
BINTAN – Era sosial media (Sosmed) saat ini sedikit banyaknya telah merusak tatanan pemberitaan. Banyak berita-berita yang tak jelas kebenarannya malah digiring menjadi opini publik. Selain itu, karena tuntutan real time news, berita seringkali ditulis dengan terburu-buru dan referensi ala kadarnya.
Kondisi tersebut juga terjadi dalam pemberitaan ekonomi. Banyak pengamat yang tidak berkompeten malah sering dijadikan narasumber. Diperparah lagi dengan banyaknya media settingan dan pakar yang menjadi pendukung satu pihak tertentu.
Hal itu dikatakan oleh Pemimpin Redaksi Warta Ekonomi, M Ihsan saat menjadi pemateri dalam pelatihan wartawan ekonomi yang diadakan Bank Indonesia bagi wartawan di wilayah Sumatera Bagian Tengah (Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Barat dan Jambi), Selasa (24/11) di Bintan Lagoon Resort, Kepri.
Pihak media, katanya, seharusnya melakukan pemetaan nara sumber. Untuk pemberitaan ekonomi, pemetaan nara sumber di antaranya berdasarkan regulator (pihak BI), lembaga terkait (OJK, Kemenkeu, Menko Ekenomi dan DPR terutama Komisi XI) serta stakeholder seperti pelaku ekonomi, asosiasi, pengamat yang memiliki otoritatif.
Akibat dari pengamat-pengamat yang tidak berkompeten itu, masyarakat seringkali dibingungkan. Contohnya, saat yang satu bilang ekonomi Indonesia saat ini membaik, pengamat yang lainnya malah berkata kondisi ekonomi Indonesia memburuk.
Solusi dari persoalan-persoalaan di atas antara lain dengan melakukan sertifikasi wartawan, workshop terarah dan memberikan manual book pada wartawan ekonomi. Selain itu, sebagai media mainstream, seharusnya media tetap menjaga keobjektifannya serta menulis dengan hati nurani.
M Ihsan pada kesempatan itu juga mengatakan, menulis berita ekonomi seharusnya tetap berdasarkan data, narasumber yang otoritatif dan tetap menerapkan pola penulisan 5W 1H. Ada beberapa kesalahan yang sering dibuat wartawan dalam menulis berita ekonomi seperti membuat perbandingan yang terlalu jauh (contoh membandingkan ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat), menggunakan jargon-jargon yang bisa membingungkan masyarakat seperti QE, yoy (year to year) dan lain-lain. Selain itu, wartawan sering menuliskan angka dalam nominal yang begitu banyak padahal seharusnya bisa disederhakan dan dibuat menjadi fun dengan menggunakan perbandingan atau membulatkan angka. (rin)






