Desember 2023 Turun Jadi 0,28 Persen, Inflasi Sumbar Terkendali
  • Home
  • Berita
  • Desember 2023 Turun Jadi 0,28 Persen, Inflasi Sumbar Terkendali

Desember 2023 Turun Jadi 0,28 Persen, Inflasi Sumbar Terkendali

Image

PADANG- Indek Harga Konsumen (IHK) gabungan dua kota di Provinsi Sumatera Barat pada Desember 2023 terkendali. Inflasi turun dari 0,57 persen month to month (mtm) pada bulan November 2023 menjadi 0,28 persen (mtm) pada Desember 2023.

Demikian disampaikan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat Christoveny melalui siaran pers yang diterima Kamis (4/1/2024) berdasarkan berita resmi statistik yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Secara tahunan, katanya, inflasi gabungan Sumatera Barat juga mengalami penurunan dengan realisasi sebesar 2,47 persen year on year (yoy) dibandingkan periode sebelumnya sebesar 3,14 persen (yoy).

“IHK gabungan dua kota di Sumatera Barat pada Desember 2023 terkendali, secara bulanan dan secara tahunan terlihat turun dibanding periode sebelumnya,” kata Christoveny.

Dia merinci, inflasi pada Desember 2023 disumbang oleh Kota Padang dengan realisasi sebesar 0,34 persen (mtm) sementara Kota Bukittinggi mengalami deflasi dengan realisasi sebesar -0,14 persen (mtm). Inflasi Kota Padang turun dibanding Bulan November 2023 yang sebesar 0,60 persen, sedangkan Kota Bukittinggi turun dari yang sebelumnya mengalami inflasi sebesar 0,34 persen.

“Namun jika diamati secara tahunan, laju inflasi kedua kota IHK tersebut mengalami penurunan dengan realisasi Kota Padang sebesar 2,55 persen (yoy) dan Kota Bukittinggi 1,88 persen (yoy),” ujarnya.

“Realisasi tersebut membawa inflasi Kota Padang berada pada peringkat ke-56 dan Kota Bukittinggi peringkat ke-81 dari 90 kabupaten/kota yang mengalami inflasi di Indonesia,” tambahnya.

Menurutnya, inflasi gabungan dua kota di Sumatera Barat pada Desember 2023 tersebut dipengaruhi oleh kelompok transportasi dengan realisasi inflasi sebesar 1,31 persen (mtm) dan andil sebesar 0,20 persen (mtm). Inflasi kelompok tersebut terutama bersumber dari peningkatan tarif angkutan udara sebesar 9,81 persen (mtm) dengan andil 0,19 persen (mtm) dan harga mobil sebesar 0,44 persen (mtm) dengan andil 0,01 persen (mtm).

Kelompok penyumbang inflasi selanjutnya yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatatkan inflasi sebesar 0,26 persen (mtm) dengan andil 0,08 persen (mtm). Inflasi kelompok tersebut dipengaruhi oleh naiknya harga komoditas bawang merah, tomat, dan daging ayam ras.

Laju inflasi lebih lanjut tertahan oleh deflasi pada kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar lainnya sebesar -0,25 persen (mtm) dengan andil -0,03 persen (mtm). Deflasi bersumber dari penurunan harga bahan bakar rumah tangga (gas elpiji) seiring dengan perbaikan ketersediaan dan distribusi pasokan di tengah penurunan harga acuan rata-rata global.

Veny menyebutkan, inflasi tahunan Sumatera Barat secara keseluruhan terkendali sehingga berada pada sekitaran batas bawah target 3±1 persen (yoy) dan menurun signifikan dibandingkan tahun 2022 sebesar 7,43 persen (yoy).

“Capaian tersebut tidak lepas dari sinergi yang kuat dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Barat dalam mengendalikan harga, memastikan ketersediaan pasokan, mendukung kelancaran distribusi serta melakukan berbagai kegiatan komunikasi efektif,” tandasnya. */F

Berita Terkait

Leave a Reply