PADANG- Kenaikan harga aneka cabai memberikan tekanan kepada inflasi tahunan Sumatera Barat pada Oktober 2026. Bank Indonesia berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik, inflasi tahunan Sumatera Barat pada Oktober 2026 tercatat sebesar 3,97 persen year on year (yoy), meningkat dibandingkan September 2026 sebesar 3,50 persen (yoy).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat Mohamad Abdul Majid Ikram menyebutkan, lonjakan harga aneka cabai di seluruh wilayah sampel Indeks Harga Konsumen (IHK) mendorong peningkatan inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Berdasarkan hasil pemantauan TPID dan pelaku usaha, kenaikan harga cabai dipengaruhi tingginya permintaan dari luar daerah di tengah berkurangnya pasokan nasional akibat dampak El Niño.
“Dari sisi produksi, curah hujan yang tinggi dan cuaca yang tidak menentu mengganggu produktivitas di sejumlah sentra produksi cabai di Sumatera Barat sehingga menyebabkan penurunan hasil panen, bahkan gagal panen pada sebagian lahan,” terang Majid, Selasa (3/11/2026).
Majid menambahkan, inflasi bulanan Sumatera Barat pada Oktober 2026 tercatat sebesar 0,86 persen month to month (mtm), lebih tinggi dibandingkan September 2026 sebesar 0,60 persen (mtm). Sementara secara kumulatif, inflasi Januari hingga Oktober 2026 tercatat sebesar 2,70 persen year to date (ytd) dan masih berada pada level yang relatif terjaga.
Ia memaparkan, secara bulanan, peningkatan inflasi Oktober 2026 terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau seiring lonjakan harga aneka cabai di seluruh wilayah sampel IHK. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 2,38 persen (mtm) dengan andil sebesar 0,80 persen, terutama disumbang oleh kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, dan cabai hijau.
Menurut Majid, cabai merah menjadi penyumbang inflasi terbesar pada Oktober 2026, yang mengalami inflasi sebesar 40,06 persen (mtm) dengan andil inflasi sebesar 0,92 persen. Kenaikan harga cabai merah terjadi di seluruh kabupaten/kota sampel IHK. Inflasi tertinggi tercatat di Kota Padang sebesar 44,56 persen dan andil inflasi terbesar di Kabupaten Pasaman Barat sebesar 1,63 persen.
Peningkatan inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan dan normalisasi tarif transportasi. Komoditas utama penahan inflasi bulanan adalah daging ayam ras, bawang merah, angkutan udara, ikan serai, dan kentang. Penurunan harga daging ayam ras dan bawang merah mencerminkan membaiknya pasokan komoditas tersebut dibandingkan periode sebelumnya, sementara normalisasi tarif angkutan udara turut menahan tekanan inflasi yang lebih tinggi.
Secara tahunan, Majid menyampaikan, kenaikan inflasi terutama didorong oleh masih tingginya harga sejumlah komoditas pangan strategis dan energi. Komoditas utama penyumbang inflasi tahunan adalah beras, bensin, cabai merah, daging ayam ras, dan ikan cakalang/sisik. Inflasi tahunan yang lebih tinggi tertahan oleh deflasi pada bawang merah, telur ayam ras, kentang, wortel, dan jahe.
“Kondisi tersebut menunjukkan bahwa normalisasi harga sebagian komoditas hortikultura masih berperan dalam menahan tekanan inflasi yang lebih besar,” ujarnya.
Ia merinci, secara spasial seluruh kabupaten/kota sampel IHK di Sumatera Barat mengalami inflasi pada Oktober 2026. Inflasi bulanan tertinggi terjadi di Kabupaten Pasaman Barat sebesar 1,42 persen (mtm), diikuti Kota Padang sebesar 0,78 persen (mtm), Kabupaten Dharmasraya sebesar 0,59 persen (mtm), dan Kota Bukittinggi sebesar 0,55 persen (mtm).
Sementara itu, secara tahunan inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Dharmasraya sebesar 5,25 persen (yoy), diikuti Kabupaten Pasaman Barat sebesar 4,61 persen (yoy), Kota Bukittinggi sebesar 3,83 persen (yoy), dan Kota Padang sebesar 3,60 persen (yoy). Secara kumulatif, inflasi tertinggi juga tercatat di Kabupaten Dharmasraya sebesar 4,38 persen (ytd).
Sehubungan dengan meningkatnya tekanan inflasi hortikultura, TPID Provinsi dan Kabupaten/Kota di Sumatera Barat bersama Bank Indonesia terus memperkuat upaya stabilisasi harga dan pasokan pangan. Upaya tersebut dilakukan melalui pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) dan operasi pasar, optimalisasi Kerja Sama Antar Daerah (KAD), penguatan neraca pangan, serta fasilitasi business matching antara kelompok tani champion, off-taker, dan mitra logistik.
“Selain itu, koordinasi dengan sentra produksi cabai juga terus diperkuat guna memastikan ketersediaan pasokan selama periode peningkatan permintaan menjelang akhir tahun,” lanjutnya.
Ke depan, kata Majid, tekanan inflasi perlu terus diwaspadai seiring tingginya curah hujan dan potensi peningkatan permintaan menjelang HBKN Natal dan Tahun Baru. Namun demikian, tekanan inflasi diperkirakan mulai mereda pada November 2026 seiring membaiknya pasokan cabai akibat mulai berlangsungnya panen di Solok, Tanah Datar, Dharmasraya, dan Pasaman Barat, serta dukungan pasokan dari luar daerah termasuk Sumatera Utara.
“Hingga akhir tahun 2026 inflasi Sumatera Barat diperkirakan tetap terjaga dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen, didukung oleh membaiknya pasokan pangan dan berlanjutnya sinergi pengendalian inflasi TPID,” tutupnya. F





