JAKARTA – Sejalan dengan optimisme Presiden RI Joko Widodo terhadap perekonomian Indonesia, Gubernur Bank Indonesia Agus D Martowardoyo juga menyampaikan prospek ekonomi Indonesia di tahun 2017 yang diperkirakan masih kondusif. Pertumbuhan ekonomi 2017 diperkirakan berada pada rentang 5,0-5,4 persen, terutama ditopang permintaan domestik.
“Inflasi akan berada pada kisaran targetnya, yaitu 4,0+1 persen, dengan pertumbuhan kredit dalam kisaran 10-12 persen dan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada kisaran 9-11 persen,” kata Agus dalam pertemuan tahunan Bank Indonesia dalam siaran pers di situs resmi Bank Indonesia, Selasa (22/11).
Adapun defisit transaksi berjalan diperkirakan sedikit meningkat, namun Agus optimis masih tetap berada pada level yang sehat di bawah 3 persen dari PDB.
Dalam jangka menengah, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh lebih tinggi karena ditopang struktur ekonomi yang lebih kuat dan berkualitas. Dengan landasan tersebut, pertumbuhan ekonomi pada periode 2018-2021 diperkirakan berada pada lintasan yang meningkat hingga mencapai kisaran 5,9-6,3 persen pada 2021.
“Ini ditopang oleh inflasi yang rendah dan terkendali serta defisit transaksi berjalan yang berada pada lintasan menurun di bawah 3 persen,” tandasnya.
Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2016 mengambil tema “Mengoptimalkan Potensi, Memperkuat Resiliensi”. Pertemuan tahunan tersebut dihadiri pula oleh pimpinan lembaga negara, menteri kabinet kerja, pimpinan lembaga pemerintah, pimpinan DPR-RI, para gubernur kepala daerah, pimpinan perbankan dan korporasi nonbank, akademisi, pengamat ekonomi, serta perwakilan sejumlah lembaga internasional. (feb/*)






