
AGAM – Pencemaran yang terjadi di Danau Maninjau, Kabupaten Agam, berdampak luas kepada sektor perekonomian masyarakat. Tidak hanya nelayan tradisional, pedagang makanan pun terpaksa gulung tikar karena pasokan bahan baku makanan olahan menjadi sangat langka.
Sejumlah pedagang makanan yang menjual makanan olahan serba ikan danau di sepanjang jalan raya Lubuk Basung – Maninjau mengakui terpaksa gulung tikar karena bahan baku utama dagangan mereka semakin langka. Bahan baku yang mereka maksud antara lain ikan rinuak dan pensi (sejenis kerang yang hidup di Danau Maninjau, red).
Kondisi itu diakui Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Agam, Ermanto. Sebagian besar pedagang tersebut merupakan pedagang binaan DPKP Kabupaten Agam.
“Memang sudah banyak pedagang yang terpaksa tutup karena kesulitan bahan baku. Bahkan, Ikan Rinuak nyaris menghilang dari danau,” ungkapnya, Rabu (9/8).
Farida, salah seorang pedagang makanan olahan menceritakan, sejak kelangkaan bahan baku, banyak pedagang yang tutup. Bagi yang masih bertahan, mencoba mencari bahan baku alternatif seperti ikan teri yang diolah menjadi palai bada (pepes ikan teri, red).
“Memang tidak selaris palai ikan rinuak namun masih ada pembeli. Kalau ada yang menanyakan, kadang sambil berseloroh saya katakan ikan rinuak-nya lagi merantau,” ujarnya.
Palai bada dijual dengan harga Rp2.500 per bungkus. Sedangkan untuk makanan olahan Bada Asap dijual dengan harga Rp350 ribu per kilogram dan ikan nila asap dijual Rp100 ribu per kilogram.
“Harganya tergolong mahal namun masih ada pelanggan yang berminat. Karena modal tinggi, persediaan juga tidak banyak,” tandasnya. (fajar)






