
Bordir Kerancang Ambun Suri makin berkibar, setelah usaha industri rumahtangga itu dilirik Pertamina. Saat ini, pemasaran hasil produksi Ambun Suri telah melanglangbuana ke berbagai negara.
Berawal dari diikutkannya usaha bordir kerancang ini oleh Dinas Koperasi Perdagangan Kota Bukittinggi sebagai salah satu calon mitra binaan PT Pertamina MOR I Medan, sekitar tahun 2016 lalu. Dari hasil seleksi, Ambun Suri salah satu diantara sekian usaha rumah tangga yang diirik Pertamina untuk menjadi mitra binaan.
Ida Arleni, yang memegang pengelolaan usaha tersebut sejak tahun 2015, merasakan kemajuan pesat setelah menjadi mitra binaan Pertamina. Melalui program mitra binaan Pertamina itu, usaha yang merupakan usaha keluarga sejak tahun 1975 ini mendapatkan suntikan modal Rp40 juta.
“Dana tersebut berbentuk pijaman lunak dengan rentang waktu pengembalian selama tiga tahun,” kata Ida.
Dana program kemitraan itu digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi Bordir Kerancang Ambun Suri. Seperti pembelian peralatan dan bahan baku serta biaya operasional.
Namun, menurut Ida, yang membawa perkembangan pesat tersebut bukan hanya bantuan pinjaman yang diberikan. Fasilitasi Pertamina dalam pemasaranlah yang membawa Ambun Suri mengalami kemajuan sangat signifikan.
“Pertamina aktif memfasilitasi Ambun Suri mengikuti berbagai event untuk memperkenalkan produk bordir kerancang hasil produksi, tidak saja ke luar daerah Sumatera Barat tetapi juga ke luar negeri,” ucapnya.
Fasilitasi Pertamina dalam mempromosikan produk Bordir Kerancang Ambun Suri menurut Ida membawa kemajuan sangat pesat. Rumah produksinya mulai dibanjiri pesanan dari luar daerah dan luar negeri.
Untuk meningkatkan produksi, Ida kemudian merekrut beberapa orang tenaga penyulam lagi secara bertahap. Dari semula pekerja hanya 15 orang, saat ini Ida mempekerjakan 40 orang penyulam bordir di Ambun Suri.
“Perkembangan yang saya rasakan sangat luar biasa, setelah fasilitasi Pertamina dalam promosi-promosi di berbagai event di luar daerah dan luar negeri. Ambun Suri kebanjiran pesanan,” cerita Ida.
Seiring perkembangan itu, omset usaha industri rumah tangga yang beralamat di Jalan Supratman nomor 21 Kota Bukittinggi itu pun melonjak drastis. Dari semula hanya mengantongi Rp5 juta hingga Rp10 juta per bulan, saat ini pemasukan sudah mencapai Rp50 juta per bulan.
Ambun Suri memproduksi berbagai sulam bordir mulai dari fashion hingga houseware. Semisal Mukena, hijab, baju, tas, hingga taplak meja, pembungkus kotak tisu dan sebagainya.
Pemasaran dalam negeri datang dari berbagai daerah di Indonesia, seperti ke Batam, Aceh, Medan dan Pulau Jawa disamping dari Sumatera Barat sendiri. Sedangkan pemasaran luar negeri, hasil produksi bordir kerancang Ambun Suri dijual ke Malaysia, Singapura dan beberapa negara lainnya. Pemesanan dari luar negeri, ada yang dikirim, tak jarang juga pembeli datang ke rumah produksi.
Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Sumatera Barat juga pernah mengusung Ambun Suri ke Bangkok, Thailand untuk promosi di negara Gajah Putih tersebut. Pertamina sendiri juga sudah membawa Ambun Suri ke Aljazair.
“Promosi di Aljazair difasilitasi Pertamina sedangkan ke Bangkok sama isteri Gubernur selaku Ketua Dekranasda,” ujarnya.
Gencarnya promosi membuat Ambun Suri kebanjiran pesanan. Kondisi itu berpengaruh positif terhadap omset usaha. Ida Arleni pun berinisiatif memperpendek jangka waktu pengembalian bantuan program binaan. Jangka waktu semula tiga tahun, dia berhasil menyelesaikan pengembalian hanya dalam waktu dua tahun saja.
Sebagai apresiasi atas keberhasilan pembinaan terhadap Ambun Suri, Pertamina justru mengucurkan kembali dana program binaan. Tahun 2018, Ambun Suri kembali mendapatkan dana binaan sebesar Rp75 juta.
Menyoal kualitas bordir kerancang produksi Ambun Suri, Ida menegaskan bertahan dalam orisinilitas. Pekerjaan membordir murni dilakukan dengan tangan atau pure hand craft. Bahan yang dipilih adalah bahan yang berkualitas, dengan corak yang halus.
“Nuansa Minang tetap dipertahankan, dengan bahan berkualitas dan seni bordiran yang halus. Untuk pemilihan warna, menyesuaikan dengan tren kekinian namun tetap dalam nuansa warna khas Minangkabau,” sebutnya.
