Jatah Pupuk Subsidi Solsel tahun 2021 Turun Drastis
  • Home
  • Berita
  • Jatah Pupuk Subsidi Solsel tahun 2021 Turun Drastis

Jatah Pupuk Subsidi Solsel tahun 2021 Turun Drastis

Image
Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solsel Del Irwan. (Siska)
Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solsel Del Irwan. (Siska)

SOLSEL – Kabupaten Solok Selatan (Solsel) tahun 2021 hanya mendapatkan kuota distribusi pupuk subsidi sebanyak 5.714 ton untuk lima jenis pupuk subsidi. Jumlah tersebut menurun drastis dari kuota distribusi tahun 2020 yang mencapai 9.247 ton atau turun 3.533 ton.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solsel Del Irwan menyebutkan, berdasarkan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok secara elektronik (e-RDKK), tahun 2021 kebutuhan pupuk di Solsel malah sebesar 19.144,93 ton.

“Berdasarkan e-RDKK, kebutuhan pupuk tahun ini malah lebih tinggi yaitu 19 ribu ton lebih. Bukannya bertambah, kuota pupuk subsidi malah berkurang drastis dari tahun lalu,” kata Del Irwan, Senin (15/2/2021).

Dia menguraikan, alokasi pupuk subsidi yang banyak berkurang adalah jenis Urea. Dari 2.377 ton pada 2020 menjadi 1.912 ton tahun ini. Sedangkan, e-RDKK diajukan adalah 3.793 ton.

Kemudian jenis NPK Ponska, tahun 2020 distribusi adalah 3.525 ton, diajukan dalam e-RDKK 7.535,89 ton. Namun yang direalisasi hanya 2.258 ton.

Demikian juga dengan pupuk subsidi jenis SP36 yang mengalami penurunan walau hanya turun tipis. Direalisasikan 732 ton dari e-RDKK sebanyak 732,81 ton.

Sedangkan jenis ZA, direalisasikan kuota hanya 163 ton dari kebutuhan di dalam e-RDKK 241,23 ton. Serta pupuk organik Granul yang realisasi hanya 649 ton, tidak sampai 10 persen dari pengajuan di RDKK. Menurutnya, e-RDKK adalah sebanyak 6.842 ton.

Dia menambahkan, jumlah petani yang di-input ke dalam e-RDKK sebanyak 14.458 keluarga. Del Irwan mengaku masih banyak petani yang masuk ke dalam database kelompok tani.

“Kondisi ini menjadi kendala karena pupuk subsidi dialokasikan berdasarkan RDKK, sementara masih banyak petani belum bergabung ke kelompok tani,” ujarnya.

Dia menambahkan, jika persediaan pupuk habis sampai Agustus mendatang, akan diupayakan meminta tambahan ke provinsi.

Untuk mengatasi kendala ketersediaan pupuk, dia mengimbau petani untuk memanfaatkan pupuk organik. Seperti pupuk kandang, kompos dari titonia dan jerami. Pihaknya mengaku, sebagian besar petani sudah mendapat pelatihan membuat pupuk alternatif. (Sis)

Berita Terkait

Leave a Reply