Survivor Kanker Pendamping Orang-orang Sakit
  • Home
  • Berita
  • Survivor Kanker Pendamping Orang-orang Sakit

Survivor Kanker Pendamping Orang-orang Sakit

Sri Chandra Nurlaili di depan laundry yang sekaligus dijadikan posko komunitas S3 Lintau. (rin)

Oleh Melda Riani

Senyum warga miskin di Lintau, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat, kini kerap merekah saat mereka menerima bantuan dari para dermawan. Bantuan dermawan seperti uluran tangan dari Tuhan bagi mereka yang untuk mencukupi kebutuhan sehari-haripun susah.

Begitu pula, sedikit kebahagiaan dirasakan pada orang-orang yang meringis dan merintih kesakitan, tatkala ada yang ikut peduli dengan kesakitan mereka. Meski sakit tak terperi, penderitaan akan terasa lebih ringan saat banyak orang yang peduli. Orang-orang sakit itu adalah mereka yang menjadi target dampingan para relawan sebuah komunitas sosial bernama Sedekah Seribu Sehari (S3) Lintau.

Komunitas yang menyebut kegiatan mereka sebagai ‘proyek langit’ itu saat ini sudah cukup dikenal luas di daerah Kecamatan Lintau Buo dan Kecamatan Lintau Buo Utara atau disebut warga setempat Lintau IX Koto. Saban hari, terutama Jumat, sejumlah relawan menyalurkan dana yang terkumpul dari para dermawan kepada yang membutuhkan. Dengan donasi dari para dermawan, para relawan itu juga mendampingi orang-orang sakit untuk berobat dan membantu mereka mendapatkan dana.

Sri Chandra Nurlaili adalah salah satunya. Ia merupakan koordinator relawan sekaligus yang mempelopori lahirnya komunitas S3 Lintau. Berawal dari komunitas sosial bernama Relawan Peduli Kasih, Sri Chandra memulai proyek langit tersebut. Namun, komunitas yang dibuat pada awalnya hanya sebatas melibatkan teman-teman alumni SMK N 1 Lintau. Saat itu, ia dan teman-temannya rutin mengumpulkan uang untuk membantu warga miskin. Setiap bulan puasa, dibuat parcel yang dibagi-bagikan kepada ibu-ibu dari keluarga kurang mampu.

Setahun berjalan, ada gagasan dari seorang teman untuk bergabung dengan S3 yang saat itu sudah ada di sejumlah daerah di Indonesia. Tujuannya agar misi-misi kemanusiaan bisa lebih mudah dikerjakan jika ada jejaring. Semisal, jika ada dampingan yang akan dirawat di Jakarta, maka ada relawan S3 dari Jakarta yang menunggu.

Sekarang sudah ada 48 komunitas S3 di seluruh wilayah Indonesia. Untuk wilayah Sumatera Barat, S3 Lintau menjadi yang pertama lahir. Setelah itu, terinspirasi dari kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan S3 Lintau, lahir pula S3 di tujuh daerah lain di Sumbar, di antaranya di Bukittinggi, Padang Pariaman, Padang Gantiang, Saruaso dan lainnya.

Survivor Kanker

Tak ada satupun manusia di dunia yang ingin sakit, apalagi penyakit yang mematikan. Namun, penyakit datang tanpa diundang. Penyebab bisa apa saja. Yang pasti, siapapun pasti shock saat vonis penyakit kronis jatuh pada dirinya.

Hal yang sama dirasakan oleh Sri Chandra Nurlaili yang biasa dipanggil Is. Ia adalah seorang pejuang (survivor) kanker. Ibu empat anak itu divonis kanker payudara stadium dua sekitar lima tahun yang lalu. Seperti penderita kanker lainnya, pertama kali yang dirasakan adalah ketakutan yang sangat besar akan kehilangan anak, keluarga dan gambaran pengobatan yang menyiksa dan memakan waktu sangat lama.

Terlebih lagi yang ia rasakan adalah ketakutan akan kematian. Kematian terasa begitu dekat. Entah sekarang atau besok, ajal serasa segera menghampiri.

Hampir setahun ia dihantui bayang-bayang kematian. Hidupnya terasa amat down hingga tak bisa bangkit. Sampai suatu hari, tiba-tiba ada seorang temannya yang meninggal dunia. Padahal, sebelumnya teman itu dalam kondisi sehat walafiat. Kejadian itu meyakinkan dirinya bahwa penyakit tidak akan membunuh. Kalau Tuhan berkehendak memanggil, maka kapan dan dalam kondisi apa saja, ia bisa meninggal. Tak ada satupun makhluk yang tak akan mati. Orang sehat pun bisa saja menemui ajal bila Sang Pemilik berkehendak memanggil.

