AGAM – Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Agam, Yulnasri mengakui produk pertanian di daerah itu saat ini masih banyak dijual secara mentah tanpa diolah terlebih dahulu. Hal itu membuat nilai jual produk menjadi rendah dan tak bersaing.
Sebagai contoh, biji kopi mentah hanya dihargai sekitar Rp22.000 per kilogram. Padahal, jika diolah menjadi bubuk kopi, nilai jualnya bisa mencapai Rp80.000.
“Sekilo kopi bila direndang kemudian digiling akan menjadi bubuk kopi 0,8 Kg. Bubuk kopi tersebut akan bernilai jual Rp80.000,” katanya saat ditemui padangmedia.com, Rabu (3/8).
Karena itu, untuk meningkatkan nilai jual produk pertanian dan perkebunan, ia menganjurkan petani untuk membentuk kelompok. Kelompok nantinya bisa mengolah hasil pertanian dan perkebunan. Dengan demikian, petani akan menguasai produk dari hulu sampai hilir.
Kampung Kopi
Menyinggung rencana warga Malalak untuk membangun Kampung Kopi, Yulnasri mengaku siap membantu pengadaan bibit kopi jenis arabika. Ia menganjurkan agar menanam kopi arabika karena kopi jenis itu lebih menguntungkan. Pasar dunia sudah mengenal kalau kopi arabika produk Indonesia memiliki kualitas lebih unggul.
“Kalau untuk pengadaan bibit, kami akan bantu dengan syarat, lahan tempat pembangunan kampung kopi itu bukan berada dalam kawasan hutan negara,” ujarnya.
Untuk 20 hektare lahan, setidaknya dibutuhkan 50.000 batang bibit kopi. Bila tanaman ditanam dan dipelihara dengan baik, akan mampu menyejahterakan anggota kelompok di Kampung Kopi tersebut. Ia berharap tanaman kopi di Malalak bukan hanya diminati warga kampung Kopi di Nagari Malalak Barat saja, tetapi juga di Malalak Timur, Utara dan Selatan, sehingga nantinya Malalak bukan hanya punya Kampung Kopi, tetapi juga Kecamatan Kopi. (fajar)







