
PADANG – Laju inflasi Sumatera Barat pada triwulan III tahun 2017 tercatat sebesar 2,33 persen (year on year/yoy). Kondisi ini tercatat lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang sebesar 5,00 persen (yoy) dan mencatatkan Sumatera Barat sebagai daerah dengan laju inflasi terendah se Sumatera dan terendah ke empat secara nasional.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Sumatera Barat Endy Dwi Tjahjono mengungkapkan, terjaganya kecukupan pasokan bahan makanan menjadi faktor utama meredanya inflasi pada triwulan III.
“Terjaganya pasokan bahan makanan menjadi faktor utama meredanya tekanan inflasi pada triwulan III tahun ini,” ungkap Endy, Kamis (21/12).
Secara bulanan, dia mengungkapkan, pada November 2017 inflasi Sumatera Barat tercatat 1,33 persen. Sedangkan secara tahun berjalan (year to date/ytd) dari Januari hingga September 2017, inflasi Sumatera Barat tercatat 0,66 persen. Akhir tahun 2017, inflasi Sumatera Barat diprediksi berada pada kisaran 2,2 persen hingga 2,6 persen atau lebih rendah dari tahun lalu yang mencapai 4,89 persen (yoy).
“Inflasi akhir tahun 2017 dibayangi risiko kenaikan harga bahan makanan strategis (khususnya cabai merah) karena terganggunya produksi akibat meningkatnya intensitas curah hujan,” terangnya.
Endy menambahkan, laju inflasi yang rendah dan stabil akan berdampak kepada penguatan daya beli masyarakat sehingga berimbas positif kepada kinerja perekonomian. Ekonomi Sumatera Barat tahun 2017 membaik dan tumbuh moderat pada kisaran 5,1 – 5,5 persen (yoy).
Sumber penopang kinerja perekonomian selama tahun 2017 diperkirakan berasal dari penguatan konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan ekspor luar negeri. Sedangkan secara sektoral, pertumbuhan terjadi karena adanya perbaikan kinerja pertanian dan perdagangan. (feb)