Perempuan kelahiran tahun 1984 itupun mendapatkan kekuatan. Ia berusaha untuk ikhlas walaupun pada awalnya sangat sulit. Ia kemudian mencoba bangkit dan ingin menjadikan hidupnya lebih bermanfaat bagi orang banyak. Support dari teman-temannya pun sangat luar biasa.

Akan halnya penyakit di tubuhnya, dokter sudah menganjurkan agar payudaranya segera diangkat. Tapi, ia memilih untuk tidak dioperasi dan dikemoterapi. Apalagi ketika dilihatnya beberapa temannya yang juga mengidap penyakit yang sama serta telah dioperasi dan dikemo, telah lebih dahulu menghadap Sang Khalik. Begitu juga kakak kandungnya yang kondisi awalnya malah tak separah dirinya, meninggal dunia sekitar enam bulan yang lalu pasca setahun menjalani kemoterapi.

“Saya yakin saja pada Allah. Kalau Allah memanggil, kita akan datang. Sebaliknya, kalau terbebani pikiran, kita akan sakit. Semakin terbebani pikiran dan ketakutan akan mati, penyakit akan makin bertambah,” katanya saat ditemui padangmedia.com, Minggu (18/11) di tempat usaha laundry-nya yang sekaligus dijadikan posko S3 Lintau.

Alih-alih menjalani perawatan medis, Is malah menjadikan kegiatan kemanusiaan yang dilakukannya sejak tiga tahun terakhir sebagai terapi penyakit. Bahkan, sejak setahun belakangan ia tak lagi makan obat. Meski saat ditemui ia mengaku sedang merasa sakit, tapi perempuan yang mengaku dulunya sangat tomboy itu berusaha sekuat tenaga untuk memulihkan sendiri dengan tidak memikirkan penyakit yang dirasa.

“Saya sugesti saja diri saya sebagai manusia normal dan sehat. Akhirnya penyakit itu tak terasa,” ujarnya yakin.

Is mengakui secara genetik memiliki riwayat keluarga dengan penyakit kanker. Dua tantenya terkena kanker payudara beberapa tahun lalu. Begitu juga dua saudara sepupunya meninggal akibat kanker payudara. Sementara, kakak perempuannya terkena kanker tiroid dan sudah meninggal.

Sri Chandra Nurlaili dalam sebuah kegiaan di S3 Lintau (ist)

Mendampingi Orang-orang Sakit

Saat awal-awal berdiri maupun saat belum menjadi komunitas S3, gerakan sosial yang diinisiasi Is lebih intens membantu orang-orang sakit, terutama penderita kanker. Dengan menyisihkan sebagian rezeki serta support dana dari teman-temannya melalui grup whatsapp, ia bersama relawan lain mendampingi orang-orang sakit di sekitar Lintau untuk berobat. Diakuinya, ada keinginan kemanusiaan dan kepuasan tersendiri saat bisa berbagi dengan orang lain.

“Daripada pergi ke salon, lebih baik investasi akhirat,” kata penerima apresiasi Astra tingkat provinsi Sumbar tahun 2018 itu.

Penyakit-penyakit kronis, terutama kanker, membutuhkan uang tak sedikit. Meski sudah ada KIS (Kartu Indonesia Sehat), tapi bagi orang tak mampu tetap saja memberatkan mereka. Di antaranya biaya transportasi pengobatan, dana keluarga yang mendampingi, dan lainnya. Selain itu, pasien dari keluarga miskin seringkali sangat awam dalam berurusan dengan rumah sakit. Ada pula yang membiarkan penyakitnya karena khawatir dengan biaya sehingga sudah menjadi stadium lanjut. Orang-orang seperti itulah yang menjadi target dampingan S3.

Apa yang dilakukannya pun ternyata mendapat respon sangat bagus dari teman-teman dan orang-orang sekelilingnya. Suaminya pun mendukung penuh dan menjadi relawan sopir untuk mengantar pasien-pasien kanker yang akan dibawa berobat ke Bukittinggi.

