Dipicu Kenaikan Harga Cabai Merah, Inflasi di Sumbar Masih Berlanjut
  • Home
  • Berita
  • Dipicu Kenaikan Harga Cabai Merah, Inflasi di Sumbar Masih Berlanjut

Dipicu Kenaikan Harga Cabai Merah, Inflasi di Sumbar Masih Berlanjut

PADANG – Keterbatasan pasokan Cabai merah di dalam wilayah Sumatera Barat dan dari pulau Jawa akibat curah hujan tinggi menyebabkan inflasi berlanjut di bulan Juni 2022. Cabai merah memberikan andil inflasi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,18 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia wilayah Sumatera Barat Wahyu Purnama A menyampaikan kondisi indek harga konsumen (IHK) dalam siaran pers, Selasa (5/7/2022). Menurut Wahyu, IHK tersebut berdasarkan berita resmi statistik yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS).

“IHK Sumbar pada Juni mengalami inflasi sebesar 1,18 persen, sedikit turun dibanding bulan Mei yang mencapai 1,40 persen (month to month/ mtm),” kata Wahyu.

Menurutnya, kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi sebesar 3,84 persen (mtm) dengan andil sebesar 1,18 persen, dipicu oleh kenaikan harga pada sejumlah komoditi terutama cabai merah yang memberikan andil 1,18 persen. Sedangkan bawang merah memberikan andil sebesar 0,11 persen (mtm).

Bawang merah, lanjut Wahyu, mengalami inflasi karena didorong oleh terbatasnya pasokan lokal akibat belum masuknya masa panen di Sumatera Barat. Selain itu, juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi sehingga menurunkan kualitas dan menjadi kendala dalam proses pengeringan hasil panen.

Dia menambahkan, kenaikan inflasi lebih lanjut pada kelompok makanan, minuman dan tembakau pada Juni 2022 bisa tertahan karena beberapa komoditi lain yang memengaruhi mengalami deflasi. Komoditi tersebut seperti daging ayam ras, jengkol dan minyak goreng, yang masing-masing mengalami deflasi -0,22 persen, -0,05 persen dan -0,04 persen (mtm). Deflasi disebabkan karena permintaan daging ayam ras yang kembali normal, jengkol yang sudah masuk masa panen serta permintaan minyak goreng yang kembali normal.

Pada kelompok transportasi, Sumatera Barat mengalami deflasi sebesar 0,99 persen pada Juni 2022. Dipicu oleh penurunan tarif angkutan udara dan kendaraan carteran. Deflasi pada kelompok tersebut memberikan andil pada inflasi sebesar -0,14 persen (mtm).

Wahyu menjelaskan, IHK di Sumatera Barat terbentuk dari gabungan dua kota yaitu Kota Padang dan Bukittinggi. Secara spasial, Kota Padang mengalami inflasi sebesar 1,16 persen (mtm). Sedangkan Kota Bukittinggi sebesar 1,28 persen (mtm).

Meskipun sedikit menurun secara bulanan, namun inflasi Sumatera Barat meningkat secara tahunan. Pada Juni 2022, inflasi berada pada posisi 6,60 persen year on year (yoy), meningkat dibanding Mei 2022 yang sebesar 5,18 persen (yoy).

Demikian juga secara tahun berjalan (year to date/ ytd). Inflasi Sumatera Barat sampai dengan Juni 2022 tercatat sebesar 5,21 persen (ytd). Meningkat dibanding realisasi pada Mei 2022 yang sebesar 3,98 persen (ytd).

Wahyu menegaskan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Barat secara aktif telah melakukan berbagai langkah pengendalian inflasi. Langkah tersebut diambil untuk menjaga inflasi tetap dalam keadaan rendah dan terkendali di tengah momentum pemulihan ekonomi. (*/Feb)

Berita Terkait

Leave a Reply