
Terik matahari siang itu memberikan hawa panas hingga ke ubun-ubun. Aroma panas juga ia rasakan dari dalam tubuhnya karena kondisi jiwanya yang kurang baik. Padahal laki-laki muda berinisial D itu sudah berusaha ikhlas menghadapi kenyataan. Namun keikhlasan yang sungguh-sungguh terasa agak sulit.
Hingga kakinya menginjak halaman gedung yang luas di kecamatan Tampan Kota Pekanbaru itu, ia masih kurang yakin pada keikhlasannya. Tapi ia harus menjalaninya. Ia sudah setuju datang ke tempat itu seusai Sholat Dzuhur, Senin (19/10/2020)
Seorang petugas keamanan berbaju TNI menyapanya dengan ramah. Petugas itu tampak agak heran, karena ia datang seperti orang kebanyakan, dengan ransel di punggung. “Ada yang bisa saya bantu,” ucap petugas keamanan yang masih menatap dalam heran. Ia tampak menjaga jarak.
“Ya, saya sudah kontak dengan tenaga medis di Bapelkes ini. Saya akan menjalani isolasi mandiri,” jelasnya.
Sang petugas langsung berbalik, menyuruhnya menunggu. Ia akan menyampaikan pada penanggung jawab medis di Bapelkes. Secara aturannya, para pasien yang hendak menjalani isolasi akan diterima lagsung oleh tenaga medis dengan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap.
Selang 15 menit, tenaga medis menemui nya ke pintu masuk, dan memintanya langsung menuju ruang isolasi. Ruangan atau kamar berukuran 3 kali 3 meter inilah yang akan membawanya menuju negative. Dalam waktu 14 hari ia harus negatife. Itulah tekadnya.
Sejak Covid 19 melanda negri ini, bukan hanya D tapi seluruh warga Indonesia dirasuki perasaan cemas. Virus Covid 19 yang mulai masuk ke Indonesia sejak Maret 2020 telah menjadi momok menakutkan. Penularannya luar biasa cepat,padahal virus itu tak tampak kasat mata. Semua masyarakat cemas dan takut. Meski pada awal nya masih banyak yang menganggap enteng dan menyatakan sikap tak percaya dengan virus ini, namun korban sudah berjatuhan. Para korban bukan hanya dari kalangan tertentu, misalnya pejabat, orang kaya saja atau orang miskin saja. Tidak. Virus itu menggapai seluruh lapisan, tidak pandang bulu,
Terpapar Virus
Sebagai seorang jurnalis, D sudah mempelajari dan mencoba mencari tahu tentang virus Covid 19 sebanyak mungkin. Sebagai pemberita, ia harus menyampaikan informasi yang benar, tidak menakut-nakuti atau tidak menyebar kebohongan. Fakta yang ada, data yang akurat, itulah yang harus ia sampaikan kepada masyarakat melalui tulisannya.
Ketika Pekanbaru menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ia juga menulis tentang aturan-aturan dan apa yang harus dilakukan menghadapi kondisi ini. Ia, demi tugas dan tanggung jawabnya, tetap melakukan tugas jurnalistik dengan mematuhi protokol kesehatan. Meski ia sudah membatasi hanya melakukan wawancara melalui telepon atau chatting, namun masih ada tugas-tugas kantor yang mengharuskannya ke lapangan.
Dia tidak tahu persis dimana sebetulnya ia terpapar. Yang ia ingat, akhir September, ia mendadak merasa lemas seusai melakukan wawancara. Pikirnya, mungkin karena belum makan siang. Ia pulang, makan dan beristirahat. Bukannya bertambah baik, tubuhnya makin terasa lemas. Ia mulai cemas dan was-was. “Ya, Allah, Jangan sampai terpapar. Lindungi aku Ya Allah,” doanya . Ia agak lega karena tidak batuk, tidak bersin atau flu. Suhunya juga masih normal.
