
PADANG – Kantor Perwakilan Bank Indonesia wilayah Sumatera Barat memperkirakan kebutuhan uang kartal selama musim libur akhir tahun 2017 dan tahun baru 2018 di Sumatera Barat sebesar Rp886 miliar. Prediksi ini naik sekitar 3,6 persen dari kebutuhan tahun 2016 lalu yang sebesar Rp856 miliar.
Kepala KPW Bank Indonesia wilayah Sumatera Barat Endy Dwi Tjahjono kepada wartawan, Jumat (15/12) menyebutkan, kenaikan proyeksi itu sesuai dengan data uang kartal yang beredar untuk mendukung aktifitas ekonomi masyarakat. Endy mengaku, pihaknya telah mengantisipasi kebutuhan transaksi tunai perbankan dan masyarakat khususnya terkait dengan kebutuhan uang Rupiah pecahan baru.
“Berdasarkan pengamatan kami melalui siklus tahunan, kami memperkirakan kebutuhan uang tunai menjelang akhir tahun dan tahun baru di Sumatera Barat sekitar Rp886 miliar, naik sekitar 3,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu,” katanya.
Dia menegaskan, stok persediaan uang tunai di KPW BI Sumatera Barat lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan uang kartal tersebut. Uang kartal tersedia saat ini menurutnya sekitar Rp2 triliun atau 230 persen.
Perkiraan kebutuhan uang kartal tersebut terdiri dari untuk memenuhi kebutuhan perbankan sebesar Rp786 miliar, kas titipan sebesar Rp54 miliar serta kas khusus Sungai Penuh disediakan sebesar Rp40 miliar. Uang Pecahan Besar (UPB) disediakan sebanyak Rp846 miliar yaitu uang pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu. Sementara untuk Uang Pecahan Kecil (UPK), mulai dari pecahan Rp1000 sampai pecahan Rp20 ribu disediakan sebanyak 40,3 miliar.
“Untuk masyarakat yang langsung melakukan penukaran ke kantor perwakilan disediakan sebesar Rp5,6 miliar,” ujarnya.
Untuk meningkatkan peredaran uang layak edar ke masyarakat dan untuk memenuhi kebutuhan uang baru selama musim libur akhir tahun dan tahun baru, Endy menyebutkan pihaknya juga meningkatkan intensitas pelayanan kas keliling. Pelayanan kas keliling antara lain akan dibuka di kantor lama Bank Indonesia di kawasan Pondok, Pasar Raya Padang, Pasar Bandar Buat dan Pasar Siteba.
Dia meminta, lembaga perbankan yang ada agar menjaga ketersediaan uang tunai di seluruh ATM agar kebutuhan masyarakat terpenuhi. Untuk memudahkan pelayanan penukaran uang, ia juga mengimbau masyarakat agar sebaiknya menggunakan uang pecahan besar atau melalui transaksi non tunai.
Kemudian yang paling diingatkan adalah agar masyarakat melakukan penukaran uang di tempat-tempat resmi seperti di bank atau langsung ke Bank Indonesia, tidak pada tempat yang tidak resmi seperti penukaran di pinggir jalan.
“Penukaran tidak pada tempat yang resmi disamping kena biaya tambahan juga rentan terhadap berbagai resiko terutama masalah uang palsu. Jadi, untuk bertransaksi harus selalu hati-hati,” lanjutnya.
Terkait uang palsu, sampai triwulan ketiga tahun ini telah ditemukan 345 lembar uang palsu dari berbagai pecahan, didominasi oleh nominal pecahan besar. Jumlah ini menurun dibanding tahun lalu yang sebanyak 754 lembar uang palsu.
“Dari temuan itu belum ditemukan uang palsu untuk uang Rupiah emisi baru. Semua uang palsu masih memalsukan uang emisi lama,” tandasnya. (feb)