Pasien-pasien kanker yang dibantu selama ini biasanya dibawa ke Bukittinggi dengan pertimbangan akses yang lebih mudah dan jarak yang relatif lebih dekat dengan Lintau. Selain itu, ia pun sudah bekerja sama dengan seorang dokter onkologi di Bukittinggi bernama, dr. Ismeldi Syarief untuk membantu penangangan dan dukungan bagi pasien-pasien kanker, terutama dari keluarga tidak mampu. Dokter Ismeldi bahkan sudah menjadi salah seorang relawan di S3.

Salah satu yang pernah dibantu adalah Roslina, janda pengidap kanker lidah yang banyak diberitakan media massa beberapa waktu lalu. Juga Tiara, anak yatim piatu yang terkena kanker darah. Namun, S3 tak semata mencarikan dana. Kadang kala hanya pembuka jalan agar bantuan mengalir dari pihak lain. Para relawan di lapangan bekerja menemukan target dampingan, di-publish di grup atau media sosial, dan kemudian membuka open donasi. Selanjutnya, bisa saja donatur menyerahkan langsung atau komunitas lain yang ikut membantu.

Saat ini, setelah berjalan dua tahun, S3 Lintau sudah banyak membantu orang-orang yang membutuhkan. Tak terbatas pada penderita penyakit ganas, tapi juga mereka dari keluarga kurang mampu, beasiswa bagi pelajar, anak-anak disabilitas, janda-janda miskin, dan lain-lain.

Sementara para dermawan, mereka yang peduli dan mau berbagi, tak hanya berasal dari kampung. Donatur saat ini sudah 200 orang lebih. Ada yang benar-benar menyisihkan hartanya seribu sehari atau Rp30 ribu sebulan. Namun, banyak pula perantau di dalam dan luar negeri yang menyalurkan bantuan setiap ada open donasi maupun di luar itu. S3 biasanya membuka donasi bagi setiap target dampingan dan langsung diserahkan begitu donasi terkumpul.

Menurut Is, bantuan yang disalurkan melalui S3 Lintau sudah tak terhitung lagi. Ada ratusan warga yang sudah menerima bantuan tetap sembako, puluhan bantuan untuk difabel dan penderita kanker serta bantuan untuk jompo-jompo dan warga miskin yang tak memiliki rumah layak.

S3 Lintau juga sering menjadi tumpuan harapan masyarakat setempat jika ada yang sakit. Karena itu, Is berharap S3 bisa semakin dikenal dan donatur semakin banyak pula hingga makin banyak pula orang yang terbantu. Sejauh ini, para donatur rutin menyalurkan bantuan. Bahkan, setiap donasi dibuka kadang bisa mencapai nominal Rp20 hingga Rp30 juta.

Begitupun relawan jumlahnya sudah lebih 50 orang. Beberapa di antaranya merupakan relawan yang sangat aktif. Namun, terkait relawan, diakuinya kadang ada yang datang dan pergi. “Yang namanya jihad dengan Tuhan, tentu tidak dipaksakan,” ujarnya.

Tantangan lainnya yang kerap dihadapi Is adalah perkataan-perkataan miring atau cemoohan dari orang-orang sekitar. Ada juga yang mencibir ia terlalu sibuk dengan S3 sehingga keluarga tak terperhatikan. Tapi, apapun kata orang, ia masih pada prinsipnya untuk tetap semangat dan bermanfaat sebisa mungkin bagi orang lain. Walaupun waktunya tercurah untuk S3, tapi ia tak merasa rugi. Karena, selalu ada rezeki dari Tuhan yang membantu kebutuhannya melalui tangan-tangan donatur.

Ke depan, ia masih punya mimpi bersama S3. Salah satunya agar S3 Lintau memiliki ambulans sendiri untuk antar jemput penderita kanker atau target dampingan. Dengan menyewa mobil, biaya yang harus dikeluarkan bisa mencapai Rp500 ribu untuk transportasi saja. Jika memiliki kendaraan sendiri, tentu biaya operasional bisa lebih ditekan.

Selain itu, ia juga berkeinginan suatu saat bisa membuat bank yang diperuntukkan bagi masyarakat miskin. Keinginan itu timbul dengan banyaknya bank 46 istilah untuk rentenir berjalan yang banyak menjerat warga miskin di daerah itu. Ia yakin dengan perjuangan dan keikhlasan bersama relawan lain di S3, banyak orang yang bisa terbantu.  (Melda Riani, Wartawan Madya)

Berita Terkait

Leave a Reply