gade yang diambil dari bahasa sehari-hari (betawi, red) gadai. Saat ini, ‘The Gade Coffee and Gold’ sudah tersebar di puluhan kota dan ditargetkan 36 gerai akan beroperasi di beberapa kantor cabang di Indonesia.
Gerai kopi memang menjadi tren hidup tersendiri bagi masyarakat urban, terutama anak-anak muda. Dari situ pula, Pegadaian ‘masuk’ kepada anak-anak muda yang tongkrongannya di gerai kopi. Alih-alih menjaja produk dengan brosur-brosur atau flyer, di ‘The Gade Coffee and Gold’ sosialisasi produk pegadaian dilakukan dengan tulisan-tulisan atau kutipan yang ditempel di gelas kopi.
Pegadaian pun seperti menjadi ‘sosok’ yang elegan dan keren di mata anak muda. Bagi anak-anak milenial dan generasi Z, siapa yang tak mau dengan hal-hal keren, instagrammable dan berbau digital?
Seiring dengan itu, Pegadaian semakin eksis dengan produk digital yang telah diluncurkan, yakni Pegadaian Digital Service (PDS) yang dapat diunduh di aplikasi mobile. Hanya dengan beberapa sentuhan di smartphone, kebutuhan transaksi bisa terselesaikan. Per Februari 2019, aplikasi itu sudah diunduh lebih dari 500 ribu kali, khusus di Play Store.
Di aplikasi itu, pengguna dapat menikmati beberapa fitur dan layanan seperti Gadai Online, Pengajuan Pembiayaan Usaha Online, Pembukaan Baru Rekening Tabungan Emas Pegadaian, dan Pembelian Tabungan Emas Pegadaian (Top Up). Pegadaian juga akan mengembangkan fitur dan layanan yang terdapat dalam aplikasi Pegadaian Digital.
Selain itu, menurut Direktur Utama PT Pegadaian (Persero), Kuswiyoto, Pegadaian akan terus melakukan inovasi produk dan sistem layanan digital untuk memenuhi kebutuhan nasabah. Bukan hanya fasilitas layanan saja yang ditingkatkan, tetapi juga menciptakan berbagai produk baru digital yang akan diluncurkan tahun 2019 ini.
Di antara produk baru yang akan segera diluncurkan adalah Gadai on Demand yang merupakan program Pegadaian untuk membantu masyarakat agar lebih mudah mengakses layanan perseroan kepada nasabah. Program tersebut akan bekerjasama dengan perusahaan besar berbasis layanan digital. Dengan program tersebut, nasabah atau calon nasabah yang ingin menggadaikan emas tapi tidak punya waktu datang ke Pegadaian, bisa dijemput dengan ojek online atas kerja sama Pegadaian. Barang diambil di rumah dan nasabah tinggal menunggu dana ditransfer ke rekeningnya.
Hasil dari transformasi yang dilakukan, PT Pegadaian (Persero) berhasil meraih pertumbuhan laba bersih sebesar 10,4% menjadi Rp2,77 triliun pada tahun 2018 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Peningkatan laba bersih tentu sejalan dengan banyak produk inovatif digital yang diluncurkan dan peningkatan layanan yang semakin baik dan efisien.
Menurut Kuswiyoto, perusahaan berhasil menutup tahun 2018 dengan kinerja yang positif. Laba bersih setelah pajak meningkat menjadi Rp2,77 triliun year on year (YOY), dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 2,51 triliun. Laba sebelum pajak tercatat sebesar Rp 3,66 triliun, dibandingkan tahun 2017 sebesar Rp 3,41 triliun atau tumbuh sebesar 10,7 persen.
Di samping itu, total aset juga meningkat 10,8% (YoY) menjadi Rp 52,79 triliun dibandingkan dengan tahun 2017 sebesar Rp 48,68 triliun. Begitu pula dengan pendapatan usaha naik menjadi (YoY) sebesar Rp 11,46 triliun dari Rp10,52 triliun pada tahun 2017.
“Kami optimis tahun 2019 kinerja perusahaan akan meningkat seiring dengan prediksi meningkatnya pertumbuhan ekonomi nasional. Karena makin banyaknya varian produk inovatif yang diluncurkan, seperti Pegadaian Digital Service serta beberapa produk baru juga akan kami perkenalkan dalam waktu dekat ini. Pegadaian juga akan terus membangun berbagai kerjasama dengan berbagai pihak, baik swasta maupun sinergi dengan BUMN,” jelas Kuswiyoto saat paparan kinerja keuangan 2018, Senin (25/3/2019) di Hotel Pullman, Jakarta, sebagaimana dilansir dari laman Pegadaian.co.id.
Tak hanya itu, sekarang orang-orang yang datang ke Pegadaian, usianya pun makin banyak yang di bawah 45 tahun. Selain itu, aplikasi Pegadaian di Appstore juga semakin banyak diunduh, dan pengaksesnya mayoritas laki-laki. Kehadiran produk-produk baru yang diluncurkan Pegadaian diharapkan dapat meningkatkan jumlah nasabah, sehingga target nasabah 12 juta jiwa di tahun 2019 dapat tercapai.
Meski demikian, menurut Kuswiyoto, perusahaan yang dipimpinnya itu belum berpuas diri. Karena, ke depan Pegadaian akan menghadapi tantangan bisnis yang lebih besar sebagai akibat perubahan regulasi, kompetisi, dan perkembangan teknologi.
Untuk itu, ia mengajak seluruh karyawan Pegadaian untuk mengubah mindset dan memiliki semangat baru untuk memberikan kontribusi terbaik bagi perusahaan. Ia pun menilai masih banyak peluang bisnis yang belum diraih secara optimal.
Ke depan, kata Kuswiyoto, meski tetap meningkatkan kinerja gadai sebagai core business, tapi di sisi lain proporsi bisnis non gadai akan semakin ditingkatkan secara progresif. Komposisi portofolio akan berubah dari sebelumnya kinerja bisnis gadai sebesar 84% dan non gadai 16%, secara bertahap menjadi 60% dan 40%.
Direktur Keuangan dan Perencanaan Strategis, Ninis K. Adriani saat menjadi narasumber dalam The Gade Goes to Campus di Universitas Pakuan, Bogor, 6 April 2019 juga menyatakan, beberapa produk berbasis digital akan diluncurkan dalam waktu dekat. Selain Gadai on Demand, juga ada Gadai Efek (saham), Gold Card (titipan emas), dan G-Cash (semacam virtual account).
Sedangkan untuk mengembangkan sistem dan teknologi, menurut Ninis, Pegadaian akan berkolaborasi dengan 5 sampai 6 perusahaan fintech (financial technology) berbasis peer to peer (P2P) lending. Pegadaian akan berperan sebagai leader yang mengontrol dana bagi peminjam di platform fintech.
Dengan berbagai inovasi dan terobosan besar tersebut, Pegadaian bisa dikatakan bukannya berpenampilan semakin tua, tetapi sebaliknya menjadi semakin muda di usia ke 118. Semakin muda karena semakin dekat dengan anak-anak muda. Di samping itu, semakin mudah dengan layanan digital yang ditawarkan. Dari gerai kopi hingga layanan digitalnya, Pegadaian telah membuktikan diri melakukan transformasi yang menakjubkan. (Penulis adalah wartawan padangmedia.com)






