Payakumbuh Menuju Sanitasi Aman, Prioritaskan Rumah Warga Kurang Mampu
  • Home
  • Berita
  • Payakumbuh Menuju Sanitasi Aman, Prioritaskan Rumah Warga Kurang Mampu

Payakumbuh Menuju Sanitasi Aman, Prioritaskan Rumah Warga Kurang Mampu

PAYAKUMBUH – Setelah 100 persen akses sanitasi layak, Kota Payakumbuh saat ini bergerak ke program sanitasi aman. Masyarakat kurang mampu menjadi prioritas program ini, sementara untuk warga mampu diajak untuk ikut berinisiatif membangun sendiri sarana sanitasi layak dan aman.

Kepala Dinas Perumahan Tata Ruang Kawasan Permukiman Kota Payakumbuh Marta Winanda menyebutkan, meskipun akses sanitasi sudah 100 persen namun masih ada yang harus dilakukan yaitu sanitasi yang sehat. Artinya, 100 persen itu baru terhadap akses namun untuk urusan sanitasi tidak cukup sampai di situ.

“Kita harus tingkatkan kepada sanitasi yang layak dan aman karena akses sarana saja tidak cukup,” kata Marta, Rabu (27/11/2019).

Untuk mewujudkan hal itu, Marta menyebutkan saat ini pihaknya tengah mencoba menyusun data primer. Data tersebut diperlukan agar program dapat berjalan tepat sasaran sesuai prioritas.

“Ke depan, kami akan memiliki data primer sendiri by name by adress sehingga program sarana prasarana sanitasi semakin tepat sasaran,” katanya.

Dia menyebutkan, saat ini terdapat 33.046 keluarga di Kota Payakumbuh dengan jumlah rumah 28 ribu unit. Selama tiga tahun pihaknya telah menggarap sekitar 13 persen masyarakat yang belum memiliki akses sanitasi layak. Data untuk program tersebut masih data sekunder karena masih berasal dari data Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) lain seperti Dinas Kesehatan dan lainnya.

Program sanitasi di Payakumbuh, lanjutnya, disusun berdasarkan Strategi Sanitasi Kota (SSK). SSK tersebut menjadi pedoman untuk pengembangan perumahan rakyat dalam rangka mewujudkan program sanitasi layak dan aman. Masyarakat yang membangun rumah disarankan untuk melengkapi dengan sarana sanitasi aman. Demikian juga kepada pengembang, Pemko Payakumbuh sangat menekankan agar memprioritaskan pembangunan sarana sanitasi, baik individual maupun komunal.

“Dalam masterplan tata ruang permukiman, pengembang perumahan diminta untuk membangun tanki septik komunal,” ujarnya.

Marta menceritakan, saat ini, boleh dikatakan seluruh masyarakat tidak ada yang mengalirkan limbah rumahtangga termasuk buangan jamban langsung ke drainase, sungai atau kolam. Kesadaran masyarakat meningkat karena gencarnya kampanye sanitasi layak dan aman dari seluruh OPD terkait. Menurutnya, persoalan sanitasi melibatkan banyak OPD seperti Dinas Kesehatan, Lingkungan Hidup, Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Perumahan Tata Ruang Permukiman sendiri.

Program MCK Plus di Objek Wisata dan Rencana Perbaikan IPLT

Selain menggencarkan program sanitasi kepada masyarakat, Pemko Payakumbuh juga memiliki program Mandi Cuci Kakus (MCK) Plus. Program ini khususnya ditujukan untuk area publik seperti objek wisata.

“Sampai saat ini ada 30 unit MCK plus, utamanya ditempatkan di lokasi wisata,” terang Kadis Pertakim Kota Payakumbuh, Marta Winanda.

Dalam pada itu, pihaknya juga sudah menganggarkan perbaikan terhadap Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) di Sungai Durian. Perbaikan itu untuk memperbaharui teknologi pengelolaan karena IPLT dimaksud sudah beroperasi selama hampir 23 tahun.

“Rencana perbaikan IPLT Sungai Durian sudah masuk dalam penganggaran tahun 2020. Perbaikan untuk memperbarui teknologi pengelolaan karena memang sudah lama, sekitar 23 tahun,” ujarnya.

IPLT Sungai Durian dibangun di atas lahan seluas satu hektar. Menurut Marta, idle capacity IPLT Sungai Durian mencapat 30 meter kubik per hari, menampung limbah tinja dari jamban yang disedot dari rumah – rumah penduduk setiap hari.

Marta mengungkap, sebetulnya limbah tinja yang sudah masuk ke IPLT sangat baik untuk pupuk. Namun, sementara ini pemakaiannya belum populer di masyarakat. Limbah yang sudah diolah di IPLT tidak lagi mengandung ekoli sehingga aman untuk digunakan sebagai pupuk organik. (fdc)

Berita Terkait

Leave a Reply