PADANG – Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada triwulan I tahun 2020 tumbuh terbatas pada level 3,92 persen (year on year/ yoy). Perlambatan yang terjadi terutama merupakan dampak dari pandemi Covid-19.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia wilayah Sumatera Barat Wahyu Purnama A dalam siaran pers laporan perekonomian Sumatera Barat, Selasa (30/6/2020) menyampaikan hal itu. Menurutnya, pertumbuhan itu lebih lambat dari triwulan IV tahun 2019 yang sebesar 5,13 persen (yoy) dan triwulan I tahun 2019 yang mencapai 4,85 persen (yoy).
“Berdasarkan pengeluaran, perlambatan ekonomi akibat dari melambatnya komponen konsumsi rumah tangga, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dan net ekspor,” kata Wahyu.
Dari sisi lapangan usaha (LU), terbatasnya pertumbuhan ekonomi terutama bersumber dari perlambatan pertumbuhan pada tiga sektor penopang utama ekonomi Sumatera Barat. Yaitu sektor perdagangan besar-eceran, sektor transportasi dan pergudangan serta sektor industri pengolahan.
Menurut Wahyu, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat diprakirakan masih akan tertahan di triwulan II 2020. Perlambatan diprakirakan masih disebabkan oleh faktor yang sama.
“Pandemi COVID-19 yang semakin meluas pada triwulan II 2020 diprakirakan akan menurunkan permintaan dan pendapatan masyarakat,” ujarnya.
Dia menyebutkan, fluktuasi harga CPO dan karet dunia pada triwulan II 2020 diprakirakan akan menahan pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat. Dari sisi LU, tertahannya kinerja perekonomian terutama disebabkan oleh prakiraan penurunan kinerja LU transportasi dan pergudangan; perdagangan dan eceran serta melambatnya pertumbuhan pada sektor pertanian.
“Pembatasan mobilitas dan aktivitas sosial-ekonomi seiring dengan pandemi COVID-19 yang meluas pada triwulan II 2020 diprakirakan akan menahan kinerja beberapa lapangan usaha terutama LU transportasi dan pergudangan serta LU perdagangan dan eceran,” sebutnya.*