Karena mempertahankan orisinilitas, Ambun Suri harus mempekerjakan banyak penyulam bordir. Menurut Ida, produksi yng bertahan dengan keaslian tersebut justru menguntungkan karena usaha tetap berjalan sekaligus membuka lapangan kerja.
“Bordir kerancang adalah seni, tidak sekedar usaha dengan orientasi bisnis. Jadi, orisinilitas harus tetap dipertahankan agar nilai seninya tidak hilang,” terangnya.
Menyibak ke belakang, perjalanan industri rumah tangga bordir kerancang Ambun Suri tidak berkembang dengan serta merta. Ida menceritakan, banyak mengalami suka duka dalam mengembangkan usaha tersebut.
Industri rumah tangga Ambun Suri sudah ada sejak tahun 1975, didirikan oleh mertua Ida Arleni. Masa itu, hingga tahun 90-an, usaha berjalan seperti biasa. Memproduksi bordir kerancang dan memasarkannya.
Ida Arleni sendiri masuk ke Ambun Suri pada tahun 1996, saat itu sebagai pekerja sulaman. Satu tahun dia bekerja, terjadi krisis moneter yang berdampak juga terhadap pemasaran. Produksi dan pemasaran tersendat. Stok produksi banyak sedangkan permintaan pasar tengah lesu. Namun kondisi itu bisa dilalui walaupun tingkat produksi berjalan biasa – biasa saja.
Jodoh di tangan Tuhan, Ida Arleni yang setia bekerja di Ambun Suri dipinang menjadi menantu. Hajjah Asnimar Asri, pemilik Ambun Suri menikahkan Ida dengan salah seorang anak laki-lakinya, Iwan Kurniawan tahun 2003.
Hingga tahun 2015, Hajjah Asnimar menyerahkan pengelolaan Ambun Suri kepada Iwan Kurniawan dan Ida Arleni, menantunya. Setahun di tangan Ida dan suami, Ambun Suri dilirik oleh Dinas Koperasi dan Perdagangan Kota Bukittinggi untuk diikutkan dalam program mitra binaan Pertamina.
Terpilih menjadi mitra binaan Pertamina, membuat Ambun Suri di tangan Ida Arleni semakin berkibar. Menurut Ida, dana mitra binaan hanya sebagai perantara peningkatan produksi. Menurutnya, yang lebih berdampak besar adalah fasilitasi Pertamina dalam promosi.
“Produksi tanpa promosi tidak akan berdampak besar kepada kemajuan usaha. Produksi meningkat tetapi pemasaran tersendat membuat barang menumpuk dan usaha akan mengalami kerugian,” katanya.
Dia merasa beruntung mendapat kesempatan menjadi mitra binaan Pertamina. Melalui program mitra binaan tersebut, Ida Arleni dapat mengenal pasar lebih luas lagi, hingga ke luar negeri.
Bahkan, melalui fasilitasi Pertamina, Bordir Kerancang Ambun Suri juga terpajang di salah satu gerai di Bandara Soekarno Hatta. Tahun 2018 lalu, gerai Ambun Suri di Bandara Internasional Soekarno Hatta ini berhasil menyabet apresiasi Pertamina Award, juara II untuk kategori Mitra dengan Penjualan Tertinggi.
Unit Manager Communication & CSR PT Pertamina MOR I, Roby Hervindo menyebutkan, program mitra binaan merupakan upaya Pertamina dalam memacu perekonomian masyarakat. Program ini ditujukan untuk pelaku usaha kecil menengah (UKM) dengan harapan, program mitra binaan dapat membawa usaha mitra binaan menjadi berkembang dan maju.
“Program Mitra Binaan merupakan bentuk kepedulian Pertamina, dengan tujuan membina pelaku UKM dan mendorong mereka untuk lebih maju dalam usahanya,” kata Roby.
Dalam program mitra binaan, Pertamina tidak sekedar mengucurkan dana bantuan. Upaya terpenting adalah bagaimana pelaku UKM yang menjadi mitra binaan dapat mengelola usahanya dengan baik.
“Terutama sekali bagaimana agar mitra binaan mendapatkan jaringan pemasaran terhadap hasil produksi dari usaha yang digelutinya,” terang Roby.
Program mitra binaan, lanjutnya, bukan sekedar memberikan bantuan berupa pinjaman. Tetapi hal terpenting adalah bagaimana memberikan fasilitasi kepada pelaku usaha memenej usaha, membantu promosi dan pemasaran serta fasilitasi lainnya dalam upaya mendorong kemajuan UKM.
“Kendala yang dihadapi pelaku UKM bukan hanya permodalan, tetapi juga jaringan pemasaran. Ini yang menjadi tujuan dari program mitra binaan Pertamina sehingga pelaku UKM mendapatkan akses permodalan sekaligus mendapatkan jaringan pemasaran,” tandasnya. (*)
(Keteragan: Poto – poto adalah koleksi pribadi Ida Arleni, owner Home Industri Ambun Suri)
Penulis : Febry Chaniago (PEBRIUS DWINUS) Wartawan Madya 9749
Ditulis untuk dilombakan dalam Anugerah Jurnalistik Pertamina (AJP) PT Pertamina MOR I tahun 2019






