
PADANG- Budayawan dan pegiat seni Ery Mefri akan mempertunjukkan “perlawanan” atau “Marentak” di Helat (Alek) Malewakan (peresmian) Yayasan Pusat Kebudayaan Minangkabau (PKM), Rabu (2/6/2021) mendatang. Marentak, dalam kosa kata Minangkabau memiliki makna sebagai sikap perlawanan terhadap suatu keadaan yang dinilai tidak sesuai dengan hati nurani.
Pendiri dan pemilik Ladang Seni Nan Jombang yang akan bertindak sebagai tuan rumah dalam Alek Malewakan PKM itu akan mempertontokan tari berjudul “Marentak Ranah Bundo”. Menurut Ery, tema perlawanan tersebut diangkat, sebagai ungkapan kekhawtiran terhadap adat budaya dan tradisi yang semakin digerus berbagai kondisi dan situasi.
“Mengapa Marentak Ranah Bundo menjadi judul dari tari yang akan ditampilkan di alek nanti? Ini merupakan sebuah ungkapan perlawanan terhadap kekhawatiran akan kondisi yang baik secara langsung maupun tidak menyebabkan nilai adat budaya dan tradisi masyarakat Minangkabau tergerus,” ungkap Ery kepada wartawan dalam konferensi pers Alek Malewakan PKM di sanggarnya, Senin (31/5/2021).
Ery menegaskan, Ranah Bundo (Ibu Pertiwi) melawan, tidak menerima terhadap tergerusnya nilai-nilai sosial budaya baik yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah maupun dari perilaku masyarakat itu sendiri. Melalui gerak tari, Ery ingin mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kemungkinan kesalahan yang akan menggerus kearifan lokal masyarakat dan melawan hal itu agar tidak terjadi.
“Untuk lebih menghayati apa pesan yang disampaikan melalui Marentak Ranah Bundo, nanti silakan ditonton sampai akhir,” ungkapnya.
Namun yang pasti, Ery membeberkan salah satu yang dikhawatirkan mulai terancam dalam kehidupan masyarakat Minangkabau adalah sistem matrilinial (sistem kekerabatan adat kepada pihak ibu). Dia menegaskan, tidak mudah menyatukan filosofi Adat Basandi Syara dan Syara Basandi Kitabullah (ABS-SBK) dengan sistem matrilinial.
“Pada satu sisi, masyarakat Minangkabau teguh memegang ajaran Islam, sementara di sisi lain sistem kekerabatan adat dibangun dari pihak ibu. Ini merupakan keunikan dan membutuhkan peradaban tinggi untuk mengimplementasikan. Buktinya, masyarakat Minangkabau mampu menjalankannya secara bersamaan, teguh memegang agama dan tetap bersandar kepada sistem matrilinial,” ujarnya.
Membaca “ancaman” terhadap sistem matrilinial tersebut menjadi salah satu alasan bagi Ery mengangkat Marentak Ranah Bundo ke atas pentas. Mengimpelementasikan kritik ke dalam gerakan tari, sebagai simbol perlawanan terhadap upaya yang akan mengancam tercerabutnya nilai-nilai budaya yang telah menjadi jati diri bangsa sejak lama.
Alek Malewakan PKM akan digelar di Ladang Seni Nan Jombang, dihadiri oleh Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi dan sejumlah budayawan. PKM memfungsikan diri sebagai lembaga resmi berbadan hukum sebagai forum tempat berdiskusi, sebagai “Rumah Gadang” tempat berdialog membicarakan masalah aktual dalam usaha pemajuan kebudayaan Minangkabau. Juga akan menjadi mitra bagi pemerintah dan nonpemerintah dalam penelitian dan pengkajian serta menggali pemikiran terkait kebudayaan Minangkabau yang menjadi bagian dari kekayaan kebudayaan Indonesia.
PKM didirikan sebagai lembaga berbadan hukum pada tahun 2015, setelah dimunculkan gagasannya pertama kali oleh para budayawan Sumatera Barat pada tahun 2011. Periode pertama tahun 2015-2020, PKM dinakhodai almarhum Profesor Mestika Zed. Periode kedua ini, ketua umum PKM dipercayakan kepada Dr. Shofwan Karim. (Febry)






