SAWAHLUNTO – Kesenian tradisi khas suku Minangkabau, randai memeriahkan perayaan lebaran Idul Fitri 1437 Hijriyah di Lapangan Segitiga (Lapseg) Ombilin Kota Sawahlunto, Jumat (8/7) malam. Group randai Ranah Sakato dari Desa Salak Kecamatan Talawi yang tampil malam tadi menampilkan kisah “Lareh Simawang”.
Penampilan grup yang merupakan jawara pada festival randai Kota Sawahlunto itu tersebut sangat menghibur perantau yang sengaja berkunjung ke taman pusat kota itu. Seorang pengunjung perantau dari Merangin, Jambi Hermansyah (49) mengaku sangat senang dengan penampilan kesenian tradisional selama libur lebaran di kota itu.
“Tadi sore kami menyaksikan kesenian kuda lumping di Lapseg ini. Malam ini ada kesenian Randai yang sudah lama tak kami tonton,” kata Hermansyah di sela-sela pentas seni itu.
Dia menambahkan, pentas seni tersebut sangat menghibur pengunjung yang datang sambil menikmati kuliner bersama keluarga. “Lagi pula, parkir kendaraan di Lapseg ini gratis dan nyaman untuk bersantai malam,” ungkap Hermansyah.
Pada kesempatan itu, Ketua group Randai Ranah Sakato Syamsuardi mengaku sangat bangga dapat menghibur para pengunjung, terlebih perantau yang datang di malam pentas seni di Lapseg Ombilin.
“Kita sengaja membawakan kisah “Lareh Simawang” yang menceritakan tentang penyesalan seorang suami yang tak jujur ingin beristri dua dan tega menelantarkan keluarga. Tekad Lareh Simawang beristri dua tak surut karena kepada calon istri keduanya, ia mengaku belum punya istri,” ceritanya.
Tragisnya, jelas Syamsuardi, di saat perhelatan pernikahan, istri pertama beserta kedua anaknya memilih bunuh diri akibat tak tahan dan tidak sanggup menahan penderitaan hidup. Di saat Lareh Simawang menjenguk istri pertama dan kedua anaknya yang sudah terbujur kaku, ia mendengar kabar bahwa calon istri keduanya juga mengakhiri penyesalan dengan bunuh diri. Di akhir kisah, Lareh Simawang tak tahan menghadapi kondisi yang sangat pilu dan rasa penyesalan yang tak ada gunanya lagi, sehingga membuatnya menjadi gila. (tumpak)







