Pesan Para Penyintas: Patuhi Protokol Kesehatan!
  • Home
  • Artikel
  • Pesan Para Penyintas: Patuhi Protokol Kesehatan!

Pesan Para Penyintas: Patuhi Protokol Kesehatan!

Suasana rumah isolasi di Pasia Nan tigo Kecamatan Koto Tangah Kota Padang.

Perumahan nelayan di kawasan Pasia Nan Tigo Kecamatan Koto Tangah Kota Padang, Sumatera Barat telah selama beberapa waktu dijadikan sebagai fasilitas layanan isolasi bagi warga kota yang terpapar Covid-19, terutama yang bergejala ringan. Pemerintah Kota Padang menyulap perumahan tersebut menjadi lokasi karantina dengan melengkapi sarana prasarana yang memadai.

Beberapa waktu terakhir, lokasi isolasi yang bisa menampung sekitar 150-an orang pasien itu setiap hari dalam kondisi penuh. Hal itu seiring dengan lonjakan kasus positif Covid-19 yang dialami Kota Padang dan Sumatera Barat pada umumnya yang diindikasikan telah menyebarnya virus varian Delta, yang memiliki ciri-ciri cepat menyebar.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang Feri Mulyani Hamid, secara rata-rata, di Kota Padang, kasus orang terpapar mencapai 400-an per hari. Bahkan ada yang hampir mendekati angka 600 orang.

“Tingginya kasus positif ini karena memang disebabkan varian Delta sudah masuk ke Sumbar. Risiko penyebarannya lebih cepat,” ungkap Feri Mulyani mengutip laman Diskominfo Kota Padang, Jumat (23/7/2021). (padangmedia: Kadinkes Padang Ingatkan Varian Delta Masuk, Risiko Penularan Lebih Cepat, Perketat Prokes).

Dokter Kusnedi, Kepala Rumah Karantina Rumah Nelayan Pasia Nan Tigo menuturkan, ada 165 orang pasien positif yang menjalani isolasi. Meskipun kapasitas hanya 150-an, namun sebagian pasien ada yag merupakan satu keluarga sehingga penempatannya di rumah isolasi bisa digabung.

“Tapi kalau pasien terus bertambah banyak sementara yang berhasil negatif dan keluar dari rumah karantina tidak sebanding, tentunya akan over kapasitas. Tidak bisa ditampung lagi di rumah isolasi,” tuturnya.

Suasana rumah isolasi di Pasia Nan tigo Kecamatan Koto Tangah Kota Padang.

Seorang penyintas yang “terpaksa” harus menjalani isolasi di fasilitas karantina rumah nelayan Pasia Nan Tigo, V (pr, 31) menceritakan pengalaman sejak terpapar hingga harus menjalani karantina. Diakui, fasilitas yang disediakan Pemko Padang untuk menjalani isolasi cukup nyaman. “Namun, yang namanya sedang terpapar Covid-19 dan mengalami gejala, suasana nyaman itu tak ada artinya,” cerita V.

Terpapar Covid-19 membuat dirinya tersiksa, susah bernafas, mengalami batuk dan meriang serta indera penciuman dan perasa seperti tidak berfungsi. Beruntung V tidak memiliki penyakit penyerta (komorbid) sehingga gejala yang dirasakan hanya sampai di situ, tidak sampai parah dan saat ini sudah kembali beraktivitas normal setelah dua kali konversi negatif. Akhirnya, V berhasil terbebas dari Covid-19 setelah sekitar dua pekan menjalani isolasi.

Meski demikian, V menceritakan, selama menjalani isolasi adalah hari-hari yang panjang. Waktu terasa berjalan lambat. Dia terpaksa mengisolasi diri di fasilitas karantina karena ada anak dan orangtua di rumah yang harus dilindungi. Dia khawatir virus yang sedang bersarang di tubuhnya menular kepada keluarga tercinta dan tidak bisa membayangkan jika salah seorang dari mereka memiliki komorbid yang bisa berakibat fatal.

“Rasa rindu pada keluarga, jauh dari anak-anak menjadi pendorong semangat untuk segera sembuh sehingga saran dari dokter yang merawat semuanya diikuti. Mengkonsumsi berbagai macam makanan dan minuman yang bisa meningkatkan imun tubuh, berjemur, berolahraga, semuanya diikuti,” kenangnya.

