Sawahlunto Butuh Data Lebih Lanjut Soal Batu Nisan Orang Rantai
  • Home
  • Berita
  • Sawahlunto Butuh Data Lebih Lanjut Soal Batu Nisan Orang Rantai

Sawahlunto Butuh Data Lebih Lanjut Soal Batu Nisan Orang Rantai

Batu nisan orang rantai di Sawahlunto. (foto: tumpak)
SAWAHLUNTO – Sejarah tentang orang rantai di Sawahlunto yang pernah hidup pada zaman kolonial Belanda masih membutuhkan data serta statistik yang pasti. Saat ini, sudah ditemukan sejumlah batu nisan bernomor yang diyakini sebagai identitas kuburan orang rantai tersebut.
Nisan Orang Rantai yang bernomor itu adalah batu nisan dari kuburan orang rantai yang dipekerjakan sebegai buruh tambang di pertambangan batubara di Kota Sawahlunto pada masa Pemerintahan Kolonial. Namun, nisan
orang rantai sebagai salah satu bukti peninggalan sejarah di Kota Sawahlunto sudah banyak yang hilang.
“Kita sangat butuh sejarah serta nama orang rantai yang hanya ditandai nomor pada batu nisan yang terdapat di perkuburan Air Dingin. Kita juga butuh orang yang bisa memfasilitasi ke pusat informasi atau dokumentasi yang ada di Belanda untuk mencari tahu lebih lanjut tentang data tersebut,” pinta tokoh masyarakat Kota Sawahlunto, Alamsyah Halim pada temu ramah Walikota Sawahlunto dengan Dosen Leiden University Belanda, Suryadi Sanuri di rumah dinas Walikota, kemarin malam.
Pada pertemuan yang juga dihadiri Wawako Ismed dan komunitas masyarakat kawasan kota tua itu, ia menyatakan pentingnya data batu nisan tersebut. Hal itu penting agar sejarah tambang dengan orang rantainya lebih jelas dan terbuka.
“Apalagi, kita tahu banyak orang datang ke Sawahlunto hanya karena ingin melihat kota tempat leluhurnya pernah kerja paksa di tambang Sawahlunto,” ungkap pria yang puluhan tahun menjadi wartawan di kota tambang itu.
Menjawab tantangan tersebut, Suryadi menyanggupi untuk mencari data dan informasi tentang orang rantai tersebut. “Kita tahu kerajaan Belanda sangat lengkap data dan informasi bahkan dilengkapi statistik dan dokumentasi terkait Indonesia. Informasi tentang Sumatera Barat dan Kota Sawahlunto diyakini masih ada di sana,” sebutnya.
Pria kelahiran Pariaman 15 Februari 1965 itu menambahkan, Leiden adalah salah satu tempat penyimpanan banyak buku dan arsip mengenai Indonesia. Di kalangan ilmuwan sosial dan humaniora, Leiden disebut sebagai ‘The Mecca of Indonesian Studies’ karena kekayaan kepustakaan dari dua perpustakaan di kota itu. Perpustakaannya sangat penuh dengan berbagai buku, naskah, brosur, pamflet, majalah dan koran tua, sketsa, peta, surat-surat, foto, rekaman audio-visual dan lainnya yang terkait dengan masa lalu dan masa kini Indonesia, sebutnya.
Terkait Orang Rantai yang ia ketahui, merupakan narapidana yang dijatuhi hukuman pidana kurungan yang masa kurungannya lebih dari lima tahun. Di antara mereka terdapat narapidana politik, pelaku tindak kriminal, dan lainnya.
Orang rantai atau orang hukuman ini biasanya dipekerjakan  oleh Pemerintah Hindia Belanda pada proyek-proyek besar pemerintah, seperti proyek pembangunan jalan di Sumatera Timur, proyek tambang batubara di Sawahlunto Sumatera Barat (Sumatera Westkust) dan proyek vital lainnya. (tumpak)

Berita Terkait

Leave a Reply