
PADANG – Setelah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai perusahaan financial technologi (fintech), Asetku yang bernaung di bawah PT Pintar Inovasi Digital menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat. Hadir sebagai platform Peer to Peer (P2P) Lending, Asetku menekankan tingkat keamanan berinvestasi digital dalam sosialisasinya.
Asetku menggelar kegiatan sosialisasi keenamnya di Padang, Sumatera Barat, Jumat (19/7/2019). Sosialisasi itu dihadiri oleh puluhan peserta terdiri dari mahasiswa dan pelaku usaha. Direktur Asetku, Andrisyah Tauladan mengatakan, Asetku ingin berbagi informasi yang perlu diketahui masyarakat sebelum terjun ke bisnis keuangan digital.
“Perkembangan industri fintech semakin pesat, salah satunya yang paling diminati adalah P2P lending. Asetku sebagai salah satu diantaranya, ingin membagi informasi dalam rangka mewujudkan semangat “Jadi pengguna cerdas di era digital finance“,” kata Andri.
Dia mengungkapkan, Asetku tercatat sebagai perusahaan fintech ke 80 yang terdaftar dan diawasi OJK. Sedikitnya, hingga saat ini, sudah ada 113 perusahaan fintech yang terdaftar, dan tidak menutup kemungkinan akan bertambah lebih banyak lagi.
“Perkembangan yang pesat itu tentunya harus diimbangi dengan pengetahuan masyarakat agar dapat memanfaatkan peluang secara cerdas,” ujarnya.
Menurutnya, sekarang ini semakin banyak cara dan metode canggih dalam melaksanakan pengelolaan keuangan secara personal dan digital. Masyarakat sebaiknya menyikapi perkembangan tersebut dengan kehati-hatian, di tengah gencarnya promo fintech dengan berbagai program menarik dan menggiurkan.
“Agar terhindar dari risiko kerugian akibat penggunaan jasa keuangan digital, kita harus memahami dan pintar dalam memilih jasa keuangan digital baik yang berbentuk aplikasi maupun web,” terangnya.
Memilih dan memanfaatkan jasa keuangan digital P2P dengan tingkat pemahaman yang baik, akan mengurangi risiko kerugian yang tidak diinginkan. Selain itu, juga sekaligus memaksimalkan manfaat untuk mengembangkan dana menganggur (idle fund) dalam bisnis P2P lending. Asetku, sebagai fintech P2P lending, memahami risiko dalam bisnis tersebut.
Chief Risk Officer Asetku, Jimmi Adhe Kharisma memaparkan, Asetku sangat peduli terhadai dana pemberi pinjaman. Untuk mengurangi risiko wanprestasi, Asetku hanya menerima peminjam berkualitas yang telah diseleksi melalui partnership dengan beberapa market place.
“Asetku menerapkan standar tinggi dalam menseleksi calon peminjam, salah satunya melalui market place yang telah menjadi partner sehingga kami bisa mengetahui tren peminjam, baik secara kuantitas transaksi hingga keberhasilan dan ketepatan pembayaran,” ungkap Jimmi.
Dia menyebutkan, sejak beroperasi tahun 2017, Asetku telah berhasil menyalurkan dana kurang lebih Rp1 triliun. Seleksi ketat dalam aktifitas peminjaman dana membuat Asetku mampu mempertahankan Tingkat Keberhasilan Bayar (TKB 90) 100 persen.
Jimmi menegaskan, setiap kegiatan investasi pasti akan ada risiko. Namun, Asetku berupaya menekan tingkat risiko ke titik terendah melalui penerapan beberapa sistem. Salah satu yang paling penting adalah sistem diversifikasi.
“Metode ini, dengan membagi dana pemberi pinjaman kepada banyak peminjam sehingga dana berkembang dengan minim risiko,” ujarnya.
Asetku hadir sebagai platform P2P lending di Indonesia sejak tahun 2017 di bawah naungan PT Pintar Inovasi Digital. Asetku memberikan kemudahan pengembangan dana hanya melalui aplikasi “Asetku” yang tersedia di googleplay dan App Store.
Sebagai platform yang menghubungkan dana pemberi pinjaman kepada peminjam, Asetku telah terdaftar dan diawasi OJK terhitung Desember 2018 dengan nomor S-1110/NB.213/2018. (fdc)






