Ridwansyah Yusuf Achmad Sandang Gelar Datuk Tumangguang Putiah
  • Home
  • Agam
  • Ridwansyah Yusuf Achmad Sandang Gelar Datuk Tumangguang Putiah

Ridwansyah Yusuf Achmad Sandang Gelar Datuk Tumangguang Putiah

Datuk bersama salah seorang bakonya Buchari Bachter

AGAM- Setelah “talipek” (tersimpan) beberapa waktu, gelar pimpinan kaum Suku Koto Sungai Pua Kabupetan Agam Datuak Tumangguang Putiah kembali dilewakan. Dalam rangka “mambangkik batang tarandam” ini, Ridwansyah Yusuf Achmad, salah seorang pemuda anak kemenakan dari kaum Suku Koto diamanahkan menyandang gelar datuak yang telah terlipat sekian lama tersebut.

Prosesi Malewa gelar adat Datuak Tumangguang Putiah kepada Ridwansyah tersebut digelar di rumah gadang kaum Suku Koto Nagari Sungai Pua di Jorong Kapalo Koto Nagari Sungai Pua Kecamatan Sungai Pua Kabupaten Agam, Kamis(15/10). Prosesi ini dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat termasuk mantan gubernur Sumatera Barat 2010-2015 Irwan Prayitno dan mantan bupati Agam 2010-2015 Indra Catri.

Irwan Prayitno melihat, sosok Ridwansyah yang masih sangat muda dalam usia tetapi memiliki prestasi yang luar biasa. Dengan berbagai jabatan yang disandangnya menunjukkan bahwa kaum Suku Koto tidak salah mempercayakannya sebagai pucuk pimpinan kaum. “Perjalanan karier dan berbagai jabatan yang diamanahkan kepadanya menunjukkan bakat kepemimpinan yang luar biasa dalam diri Ridwansyah,” tutur Irwan.

Salah seorang Ninik Mamak Nagari Koto Sungai Pua, Wilman Datuak Tumangguang Kayo mengungkapkan, dalam diri Ridwansyah memang sudah terlihat jiwa kepemimpinan sejak kecil. ” Jadi, mempercayakannya Ridwansyah menjadi datuk sudah merupakan keputusan yang tepat,” ujarnya.

Ia menambahkan, untuk memegang gelar Datuak Tumangguang Putiah sudah dilakukan seleksi terhadap sekitar 80 orang anak kemenakan yang berhak menyandang gelar tersebut. Setelah melalui pertimbangan maka Ridwansyah diamanahkan sebagai yang didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting memangku gelar yang sudah terlipat tersebut.

Ridwansyah yang diamanahkan memangku gelar adat tersebut mengungkapkan, ia sangat menyadari bahwa menjadi seorang pemimpin kaum adalah suatu tanggung jawab berat namun sebagai anak kemenakan yang harus melanjutkan regenerasi kepemimpinan adat, tanggungjawab yang dibebankan tersebut harus diemban dengan segala konsekwensi.

Pria lulusan Master of Arts (M.A.) in Development Studies: Program Studi Governance, Policy, and Political Economy, International Institute of Social Studies Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda dengan IPK 80/100 (B+) ini sadar bahwa ia mengemban amanah seumur hidup sebagai pucuk yang dituakan untuk memimpin kaumnya.

“Ini bukan amanah empat atau lima tahun, namun seumur hidup. Sebagai yang dituakan nantinya, saya punya 300 keluarga besar yang harus saya perhatikan,” tuturnya.

Menurutnya, keluarga besar Suku Koto Sungai Pua selain yang berada di kampung halaman juga merantau ke berbagai daerah seperti di Medan, Jakarta, Surabaya dan banyak kota lainnya di Indonesia. Dimanapun mereka berada, sebagai pucuk pimpinan kaum harus tetap memberikan perhatian yang adil kepada seluruh anak kemenakan tanpa membeda-bedakannya.

Saat ini, suami dari Echa (26) yang sudah dikaruniai satu anak ini memegang beberapa jabatan penting antara lain sebagai Direktur Utama di PT Danakirti Jagaddhita International, Direktur Riset Indonesia Strategic Institute (INSTRAT) dan sebagai External Adviser di International Relation Walikota Bandung Ridwan Kamil.

Meski dengan banyak jabatan dan kesibukan yang padat, Ridwansyah berjanji akan menjalankan amanah sebagai seorang penghulu kaum sebaik-baiknya. Untuk memudahkan urusan anak kemenakan di kampung, atas kesepakatan ninik mamak ia akan menunjuk Panungkek adat untuk membantu melaksanakan tugas kepenghuluan nantinya. (*)

Berita Terkait

1 Komentar
  • Sebagai tante kecilnya, saya bangga dan senang ada yg bisa mneruskan adat ranah minang kami. Dan menyesal tidak bisa dapat hadir dikarenakan masih ada urusan yg mendesak di kantor.

  • Leave a Reply