Penyintas Covid-19 lainnya, W (lk, 35), juga menceritakan hal yang sama. W mengaku, dirinya sekeluarga terpapar Covid-19. Istri dan anak-anaknya yang salah satunya masih di bawah lima tahun (Balita). Meskipun hanya mengalami sedikit sesak nafas dan meriang namun, sejak positif terpapar hingga dua kali konversi negatif merupakan hari yang sangat menyiksa.

“Saya terpapar sekeluarga, isteri dan anak-anak. Ada yang masih balita juga, semua kami diisolasi di sini,” ujarnya.

Kepada masyarakat di luar, pasien positif Covid-19 yang sedang menjalani isolasi di rumah karantina berpesan, agar disiplin dan konsisten mengikuti protokol kesehatan. Memakai masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan dengan sabun serta menghindari kerumunan. Para penyintas yang terpapar karena berbagai sebab, terutama karena sempat kontak erat dengan orang positif yang mungkin saja tidak menyadari kalau sudah terpapar karena tanpa gejala (OTG).

“Jadi, untuk menghindari, sebagai langkah antisipasi terutama terhadap orang tanpa gejala, langkah pentingnya adalah taat menerapkan protokol kesehatan. Memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan,” ajak W.

Sementara itu, sejak beberapa pekan terakhir, terjadi lonjakan kasus positif Covid-19 di Sumatera Barat. Terbanyak dari Kota Padang, serta beberapa daerah seperti Kabupaten Agam, Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kabupaten Pesisir Selatan, Tanahdatar, Sijunjung, Kota Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota, bahkan Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Data terkini Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Sumatera Barat, Kamis (29/7/2021), kasus positif Covid-19 sudah mencapai 69.110 orang. Penambahan harian pada Kamis (29/7) tersebut merupakan yang tertinggi selama masa pandemi yaitu bertambah 1.036 orang.

Dari jumlah kumulasi positif tersebut, sudah dinyatakan sembuh sebanyak 55.875 orang atau 80,85 persen dari total kasus positif. Kasus meninggal sebanyak 1.466 orang atau 2,12 persen dari total kasus positif. Sedangkan, 11.769 orang kasus aktif lainnya atau 17,03 persen saat ini menjalani perawatan atau isolasi. (padangmedia: “Rekor Baru” Kasus Covid-19 di Sumbar, 1.036 Orang Positif)

Upaya pencegahan penyebaran Covid-19 masih terus digencarkan di seluruh kabupaten dan kota. Selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), operasi yustisi kesehatan dalam rangka penegakan protokol kesehatan terus digencarkan, serta pemberian vaksinasi juga terus digenjot.

Untuk membantu masyarakat yang sedang kesulitan menghadapi pandemi, pemerintah juga telah menyalurkan berbagai bantuan bahan pokok pangan. Harapannya, dengan bantuan tersebut dapat membantu meringankan beban masyarakat sekaligus dapat mengurangi aktivitas di luar rumah.

Satgas Provinsi dan kabupaten/ kota juga meminta pengaktifan posko-posko hingga ke lingkungan terkecil. Tujuannya untuk memantau kegiatan masyarakat, mencegah adanya kerumunan serta cepat tanggap jika ada warganya yang positif terpapar Covid-19. Dukungan sosial terhadap pasien positif yang sedang menjalani isolasi mandiri juga sangat dibutuhkan. Baik dukungan secara moril maupun materil sehingga orang yang positif dapat dengan tenang menjalani proses penyembuhan dan tidak merasa dikucilkan.

Kita semua tentunya berharap, pandemi Covid-19 ini cepat berlalu. Dampak yang ditimbulkan selama satu setengah tahun pandemi tidak hanya kepada dampak kesehatan namun kepada perekonomian masyarakat. Harapan itu mestinya diikuti dengan kedisiplinan menerapkan protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah. Memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan serta menghindari kerumunan merupakan langkah utama untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Selain itu, suntik vaksinasi merupakan upaya meningkatkan kekebalan tubuh agar kuat menghadapi serangan virus corona. Agar membentuk kekebalan kelompok (herd imunity), masyarakat harus berpartisipasi aktif mendapatkan vaksinasi. Pemprov dan Pemerintah kabupaten/ kota di Sumbar terus menggenjot pemberian vaksinasi kepada masyarakat. (*)

Pebri D Chaniago

Berita Terkait

Leave a Reply