Sumbar Inflasi Pada Februari 2026, BI-TPID Intensifkan Operasi Pasar dan GPM
  • Home
  • Berita
  • Sumbar Inflasi Pada Februari 2026, BI-TPID Intensifkan Operasi Pasar dan GPM

Sumbar Inflasi Pada Februari 2026, BI-TPID Intensifkan Operasi Pasar dan GPM

Majid BI Sumbar
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat M. Abdul Majid Ikram. (*)

PADANG- Bank Indonesia Bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Barat terus melakukan intensifikasi operasi pasar dan Gerakan pangan murah (GPM) sejak awal tahun 2026. Upaya tersebut merupakan salah satu langkah dalam pengendalian inflasi agar tetap stabil pada rentang sesuai target.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat Mohamad Abdul Majid Ikram menyebutkan, pada Februari 2026 Sumatera Barat mengalami inflasi 0,31 persen month to month (mtm). Meskipun lebih rendah dibanding inflasi nasional yang sebesar 0,68 persen mtm namun angka tersebut lebih tinggi dibanding Januari 2026 yang mengalami deflasi -1,15 persen mtm.

Majid menyebut, lebih rendahnya realisasi inflasi Sumatera Barat didorong deflasi pada sejumlah komoditas khususnya cabai rawit, bawang merah, telur ayam ras, serta beras.

“Penurunan harga komoditas tersebut ditopang oleh masifnya pelaksanaan serangkaian intervensi yang dilakukan TPID bersama mitra terkait baik melalui operasi pasar maupun pelaksanaan Gerakan Pasar Murah (GPM),” kata Majid, Selasa (3/3/2026).

Dia menerangkan, peningkatan inflasi pada Februari 2026 dipengaruhi penurunan produksi pangan di tengah peningkatan permintaan sejalan dengan momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) bulan Ramadan, berlanjutnya kenaikan harga emas perhiasan, serta berakhirnya diskon tarif PAM di bulan Januari.

Menurut Majd, komoditas pangan utama yang mendorong kenaikan inflasi adalah cabai merah, daging ayam ras, dan jengkol. Peningkatan harga cabai merah terjadi seiring dengan peningkatan permintaan di tengah penurunan pasokan. Komoditas cabai merah mengalami inflasi 14,54 persen (mtm), dipengaruhi penurunan produksi di daerah sentra khususnya di Pulau Jawa dan Lombok imbas tingginya intensitas hujan.

Kenaikan inflasi pangan lebih tinggi tertahan oleh deflasi cabai rawit, bawang merah, kangkung, telur ayam ras, bayam, dan beras. Terjaganya pasokan cabai rawit, bawang merah dan telur ayam ras menjadi salah satu faktor penyebab relatif rendahnya inflasi Sumbar dibandingkan nasional.

“Sementara deflasi beras didukung oleh serangkaian kegiatan TPID baik dalam rangka menjaga pasokan, operasi pasar, maupun mendorong diversifikasi konsumsi jenis beras oleh masyarakat,” ujarnya.

Majid mengurai, secara spasial, seluruh kabupaten/kota perhitungan IHK pada Februari 2026 mengalami inflasi kecuali di Kabupaten Pasaman Barat. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Dharmasraya sebesar 0,85 persen mtm dan terendah di Kota Padang 0,32 persen mtm. Sementara di Kota Bukittinggi terjadi inflasi 0,50 persen mtm. Sebaliknya di Kabupaten Pasaman Barat melanjutkan deflasi -0,13 persen mtm setelah sebelumnya mencatatkan deflasi dalam sebesar -1,84 persen mtm.

Dengan kondisi tersebut, inflasi Provinsi Sumatera Barat pada Februari 2026 meningkat secara tahunan yaitu 4,39 persen year to year (yoy), meningkat dari bulan Januari yang sebesar 3,92 persen yoy. Peningkatan inflasi tahunan bulan Februari dipengaruhi faktor low-base effect penerapan diskon tarif listrik yang berlaku hingga Februari 2025. Secara tahunan tarif listrik mengalami kenaikan 96,51 persen yoy.

Komoditas lainnya yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan bulan Februari diantaranya emas perhiasan (77,44% persen yoy, daging ayam ras (19,72 persen yoy), beras (4,38 persen yoy), dan mobil (8,41 persen yoy).

Ke depan, inflasi tahunan Sumatera Barat diperkirakan akan terus menurun dan mencapai rentang target inflasi 2,5 persen + 1 persen. Selain dipengaruhi oleh berakhirnya faktor low base effect diskon tarif listrik, juga ditopang membaiknya pasokan seiring masa panen dan membaiknya jalur distribusi seiring progress perbaikan infrastruktur jalan.

Meski demikian, lanjutnya, sejumlah risiko masih perlu diperhatikan, antara lain peningkatan permintaan pangan strategis di masa Ramadan dan Idulfitri, rigiditas konsumsi beras masyarakat, potensi aliran pasokan ke luar daerah akibat disparitas harga antarwilayah, berlanjutnya kenaikan harga emas perhiasan dan komoditas global, serta depresiasi nilai tukar rupiah sejalan dengan peningkatan tensi geo-politik global. F

Berita Terkait

Leave a Reply