Alumni Anak Arang 90 Sawahlunto Jelajahi Museum dan Kota Tua
  • Home
  • Berita
  • Alumni Anak Arang 90 Sawahlunto Jelajahi Museum dan Kota Tua

Alumni Anak Arang 90 Sawahlunto Jelajahi Museum dan Kota Tua

SAWAHLUNTO – Momentum ulang tahun Perak atau 25 tahun alumni anak arang’90 Kota Sawahlunto digelar jelajah museum dan kota tua di kawasan pusat kota ini, Minggu (19/7). Mereka menyambangi Museum Kereta Api di Kampung Teleng, Museum Lubang Mbah Soero, Museum Goedang Ransoem serta Iptek center.

Mereka yang pernah menamatkan SD tahun 1984, SLTP 1987 dan SLTA 1990 dari belahan nusantara itu menikmati sajian sejarah dan pengembangan kota ini. Beberapa di antaranya ada yang baru kali pertama memasuki museum kereta api.

“Kita baru tahu isi lengkapnya museum ini. Karena, sejak merantau bekas stasiun kereta api ini sudah sangat berubah,“ sebut Bonarto, Manager Tambang Batubara di Kalimantan Selatan itu kepada padangmedia.com di sela-sela kunjungannya.

Ayah empat anak itu berharap agar loko uap “Mak Itam” dapat dioperasikan kembali.

“Saya belum sempat naik Mak Itam ini. Namun, hanya dapat cerita dari orangtua saja,” ungkapnya.

Lain halnya dengan Setyadi, karyawan Bank swasta di Batam. Ia mengaku sangat kagum melihat beberapa benda peninggalan kolonial Belanda di info box Lubang Mbah Soero.

“Ternyata dengan melihat benda dan foto di info box bisa membuat kita tahu bagaimana susahnya kakek kita jadi buruh tambang dahulu,” sebutnya.

Menurutnya, kalau benar akan dilakukan akses lubang atau terowongan dari Lubang Mbah Soero ke Menara Masjid Agung tentu makin seru lagi rute lubang tambang ini, sebut pria kelahiran Sawahlunto 1971 itu.

Pada kesempatan itu, Walikota Sawahlunto, Ali Yusuf menyempatkan diri untuk memberikan paparan apa saja pengembangan kawasan museum dan kota tua. “Dalam komitmen pemerintah daerah menuju kota Warisan dunia
Unesco, kita akan pertahankan kawasan kota tua dengan pengembangan lainnya,” sebutnya.

Terkait perbaikan loko uap “Mak Itam”, kata Wako, sebenarnya sudah dianggarkan. Namun, koordinasi dengan Kementerian Perhubungan serta PT KAI belum maksimal. Akhirnya, tahun ini dana sebesar Rp800 juta belum bisa
dimanfaatkan.

“Kita pun tak ingin melanggar regulasi atau aturan yang mengikat setelah dilakukan perbaikan. Karena, loko uap ini aset pinjam pakai dari PT KAI,” ungkapnya.

Sedangkan rencana membuka akses trowongan sampai menara Masjid Agung yang yang dahulu adalah tempat bengkel dan bangker persenjataan sudah ada penelitian dari konsultan UGM yang akan membuat perencanaannya.
Diharapkan pada tahun 2016 akan dilakukan tahap awal pengembangannya. (tumpak)

Berita Terkait

Leave a Reply