Krisis Kepercayaan Penyebab Rendahnya Partisipasi Politik
  • Home
  • Berita
  • Krisis Kepercayaan Penyebab Rendahnya Partisipasi Politik

Krisis Kepercayaan Penyebab Rendahnya Partisipasi Politik

Seminar Nasional penguatan peran kelompok masyarakat strategis untuk meningkatkan partisipasi dan aktifitas politik elektoral di Sumbar, Senin (14/11). (feb)
Seminar Nasional penguatan peran kelompok masyarakat strategis untuk meningkatkan partisipasi dan aktifitas politik elektoral di Sumbar, Senin (14/11). (feb)

PADANG – Faktor penyebab masih rendahnya partisipasi masyarakat dalam berdemokrasi adalah karena ketidak-yakinan publik kepada elit politik mampu mengubah keadaan. Selain itu, ketidakpercayaan terhadap pemimpin juga menjadi alasan dominan rendahnya partisipasi.

Hal itu diungkap Dosen Fakultas Ilmu Politik Universitas Andalas Aidinil Zetra dalam seminar nasional Penguatan Peran Kelompok Masyarakat Strategis untuk meningkatkan Partisipasi dan aktifitas Elektoral Politik yang diselenggarakan atas kerjasama Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Fisipol Unand, Senin (14/11). Dia mengungkapkan, berdasarkan hasil survei yang dipaparkan dalam seminar nasional tersebut, masyarakat tidak berpartisipasi dengan alasan tidak yakin mampu mengubah keadaan berada pada posisi 32 persen dari 428 responden.

“Kondisi ini menuntut upaya penguatan terhadap kelompok-kelompok strategis dalam rangka meningkatkan literasi politik masyarakat, melihat hasil survei tersebut,” katanya.

Literasi politik, katanya, menjadi penting mengingat alasan warga tidak berpartisipasi dalam pemilihan karena merasa belum merupakan kewajiban juga memiliki persentase cukup tinggi, sekitar 19 persen dari responden. Sedangkan alasan tidak percaya kepada pemimpin 11 persen dari responden dan tidak tahu bagaimana berpartisipasi sekitar 16 persen.

Kelompok strategis yang dimaksud oleh Aidinil antara lain usia pra pemilih, pemilih pemula, pemilih perempuan, alim ulama dan tokoh masyarakat atau tokoh adat serta penyandang disabilitas. Penguatan kelompok strategis ini bisa dilakukan dengan meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap politik.

“Kelompok strategis ini memiliki kemampuan untuk mempengaruhi opini publik,” ujarnya.

Sementara itu Ketua KPU Provinsi Sumatera Barat Amnasmen menambahkan, pendidikan politik harus terus diberikan kepada masyarakat dalam rangka mewujudkan demokrasi yang berkualitas. Dengan semakin memahami arti penting dari keikutsertaan dalam proses demokrasi, maka kualitas dari demokrasi itu akan semakin baik.

KPU, katanya, terus berupaya menggenjot partisipasi melalui penularan pendidikan politik kepada masyarakat dengan merangkul berbagai elemen. Mulai dari kelompok mahasiswa, pemilih pemula, alim ulama dan tokoh masyarakat atau tokoh adat hingga komunitas yang dirasakan potensial dalam memberikan pemahaman terhadap pentingnya partisipasi dalam proses demokrasi. (feb)

Berita Terkait

Leave a Reply