
PADANG – Kasus-kasus kekerasan yang terjadi di boarding school atau sekolah berasrama bisa dicegah dengan memperkuat peran wali asrama. Kondisinya, pada banyak kasus, wali asrama belum begitu memegang perannya karena berbagai faktor, seperti SDM yang kurang, belum dijadikan sebagai tugas pokok, jumlah wali asrama yang tidak seimbang dengan siswa yang diawasi dan lain-lain.
Hal itu diungkapkan Fitria Laurent, fasilitator dan pendamping asrama dari tim Sahabat Edukasi yang telah berpengalaman mendampingi sejumlah sekolah berasrama nasional dan internasional selama 12 tahun terakhir.
Saat workshop pendampingan asrama berbasis nilai metode HPP (Harmonisasi Pendidikan dan Pengasuhan) di Padang, Jumat dan Sabtu (15-16/3), Fitria Laurent mengungkapkan, kekerasan di asrama yang melibatkan sesama siswa, pada dasarnya bisa dicegah dengan peran wali asrama. Diakuinya, banyak sekolah berasrama di Indonesia yang kadang kecolongan akibat kebutuhan-kebutuhan di asrama. Padahal, asrama layaknya rumah, harus ada pengawas atau pendamping asrama.
“Ini yang menjadi PR bagi lembaga berasrama. Walaupun pada satu sisi kita tidak bisa menyalahkan karena mereka terkendala kesulitan mencari SDM pendamping asrama. Tidak ada lembaga yang secara resmi menyiapkan SDM untuk pendamping di asrama atau ortu kedua bagi siswa,” ujarnya.
Selain itu, pendamping asrama selama ini masih dipandang bukan sebagai sebuah profesi. Padahal, seharusnya saat sekolah berasrama itu didirikan, maka salah satu hal utama yang dipikirkan adalah siapa yang akan mendampingi anak di asrama sebagai pengganti orang tua. Adapun CCTV hanya lah sebagai alat untuk mengetahui kronologis kejadian bila terjadi sebuah kasus.
Seorang pendamping asrama, katanya, juga tidak boleh overload dengan beban kerja lain. Kalaupun ada beban kerja lain, tapi tugas utamanya tetap mendampingi anak-anak di asrama.
Kendala lainnya, menurut Fitria adalah kondisi anak-anak yang masuk asrama. Jika zaman dahulu, anak-anak yang masuk asrama adalah anak-anak yang siap dari segi psikis. Namun, zaman sekarang, anak-anak masuk sekolah asrama pada umumnya adalah karena kebutuhan atau keinginan orang tua. Dalam kata lain, orang tua takut anak-anak mereka terpengaruh oleh hal-hal negatif di luar sehingga memasukkan anak ke sekolah berasrama.
Di sisi lain, anak-anak di asrama itu datang dengan kondisi yang berbeda, bisa jadi terbiasa atau terpengaruh sebelumnya oleh kekerasan di game, film dan lain-lain. Dan, hal itu mereka bawa ke asrama.
“Sahabat Edukasi berusaha mengakampanyekan asrama ramah pada anak. Kampanye bukan untuk menghilangkan kekerasan sama sekali, tapi untuk membangun kesadaran membangun asrama yang ramah pada anak. Tidak saja dari segi kebijakan, tapi juga dari bangunan. Kadang bangunan yang dibuat tidak pikirkan dari segi anak-anak,” bebernya.
Sementara, Sekretaris Yayasan Waqaf Ar Risalah, Ustaz Firman Bahar, LC, saat pembukaan workshop mengakui, pesantren itu peluang terbesarnya dalam menarik masyarakat adalah pengasuhan berbasis nilai-nilai akhlakul karimah. Karena, jika mengandalkan akademik maupun sumber daya dan fasilitas, maka pesantren bisa jadi kalah saing dengan sekolah-sekolah negeri. Pengasuhan berbasis nilai tersebut harus terukur, terencana dan terlaporkan. Menurutnya, ada tiga nilai yang terdapat di pesantren. Yakni, nilai-nilai keluarga, nilai kemasyarakatan dan nilai pendidikan sekolah.
Ustaz Firman juga menekankan agar jangan sampai ada hukuman fisik bagi anak-anak. Karena, teguran tanpa hukuman fisik pun bisa efektif.
“Kita adalah ayah dan ibu bagi anak-anak di asrama. Saat di asrama, maka asrama itu menjadi rumah bagi mereka. Karena itu, kita harus berusaha menghadirkan ruang tinggal yang serasa di rumah mereka sendiri,” ujarnya.
Workshop diikui oleh perwakilan sejumlah sekolah Islam berasrama di Sumatera Barat. Pada akhir kegiatan, dibentuk Komunitas Sahabat Edukasi, komunitas yang concern pada program pendampingan anak di asrama Sumatera Barat diketuai Ustaz Rahmatullah dari Pesantren Thawalib Putera Padang Panjang. (rin)






