PADANG- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kinerja perbankan di Sumatera Barat pada triwulan pertama tahun 2026 cukuppositif. Total nilai aset perbankan tumbuh sebesar 3,77 persen year on year (yoy).
Kepala Perwakilan OJK Sumatera Barat Roni Nazra mengungkapkan, triwulan pertama tahun 2026, perbankan di daerah itu telah berhasil membukukan total aset sebesar Rp86,74 triliun, naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp83,59 triliun.
“Total aset perbankan di Sumatera Barat pada posisi Maret tahun 2026 adalah sebesar 86,74 triliun, tumbuh 3,77 persen dari posisi yang sama tahun sebelumnya,” kata Roni, Jumat (22/5/2026).
Dia memaparkan, secara tahun berjalan (year to date/ytd), aset perbankan tumbuh dibanding posisi Desember 2025 yang baru mencatatkan total aset perbankan sebesar Rp85,371 triliun.

Dari sisi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), hingga Maret 2026, kinerja perbankan Sumatera Barat menurut Roni tumbuh 9,24 persen (yoy). Pada posisi yang sama tahun sebelumnya, DPK perbankan Sumatera Barat berada di angka Rp57,602 triliun sementara pada Maret 2026 mencapai Rp62,924 triliun.
“Sedangkan secara tahun berjalan, penghimpunan DPK perbankan juga tumbuh di mana pada posisi Desember 2025 baru mencapai Rp58,977 triliun atau 5,09 persen,” papar Roni.
Sementara itu, Roni menyebut untuk penyaluran kredit atau pembiayaan perbankan tumbuh sebesar 2,98 persen yoy. Pada posisi Maret 2025 total penyaluran kredit atau pembiayaan perbankan adalah sebesar Rp73,312 triliun, naik menjadi Rp75,497 triliun pada Maret 2026.
Roni menambahkan, dari sisi risiko kredit masih terjaga dengan rasio non-performing loan (NPL) 2,78 persen (yoy) dengan nominal Rp2,096 triliun. Meskipun, risiko tersebut menunjukkan sedikit peningkatan dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,839 triliun atau 2,51 persen (yoy).
Ia mengurai, dari total kredit tersebut, penyaluran kredit untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terkontraksi sebesar 2,08 persen (yoy). Total penyaluran kredit UMKM adalah sebesar Rp30,87 triliun atau 40,89 persen, sedangkan pada posisi yang sama tahun sebelumnya adalah Rp31,570 triliun.
Sedangkan penyaluran kredit atau pembiayaan untuk non-UMKM pada posisi Maret 2026 mencapai Rp44,624 triliun atau tumbuh sebesar 6,80 persen (yoy). Posisi yang sama tahun 2025, kredit non-UMKM berada di angka Rp41,782 triliun.
Sementara itu, untuk Loan to Deposite Ratio (LDR) turun dari 127,27 persen pada posisi yang sama tahun sebelumnya menjadi 119,98 persen pada posisi Maret 2026,” tandas Roni.
Ia mengulas, sektor jasa keuangan Sumatera Barat tetap tumbuh solid dan berperan penting dalam mendukung aktivitas ekonomi daerah. Hal itu sejalan dengan pertumbuhan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumatera Barat triwulan I yang sebesar 5,02 persen (yoy) yang menunjukkan keberlanjutan pemulihan dan pembangunan ekonomi daerah. F