Kepanikan mulai melanda ketika ia merasa agak meriang, dua hari kemudian. Segera ia mengkonsumsi obat penurun panas. “Memang setelah minum obat, panas mulai tturun, namun kemudiannaik lagi. Saya mulai waspada, dan mendatangi layanan kesehatan masyarakat. Semua diperiksa dan dokter meminta saya menceritakan kegiatan selama seminggu belakangan dengan detail. Dokter berasumsi saya kelelahan. Sepekan saya beristirahat dirumah dengan konsumsi obat dari dokter. Saya tidak keluar rumah,” tuturnya via telepon genggamnya kepada padangmedia.com. Kamis (22/10/2020)
Sayangnya, meski istirahat total seminggu, ia masih kerap mendadak demam dimalam hari. Ia kembali ke dokter dengan tambahan obat-obatan disertai antibiotic. Kondisi tubuhnya mulai membaik setelah dua pekan dirumah. Ia harus menjalani rapid test. Hasilnya ternyata reaktif. “Ya Allah, kuatkan hambamu Ya Allah. Aku yakin, apa yang aku jalani adalah kehendakMu. Aku serahkan pada Mu Ya Allah.”
Ia tahu apa yang harus dilakukan. Pasrah pada Allah dan berusaha agar tak menyebarkan pada orang lain. Ia isolasi lagi selama dua minggu. Sama sekali ia tak keluar rumah, termasuk ke masjid. Kembali melakukan rapid test, ternyata masih reaktif. Ia mulai cemas. Mau tak mau ia harus menjalani swab test. Dua hari kemudian, hasilnya , ia terkonfirmasi positif Covid 19.
Ayah dua anak ini shock. Menyaksikan kecemasan istrinya dan dua anak-anaknya yang masih kecil, membuat mentalnya down. Ya Allah, cobaan ini sangat berat. Meski kondisi raganya sudah membaik, tetapi hasil swab yang positif membawa gangguan pada jiwanya. Semua perasaan berkecamuk, bercampur aduk dengan pikiran yang beragam. Stigma masyarakat dan hukuman sosial yang mengancam, membawa pikiran istrinya untuk pulang kampung sementara ia menjalani isolasi. Entah kenapa setan sudah merasuk dalam bentuk pikiran-pikiran buruk. “Syukurlah, saya cepat sadar. Alhamdulillah, Allah menuntun saya kearah kebaikan. Saya bicarakan baik-baik dengan keluarga dan saya tekankan pada mereka di rumah bahwa Covid 19 bukanlah aib. Tak perlu risau dengan omongan orang lain. Kuncinya kekuatan kita bersama saling mendukung dan saling meyakinkan. Alhamdulillah, saya memiliki tante, om, orang tua , sepupu dan seluruh keluarga besar yang meyakinkan saya dengan semangat kebersamaan. Saya tidak sendiri. Ada mereka yang selalu siap mendukung perjalanan saya menuju negatif,” paparnya.
Keputusan sudah diambil. D menjalani isolasi di Bapelkes Pekanbaru, yang berlokasi di kecamatanTampan, berhadap-hadapan dengan UPT KIR Dinas Perhubungan Kota Pekanbaru mulai Senin (19/10/2020)
Ia tak boleh egois. Ia tak ingin menzolimi orang lain terutama keluarga dengan tetap membaur bersama mereka. Karena itulah ia teguh dengan keputusan isolasi fasilitas pemerintah kota Pekanbaru.
Sebenarnya, ketika mengetahui terpapar Covid 19, kesepakatan keluarga awalnya adalah isolasi di rumah. Sehari ia jalani di rumah, mengasingkan diri di kamarkhusus. Memang rumah mereka ada kamar sendiri yang bisa dijadikan tempat karantina. Namun akhirnya keputusan berubah karena mengingat kedua buah hatinya. Pernah sekali waktu si kecil yang masih 2 tahun menangis ingin digendong ayahnya. Ia menangis dari balik jendela. Ketika itu jendela dibuka untuk menghirup udara segar. Tentunya hal itu tak mungkin dilakukan. Makanya kemudian keluarga mengubah keputusan untuk isolasi di Bapelkes, tempat yang disiapkan . (seperti dituturkan oleh D kepada padangmedia.com/nita indrawati) – Bersambung







