AGAM – Dalam aksi demo pendukung Pasangan Calon Bupati/Wabup Agam nomor urut 1 yang berlangsung di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Agam, semenjak pukul 10.00 Pagi hingga sore ini, Selasa (15/12), timbul wacana Kabupaten Agam akan “dibelah”.
Hal itu disampaikan beberapa pemuka masyarakat. dengan berbagai alasan yang beragam. Ada yang mengatakan, Agam terlalu luas. Kondisi itu menyebabkan pelayanan (publik) tidak optimal. Dengan demikian, masyarakat mendapat kesulitan mendapatkan pelayanan yang mereka butuhkan. Aparatur pun kesulitan melakukan tugas pelayanan,karena luasnya wilayah daerah.
“Pelaksanaan pemerataan pembangunan juga sulit dilakukan,” ujar mereka.
Juga ada yang berpendapat, dengan kondisi sekarang sulit bagi putra Agam asal Agam belahan barat untuk bisa menjadi Bupati Agam. Penyebabnya, jumlah pemilih di Agam belahan timur lebih banyak dari pemilih di Agam belahan barat.
Untuk itu, akan dilakukan berbagai upaya. Tahap awal para pemuka masyarakat, terutama yang berada di Agam belahan barat, akan mengadakan pertemuan, guna menyatukan pendapat. Kemudian, bila diperoleh kesepakatan, mereka juga akan bertindak selaku koordinator di kecamatan masing-masing, guna mempersiapkan apa yang dibutuhkan.
“Kami akan berupaya agar keinginan untuk mewujudkan pemekaran kabupaten terwujud,seperti dambaan masyarakat sejak lama,” ujar salah seorang pemuka masyarakat, Z. St. Sati.
Menurutnya, keinginan untuk membagi Agam menjadi dua kabupaten sudah sejak lama mencuat. Dulu dikenal dengan wacana menjadikan daerah itu menjadi Agam Tuo dan Agam Mudo. Sayangnya, keinginan itu lenyap ditelan masa, tanpa ada wujudnya.
Kemudian muncul keinginan membagi Agam menjadi Agam Ateh dan Agam Baruah. Kembali keinginan itu menguap begitu saja, tanpa ada kejelasan.
Terakhir, mengapung lagi keinginan untuk membagi daerah itu menjadi Agam Timur dan Agam Barat. Nampaknya, keinginan tersebut akan diperjuangkan sampai tuntas.
“Walau Agam dibagi dua, kami tetap menjadi Orang Agam yang bersaudara. Hanya pemerintahan yang berbeda, namun sejarah tidak akan dilupakan,” ujar St. Sati, yang diamini rekannya Zam, Andi, dan beberapa pemuka lainnya.
Menurut St.Sati, pemekaran daerah akan memungkinkan percepatan pembangunan,baik di Agam Timur, maupun di Agam Barat. Ia memberi contoh, betapa pembangunan di daerah pemekaran berjalan lebih cepat dan bagus daripada daerah yang tetap bertahan, seperti Agam.
“Lihat saja daerah tetangga, Pasaman Barat. Daerah itu begitu cepat maju. Begitu juga di daerah lain, seperti Solok Selatan, Dharmasraya, lainnya. Hasilnya sangat membanggakan.kami juga ingin Agam maju seperti itu,” ujar M. Dt. Marajo. (fajar)






