PAINAN- Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Komisi VIII dari daerah pemilihan Sumatera Barat (Sumbar), Lisda Hendrajoni menyampaikan bahwa proses belajar tidak hanya menjadi tanggung jawab anak-anak saja, tetapi juga harus terus dijalani oleh orang tua khusunya perempuan.
Hal itu disampaikan Lisda saat menggelar kegiatan NGOPI ( Ngobrol Pendidikan Islam) Kolaborasi, dengan tema “Perempuan Tangguh, Pemuda Hebat: Kolaborasi Membangun Generasi Berkarakter, Cerdas Digital dan Siap Menghadapi Masa Depan, yang berlangsung di salah satu hotel di Kecamatan IV Jurai Kabupaten Pesisir Selatan, Minggu (11/10/2026).
Lisda mengungkapkan ibu memiliki peran strategis dalam keluarga, bukan hanya sebagai pendamping suami, tetapi juga sebagai pendidik pertama bagi anak-anaknya.
“Tidak harus anak-anak saja yang belajar, emak-emak juga harus belajar. Perempuan itu harus dikuatkan dalam berbagai aspek kehidupan berumah tangga, karena nantinya akan menjadi ibu, menjadi guru, dan memiliki banyak peran lainnya,” ujar Lisda.
Ia menilai, tantangan mendidik anak saat ini semakin kompleks. Perkembangan teknologi dan penggunaan telepon pintar telah mengubah pola komunikasi, interaksi sosial, hingga cara anak-anak memperoleh informasi. Di tengah kemudahan tersebut, menurut Lisda, orang tua dituntut semakin adaptif agar tidak tertinggal dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Ia juga menyoroti persoalan etika anak yang perlu menjadi perhatian bersama. Menurutnya, pendidikan karakter harus dimulai dari lingkungan keluarga, dengan orang tua memberikan teladan sekaligus pendampingan yang sesuai dengan perkembangan usia anak.
Lisda juga mengingatkan agar kemajuan teknologi tidak membuat keluarga kehilangan arah dalam pendidikan agama. Kehadiran berbagai platform digital, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dapat dimanfaatkan untuk memperoleh informasi dan mencari solusi atas berbagai persoalan. Namun, penggunaannya tetap membutuhkan kebijaksanaan.
Ia mengajak perempuan, pemuda, dan masyarakat untuk menjadikan telepon pintar sebagai sarana produktif, mulai dari mengembangkan kreativitas, membuat konten edukatif, hingga memanfaatkan media sosial untuk kegiatan yang bermanfaat.
Lebih jauh, Lisda mendorong organisasi kemasyarakatan untuk mengambil bagian dalam membangun generasi yang berkualitas. Menurutnya, pendidikan tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan keluarga.
Ia mencontohkan pembangunan dan pengembangan madrasah yang membutuhkan dukungan berbagai pihak, baik melalui bantuan sarana maupun kontribusi lainnya.
“Kalau kita berbicara tentang madrasah, kita semua harus berkolaborasi. Ada yang bisa membantu pembangunan, ada yang bisa berkontribusi dalam bidang lain. Yang jelas, pemerintah sangat memperhatikan dunia pendidikan,” ucapnya.
Kegiatan NGOPI tersebut juga menjadi ruang dialog bagi peserta untuk menyampaikan aspirasi dan persoalan yang berkaitan dengan pendidikan Islam, termasuk berbagai kendala yang dihadapi masyarakat dalam mengakses pendidikan berbasis agama.
Panitia pelaksana, Dr. Jum Anidar mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian NGOPI yang masih akan dilanjutkan di sejumlah titik di Kabupaten Pesisir Selatan.
“Di Pesisir Selatan masih ada tiga titik lagi yang akan kita laksanakan. Kegiatan ini tidak bisa dilakukan secara bersamaan karena menyesuaikan situasi, kondisi, dan kesibukan Ibu Lisda Hendrajoni,” ujarnya.
Ia menyebut, kegiatan berikutnya direncanakan berlangsung pada November mendatang melalui kerja sama dengan Kementerian Agama serta melibatkan organisasi kemasyarakatan lainnya. Sejumlah perwakilan Kemenag juga hadir dalam kegiatan tersebut. Jum Anidar berharap forum NGOPI tidak sekadar menjadi agenda pertemuan, tetapi benar-benar menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan persoalan dan usulan yang membutuhkan perhatian di tingkat pusat. MIL







