PADANG- Sehubungan dengan kenaikan harga cabai merah, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota di seluruh Sumatera Barat bersama Bank Indonesia dan BULOG telah melakukan penguatan stabilisasi Harga. Penguatan dilakukan melalui operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah (GPM) berprinsip lima Tepat (waktu, lokasi, komoditas, jumlah, dan sasaran) guna menjaga keterjangkauan harga dan ketersediaan pasokan.
“Selain itu, Kerja Sama Antar Daerah (KAD) berbasis neraca pangan juga dioptimalkan, termasuk fasilitasi business matching antara petani, off-taker, dan mitra logistik untuk menjaga kecukupan pasokan dan stabilitas Harga,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat Mohamad Abdul Majid Ikram, Jumat (2/10/2026)
Ia menjelaskan, berdasarkan pengamatan TPID di lapangan, saat ini stok cabai merah di sentra produksi, termasuk di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Selain itu, masuknya pasokan cabai merah dari Jawa Tengah turut menambah ketersediaan pasokan di pasar sehingga berpotensi menahan tekanan inflasi lebih lanjut.
“Selanjutnya, penguatan ketahanan pangan juga terus dilakukan, antara lain melalui peningkatan produktivitas hortikultura, pengembangan urban farming, serta pemberdayaan kelompok tani champion cabai merah,” ujarnya.
Ke depan, lanjut Majid, inflasi Sumatera Barat diprakirakan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1 persen (yoy). Namun demikian, sejumlah risiko masih perlu dicermati. Risiko tersebut antara lain kenaikan harga pangan dan energi global, gangguan produksi akibat cuaca ekstrem dan bencana alam.
“Termasuk hambatan distribusi dan pasokan antardaerah, disparitas harga antarwilayah yang berpotensi mendorong aliran keluar komoditas, serta tekanan nilai tukar rupiah yang dapat meningkatkan biaya produksi dan imported inflation,” tutupnya. F






