
Berkunjung ke Kampung Flory, di Kecamatan Tridadi Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta saat ini, anda mungkin tidak percaya bahwa ide “gila” menyulap lahan milik kas desa ini berawal dari rembug pemuda di pos ronda. Lahan terlantar milik pemerintah desa diolah sedemikian rupa, berkreasi jatuh bangun, akhirnya menyedot kunjungan ribuan orang dengan omset ratusan juta.
Memanfaatkan lahan seluas lebih kurang 6,5 hektar, Kampung Flory mulai dirintis pengembangannya pada tahun 2014 dan resmi dibuka pada pertengahan tahun 2016. Tahun-tahun awal, kunjungan wisata ke Kampung Flory boleh dihitung dengan jari.

Tim kreasi yang merupakan pemuda desa penggagas objek wisata ini bahkan sempat patah semangat. Modal yang diperoleh secara patungan serta waktu dan tenaga yang terkuras untuk menyulap kampung tersebut dinilai tidak sepadan dengan hasil yang diperoleh.
Muji, salah seorang tim kreatif pengelola Kampung Flory menceritakan, saat itu boleh dikata dalam kondisi “down”. Anggota tim sempat patah semangat. Namun, akhirnya mereka kembali membulatkan tekad untuk terus bergerak sehingga menjadi pemicu semangat kembali melanjutkan kreatifitas menuangkan ide dan gagasan.
Perjuangan panjang dan sempat jatuh bangun itu akhirnya membuahkan hasil. Perlahan, “keseksian” Kampung Flory mulai terendus para penikmat wisata alam dari seluruh penjuru negeri dan tak kurang juga dari luar negeri. Saat ini, tak kurang dari tiga ribuan pengunjung datang setiap akhir pekan.
Ada apa di Kampung Flory? Pertanyaan ini pasti akan langsung terbersit begitu membaca judul artikel ini. Bikin penasaran? Sengaja, supaya tulisan ini dibaca sampai habis!
Nama Kampung Flory sebetulnya adalah penamaan baru yang disadap dari kata “Flora”. Terletak di Dusun Jugang Desa Pangukan Kecamatan Tridadi Kabupaten Sleman. Dari kata “flora”, mungkin sudah memberikan sedikit gambaran tentang objek wisata di arah utara Kota Jogjakarta ini.

Ya! Dinamakan Kampung Flory karena objek wisata alam ini menawarkan konsep wisata alam bernuansa perkampungan, dengan “jualan utama” adalah bermacam jenis tanaman. Baik tanaman hias seperti beragam bunga-bungaan maupun tanaman produktif dengan berbagai macam koleksi tanaman buah-buahan.
Menurut Muji, setelah konsep pengembangan dirancang secara matang, pemuda kampung tersebut mulai bekerja mewujudkan mimpi membangun sebuah kampung wisata dan edukasi. Secara umum, konsep pengembangan dibagi dalam tiga zona yaitu Taruna Tani, Agro Buah dan Bali Ndeso.
Zona Taruna Tani dikhususkan untuk pengembangan budidaya berbagai macam tanaman hias, sementara Zona Agro Buah menjadi kawasan pengembangan berbagai macam buah-buahan produktif. Sedangkan, Zona Bali Ndeso disiapkan bagi wisatawan yang ingin menginap menikmati alam pedesaan, dilengkapi dengan berbagai spot swapoto yang sangat menarik.
Suatu keuntungan bagi kawasan ini memiliki sebuah sungai kecil yang membelah memisahkan antara Zona Taruna Tani, Zona Agro Buah dan Zona Bali Ndeso. Sungai tersebut beserta parit-parit kecil yang ditata sedemikian rupa bisa dimanfaatkan pengunjung terutama anak-anak untuk bermain air dan menjajal berbagai wahana yang tersedia.
Berkonsep agrowisata, Kampung Flory yang dibangun dan dikelola langsung oleh masyarakat setempat itu saat ini mampu menyedot kunjungan ribuan wisatawan. Pada akhir pekan, pengelola terpaksa harus memberlakukan sistem “buka tutup” agar pengunjung di dalam kampung tidak terlalu membludak. Menurut Wiwid, pengelola lainnya, pemberlakuan buka tutup tersebut terpaksa dilakukan jika pengunjung di dalam sudah mencapai dua ribuan.
“Kapasitas maksimalnya dua ribu orang, jadi kalau pada akhir pekan kunjungan bisa mencapai tiga ribuan sehingga harus diberlakukan sistem buka tutup,” terang Wiwid.
