PADANG – Bermaksud membuat closing statement yang indah dalam dialog ‘Membedah visi misi Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar 2015-2020’, Cawagub Sumbar nomor urut satu, Fauzi Bahar malah kena ‘semprit’ Ketua Bawaslu Sumbar, Eliyanti.
Dalam Dialog yang diadakan Forum Editor Sumatera Barat (FEds) bekerja sama dengan KPU Sumbar seri IV yang diadakan di convention hall Universitas Andalas, Padang, Rabu (18/11), masing-masing Paslon diminta membuat closing statement oleh host Khairul Jasmi.
Fauzi Bahar (FB) di akhir statementnya memberikan sebuah pantun. Dua kalimat terakhir pantun tersebut berbunyi, “Mari kita tinggalkan gubernur yang satu partai, karena tidak adil bagi jawi..”. Bagi jawi dimaksud adalah bagi-bagi sapi yang merupakan program unggulan Irwan Prayitno semasa menjabat sebagai Gubernur Sumbar 2010-2015.
FB sebelum mengeluarkan pantun tersebut sudah menyatakan tidak bermaksud berkampanye karena tidak akan menyinggung nomor urut. Namun, ternyata, Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sumbar, Eliyanti yang hadir pada acara tersebut menegur FB.
Eliyanti sebelumnya telah menegaskan larangan berkampanye di beberapa tempat, yakni di tempat ibadah, sarana pendidikan, sarana kesehatan dan sarana prasarana pemerintah. Termasuk di kampus Unand tempat diadakannya acara.
Eliyanti juga menegaskan komitmen Bawaslu untuk mengawasi jalannya Pilkada serentak 2015 agar berjalan lancar dan sesuai aturan. “Filosofinya pengawas itu mengawasi. Karena itu, Bawaslu seperti wasit garis. Namun, ketika dikatakan itu pelanggaran, Bawaslu juga tidak bisa langsung mengklaim itu pelanggaran, ada prosedur yang harus dijalani untuk menentukan sebuah pelanggaran.
“Pelanggaran juga ada beberapa, ada yang namanya pelanggaran administrasi, ada pelanggaran kode etik dan ada pelanggaran pidana,” katanya.
Dalam masa tahapan Pilkada 2015 ini, Bawaslu Sumbar sudah menemukan dan menerima laporan masyarakat terkait pelanggaran administrasi sebanyak 83 buah, pelanggaran kode etik 10 dan pelanggaran pidana 2. Namun, untuk pelanggaran pidana telah dikembalikan oleh polisi karena dianggap tak memenuhi syarat.
Untuk sisa waktu menjelang hari H Pilkada tanggal 9 Desember 2015, Eliyanti berharap semua pihak dapat menjaga terciptanya Pilkada yang berkualitas. Ia juga minta masyarakat sama-sama mengawasi akan adanya black campaign dan money politic. Untuk money politic, termasuk pemberian sovenir dengan harga 25 ribu ke atas. (rin)