Menurut Wiwid, kepadatan pengunjung harus dikontrol untuk menjaga tanaman serta fasilitas yang ada tidak rusak. Kelebihan pengunjung akan berisiko karena pengawasan menjadi lemah, tanaman yang ada di dalam kawasan juga bisa menjadi “stress”. Pengunjung yang belum mendapat giliran masuk ditampung di luar lokasi. Setelah dua jam, seiring pengunjung yang di dalam bergerak ke luar, pengunjung yang menunggu sudah bisa dipersilahkan masuk.
Masuk Kawasan Agrowisata Kampung Flory tidak dipungut bayaran alias gratis. Lalu, dari mana omset ratusan juta rupiah tersebut?
Wiwid melanjutkan cerita, penghasilan atau omset berasal dari warung kuliner yang disediakan di dalam kawasan serta penjualan bunga-bungaan atau pohon buah-buahan yang dibudidayakan. Kecuali melewati jembatan gantung menuju Zona Bali Ndeso, seluruhnya bisa dinikmati dengan gratis.
“Pengunjung tidak dikenakan biaya masuk, kecuali melewati jembatan gantung serta menyewa penginapan. Penghasilan diperoleh dari warung kuliner dan penjualan bunga dan pohon buah hasil budidaya sementara tiket masuk jembatan gantung digunakan untuk biaya perawatan,” ujarnya.
Warung kuliner di dalam kawasan Kampung Flory menyediakan berbagai jenis makanan khas pedesaan dengan harga yang relatif murah. Jadi, di samping menikmati wisata alam, pengunjung sekaligus bisa berburu kuliner di kawasan ini. Warung kuliner menyediakan berbagai jenis makanan khas yang sangat menerbitkan selera. Puas bermain berkeliling, pengunjung bisa menikmati berbagai jenis makanan di warung-warung kuliner yang ada tanpa harus takut kemahalan karena seluruh warung menyediakan daftar menu lengkap dengan harga.
Pengembangan Kampung Flory mendapat support dari berbagai pihak, baik dari pemerintah daerah Kabupaten Sleman, Pemprov DIY serta dari pihak swasta. Pihak swasta yang ikut berkontribusi seperti lembaga perbankan serta lembaga-lembaga lain yang peduli dengan pelestarian alam.
Terakhir, Bank Indonesia melalui kantor perwakilan Provinsi DIY juga ikut mengucurkan bantuan sosial dalam bentuk program Green House Budidaya Anggrek di Zona Taruna Tani. Program bantuan sosial ini sudah berjalan dua tahun, yaitu tahun 2017 dan 2018 ini, dari rencana tiga tahun hingga tahun 2019 mendatang.
Wiwid menyebutkan, seluruh sumber daya manusia yang mengelola kawasan itu berasal dari desa setempat. Sedikitnya, pengelolaan Kampung Flory melibatkan sekitar 130 orang pemuda desa secara langsung. Tidak ada pemuda di desa itu yang menganggur, karena semua terlibat dalam pengelolaan Kampung Flory.
Inovasi baru yang akan dikembangkan di kawasan ini adalah ekonomi digital, seperti penyediaan instrumen pembayaran sistem non tunai yang sedang digalakkan penggunaannya. Sekarang ini, tengah dibangun infrastruktur pendukung terutama jaringan internet dan diharapkan tahun ini juga sudah bisa terkoneksi.
Besarnya perputaran uang di Kampung Flory, yang menurut Wiwid bisa mencapai Rp900 juta per bulan menuntut peningkatan teknologi dalam sistem transaksi. Pengunjung tidak hanya berasal dari dalam daerah, tetapi datang dari seluruh penjuru negeri serta dari mancanegara. Dengan penyediaan instrumen transaksi non tunai, tentunya akan semakin memanjakan pengunjung yang datang ke Kampung Flory.
Jika anda penasaran, silahkan jadwalkan liburan akhir pekan anda berkunjung ke Kampung Flory dan nikmati suasana desa yang asri. Hanya butuh waktu sekitar 30 menit dari pusat kota Jogjakarta, anda sudah berada di sebuah desa yang tertata apik untuk menyegarkan pikiran menikmati liburan bersama keluarga. (*)
Febry D Chaniago
Wartawan Madya 9749
(Catatan kecil perjalanan dalam rangka Pelatihan Wartawan Ekonomi Bank Indonesia Wilayah Sumatera Barat ke Jogjakarta, 14 sampai 17 November 2018)





